728 x 90

Film BAZNAS Siap Diputar di Hongkong, Taiwan dan Korsel

Film BAZNAS Siap Diputar di Hongkong, Taiwan dan Korsel
Ketua Umum BAZNAS, Prof Dr Bambang Soedibyo bersama aktor dan artis film "Iman di Pangkuan Sang Fakir".

Jakarta, Djakartatoday.com – Film “Iman di Pangkuan Sang Fakir” hasil Garapan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang mengisahkan tentang perjuangan seorang anak bernama Iman yang berusaha mengatasi kemiskinan yang menjerat diri dan keluarganya dengan segala problematikanya, sudah siap diputar di Hongkong, Taiwan dan Korea Selatan.   “Sudah ada permintaan dari Komunitas Pekerja Migran Indonesia (PPMI)

Jakarta, Djakartatoday.com – Film “Iman di Pangkuan Sang Fakir” hasil Garapan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang mengisahkan tentang perjuangan seorang anak bernama Iman yang berusaha mengatasi kemiskinan yang menjerat diri dan keluarganya dengan segala problematikanya, sudah siap diputar di Hongkong, Taiwan dan Korea Selatan.

 

“Sudah ada permintaan dari Komunitas Pekerja Migran Indonesia (PPMI) di Luar Negeri untuk memutar film ini di Hongkong, Taiwan dan Korea Selatan,” ungkap Dirut BAZNAS, Arifin Purwakananta seusai acara pemutaran perdana (premiere) film kemanusiaan tersebut di Theater 1 Bioskop XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu kemarin (6/2).

Melalui film ini, BAZNAS ingin menggugah semangat masyarakat untuk peduli dengan kondisi kemiskinan yang nyata di lingkungan sekitarnya.

Hadir dalam acara tersebut Ketua BAZNAS, Prof Dr Bambang Sudibyo, MBA, CA, Direktur Utama BAZNAS, Arifin Purwakananta, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama, Fuad Nasar, Ketua DPC Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Wonosobo, Maizidah Salas, Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia, Hamid Abidin, sejumlah undangan dan masyarakat umum yang menonton sambil berinfak.

Film berdurasi 1 jam 38 menit ini diproduksi BAZNAS bersama SBMI Wonosobo, berkisah tentang perjuangan anak bernama Iman dalam menjalani kehidupan serba kekurangan.

Dalam kondisi kehidupan serba sulit, justru banyak yang memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang bukan haknya. Realita kemiskinan terbingkai dalam kisah ini, seperti jeratan rentenir yang membuat kondisi masyarakat miskin makin terpojok.

Bambang Sudibyo mengatakan, zakat bukan hanya soal pemberian bantuan, namun yang lebih penting ialah bagaimana rasa kepedulian terhadap kesulitan sesama ini terus dipupuk.

Sebab kemiskinan yang melanda sebagian masyarakat di negeri ini memang mengkhawatirkan, namun yang sesungguhnya lebih mengkhawatirkan ialah punahnya rasa kepedulian dari si mampu.

“Karena itu BAZNAS terus mengkampanyekan ajakan kebaikan, terus mengajak peran aktif masyarakat dalam permasalahan nyata yang terjadi di sekitar lingkungan mereka,” katanya.

Bambang mengatakan, kemiskinan bukan hanya membutuhkan penanganan secara material, namun juga memerlukan solusi spiritual untuk mendampingi pembangunan manusianya.

Hal ini sesuai dengan syariat zakat yang melengkapi program penanggulangan kemiskinan dengan memberikan dakwah bagi para penerima manfaat.

Sementara itu Maizidah Salas berharap film ini dapat mengingatkan masyarakat kembali untuk tak abai dalam lingkungan kehidupannya.

“Kita perlu terus menanam rasa kepedulian di dalam hati dan menularkannya kepada lingkungan. Sebab banyak hal yang dapat membuat rasa kepedulian itu menjadi terkikis,” katanya.

Realita yang dialami para buruh migran juga menjadi inspirasi dalam cerita ini. Buruh migran menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat yang lekat dengan keterbatasan.

Sedangkan Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama, Fuad Nasar mengapresiasi kehadiran film ini di tengah masyarakat.

“Film ini diharapkan menginspirasi dan menggugah banyak orang untuk meyakini, menghargai dan berbuat sesuatu dalam kehidupan kemanusiaan.

Sekilas saya menangkap film ini bercerita tentang pejuang-pejuang kehidupan yang ada di sekitar kita,” katanya.

Sementara itu Dirut BAZNAS Arifin Purwakananta yang sekaligus merupakan produser eksekutif Film “Iman di Pangkuan Sang Fakir” mengatakan, film ini dibuat dengan mengangkat realita yang terjadi, untuk menanamkan kepedulian pada persoalan kemanusiaan.

“Film ini akan diputar secara independen oleh BAZNAS, BAZNAS daerah bekerja sama dengan berbagai pihak yg memberikan sponsor.

Sedangkan menurut Hamid Abidin,
film ini bisa menjadi sarana efektif untuk mengedukasi sekaligus mengkampanyekan kesadaran berzakat di kalangan generasi millennial.

“Generasi millennial umumnya lebih suka terlibat di kegiatan filantropi yang bersifat interaktif, menggunakan teknologi informasi dan budaya pop seperti film, musik, dan lainnya.

Melalui film ini, BAZNAS juga bisa memberikan teladan sekaligus inspirasi bagi organisasi filantropi, khususnya BAZ dan LAZ, untuk mulai menggunakan cara2 yg lebih inovatif dalam menkampanyekan zakat sekaligus menggaet muzakki dari kalangan millennial,” katanya. (Abdul Halim)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos