728 x 90

Hasil Sidak Kedua : Dansektor 21 Satgas Citarum Apresiasi PT Koriester Rancaekek

Hasil Sidak Kedua : Dansektor 21 Satgas Citarum Apresiasi PT Koriester Rancaekek

Rancaekek,  Djakartatoday.com-Perkembangan pembangunan fasilitas IPAL  PT Koriester yang berada di kawasan Sunson, Jl. Raya Rancaekek, Kabupaten Sumedang kembali disidak Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat, Selasa (13/11/2018. Sidak tersebut merupakan yang kedua kalinya, sidak pertama  jajaran Satgas Citarum Sektor 21 digelar Juli 2018 lalu, PT Koriester ini diketahui saat itu belum memiliki IPAL.

Rancaekek,  Djakartatoday.com-Perkembangan pembangunan fasilitas IPAL  PT Koriester yang berada di kawasan Sunson, Jl. Raya Rancaekek, Kabupaten Sumedang kembali disidak Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat, Selasa (13/11/2018.

Sidak tersebut merupakan yang kedua kalinya, sidak pertama  jajaran Satgas Citarum Sektor 21 digelar Juli 2018 lalu, PT Koriester ini diketahui saat itu belum memiliki IPAL.

Limbahnya sendiri saat itu dialirkan ke IPAL PT Central Sandang Prima (CSP) untuk diolah berdasarkan MoU yang dibuat oleh keduanya.

Persoalan mulai muncul saat lubang pembuangan limbah PT CSP   dilokalisir oleh jajaran Satgas Citarum Sektor 21 karena ditemukan telah membuang hasil olahan limbah yang kurang optimal.

PT Koriester yang masuk ke kawasan Sunson dengan cara kontrak, mulai berbenah dengan berinisiatif membangun IPAL mandiri.

Meski cor yang melokalisir lubang pembuangan limbah PT CSP dibuka pada tanggal 1 Oktober 2018 lalu,  dihadiri Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumedang serta elemen masyarakat, namun saluran limbah PT Koriester ke IPAL komunal PT CSP tetap ditutup.

0

Saat pertemuan antara Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat, Direktur PT CSP, Andri, Kabid P2HL DLH Kabupaten Sumedang, Budi, dan perwakilan PT Koriester, Ratmi, disaksikan oleh elemen masyarakat dan awak media, pihak PT CSP menyatakan siap berbagi aliran limbah dari PT Koriester hingga IPAL mandiri PT Koriester tuntas dan mengantongi IPLC.  Namun hingga pengecekan oleh Dansektor, hasil pertemuan tersebut tidak dapat terlaksana untuk alasan tertentu.

“Kita cari solusi, jangan ‘membunuh’, berapa orang yang bekerja disitu. Misalkan karyawannya ada 400, jika rata-rata sudah berkeluarga dan dikalikan tiga, sudah 1.200 orang yang bergantung makan dan bekerja disitu. Tapi juga tidak sembarangan buang limbah,” usul Dansektor kala itu.

“Salasatu contohnya adalah pabrik PT Koriester ini, yang kendala awalnya tidak punya IPAL, kemungkinan pabrik ini ada iming-iming dari teman-temannya hingga bisa buka disini tanpa IPAL. Saya harap setelah ini (pertemuan) bisa dikomunikasikan dengan LH Kabupaten dan Pak Andri (PT CSP) untuk penyaluran limbahnya. Sambil dorong mereka urus perizinan IPAL,” saran Dansektor yang mendapat respon anggukan dari Budi dari DLH Kabupaten Sumedang.

Kini saat dilaksanakan pengecekan oleh Dansektor beserta jajaran, IPAL mandiri PT Koriester tampak telah hampir 100 persen rampung dan sudah trial.

“Peninjauan ke PT Koriester yang ada di Kabupaten Sumedang 4 bulan lalu perusahaan ini kita tutup pembuangan limbahnya, waktu itu tidak punya IPAL. Waktu itu kita lihat PT Koriester ini bekerjasama dengan PT CSP, dengan demikian pengolahan limbahnya disana,” jelas Dansektor.

Dansektor menambahkan seiring waktu, banyak dinamika dilapangan, IPAL perusahaan disebelah tidak mengizinkan lagi limbah PT Koriester dibuang kesana. Sehingga PT Koriester ini membuat IPAL mandiri sekitar 3 bulan ini. Saya dengar dengan biaya yang cukup besar, hingga dua milyar. Namun demikian, apa yang dibangun oleh PT Koriester masih ada kendala, yakni IPLC-nya belum keluar. Saya pikir lebih baik dibuat IPAL-nya dulu, IPLC-nya seiring berjalan. Kita akan dorong.

“Perusahaan ini ada keinginan berbuat untuk lingkungan dengan membuat IPAL, meski IPLC belum keluar. Saya datang kesini, semoga Lingkungan Hidup Kabupaten Sumedang melihat persyaratan-persyaratan yang ada, dan segera keluarkan izin-nya,” tambahnya.

Dansektor menjelaskan, kondisi warna air limbah akhir masih berwarna keruh, sehingga saya memberikan waktu satu minggu lagi untuk PT Koriester agar memperbaiki dan meningkatkannya sesuai dengan standar Satgas Citarum, yakni bening dan ikan hidup didalamnya, pihaknya juga mengapresiasi pihak perusahaan  untuk dapat melakukan IPAL yang sesuai standar tersebut.

Dudy

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos