728 x 90

AGAMA DAN PENBERANTASAN KEMISKINAN (Bagian-2)

AGAMA DAN PENBERANTASAN KEMISKINAN (Bagian-2)

Oleh: Imam Shamsi Ali* Pada bagian lalu disebutkan beberapa penyebab kemiskinan. Kita boleh saja menuduh mereka yang miskin karena malas. Bahkan mungkin saja ada yang menuduh Allah yang menghendaki. Tapi apakah demikian ? Jawabannya boleh ya boleh tidak. Memang ada yang miskin karena memang malas. Tetapi percayalah mayoritas mereka yang miskin adalah pekerja keras dan

Oleh: Imam Shamsi Ali*

Pada bagian lalu disebutkan beberapa penyebab kemiskinan. Kita boleh saja menuduh mereka yang miskin karena malas. Bahkan mungkin saja ada yang menuduh Allah yang menghendaki.

Tapi apakah demikian ? Jawabannya boleh ya boleh tidak. Memang ada yang miskin karena memang malas. Tetapi percayalah mayoritas mereka yang miskin adalah pekerja keras dan tak kenal lelah.

Takdir Allah ? Ya kalau itu sudah terjadi. Tapi takdir bukan sesuatu yang kita putuskan sebelum menjadi realita takdir di hadapan mata. Karenanya menuduh kemiskinan sebagai takdir justru boleh jadi “pelecehan” kepada yang mentakdirkan segala hal yakni Allah SWT.

Juga disebutkan bahwa kemiskinan itu akan selalu ada. Tapi ini dalam makna fisikal. Bahwa akan ada disparitas (perbedaan-perbedaan) dalam kwantitas kepemilikan. Ada yang memiliki banyak, ada yang pertengahan, dan ada yang serba kekurangan. Ini akan berlanjut hingga akhir zaman.

Hikmahnya agar terjadi “konsolidasi” kehidupan sosial manusia. Agar manusia saling membutuhkan. Hanya dengan rasa saling membutuhkan, yang dengannya terjadi koneksi sosial manusia bisa membangun dunia sebagai bagian dari fungsi kekhilafahannya.

Makanya ada penguasa dan ada rakyat. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada yang kuat dan ada pula yang lemah. Biar celah-celah kehidupan itu diisi sesuai kapasitasnya masing-masing.

Maka kata “pemberantasan” kemiskinan bukan berarti mengkayakan semua manusia. Tapi lebih berarti “rasionalisasi” realita kehidupan. Makna rasionalisasi adalah menjadikan kehidupan bisa diterima secara akal sehat.

Ada orang yang memiliki kurang dari kebutuhannya. Tapi dalam hidupnya dia tidak miskin. Hal ini karena dia tidak perlu merasa hina dan dihinakan karena posisi materinya. Tapi yang justru dia mendapatkan dukungan sosial (social support) dari lingkungannya.

Itulah salah satu rahasia kenapa Rasululllah SAW di satu sisi memerangi kemiskinan bahkan dengan aksi-aksi nyata. Tetapi di sisi lain meminta agar dirinya (Rasulullah SAW) dimasukkan ke dalam golongan orang-orang miskin.

Ketika turun perintah zakat, Rasulullah SAW tidak sekedar melihatnya sebagai kewajiban memberikan 2,5% harta kepada fakir miskin. Tetapi jauh dari itu beliau melihatnya sebagai perintah kepada umat Islam untuk membangun basis perekonomian yang kuat.

Karenanya langkah pertama beliau adalah mengupayakan agar pasar yang ketika itu dimiliki oleh masyarakat Yahudi dibelinya. Dan beliau berhasil membeli pasar tersebut. Sebuah pusat aktifitas perekonomian untuk membangun fondasi perekonomian umat Islam.

Saya tidak bermaksud berpanjang lebar untuk menjelaskan langkah-langkah apa saja yang harusnya dilakukan untuk memerangi kemiskinan, tentunya banyak hal. Saya akan mambatasi diri pada empat hal:

Pertama, kembali kepada dasar keyakinan bahwa harta itu Pemilik mutlaknya adalah Allah SWT. Semua yang ada pada kita adalah amanah yang saatnya akan diminta kembali.

Seorang Mukmin yakin secara solid bahwa “inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun” adalah konsep dasar hidupnya. Diri dan semua yang terkait dengan diri kita, hidup secara menyeluruh adalah “lillahi” (milik Allah SWT).

Konsep ini akan menjadikan seseorang berinteraksi dengan dunia penuh dengan amanah. Karena dia sadar bahwa dunia bukan miliknya. Tapi itu amanah yang akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Mahkamah Pemiliknya.

Kedua, kembali ke esensi dasar dalam beragama. Sekiranya agama itu adalah kelapa maka santannya adalah “kasih sayang” (rahmah). Tanpa kecuali, semua agama mengakui kasih sayang sebagai esensinya.

Rasulullah SAW sendiri mendefenisikan misinya dengan rahmah: “Dan tidaklah Kami utus kamu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmah kepada seluruh alam semesta”.

Beliau kemudian menggariskan: “man laa yarham laa yurham” (siapa yang tidak memilki kasih sayang tidak disayangi Allah).

Dalam konteks kemiskinan, kasih sayang tentunya bukan menjadikan orang miskin kaya. Kalau memungkinkan tentu itu yang terbaik. Tapi kasih sayang boleh jadi sebuah komitmen untuk memperlihatkan support kepada mereka. Seperti doa Rasulullah SAW agar dirinya menjadi bagian dari orang-orang miskin.

Atau statemen Rasulullah SAW bahwa orang-orang miskin akan masuk ke dalam Syurga lebih cepat dibandingkan orang-orang kaya.

Semua itu bukan sekedar dukungan materi. Tetapi juga dukungan moril kepada orang-orang miskin. Sehingga ketika mereka berkekurangan tidak perlu merasa hina dan dihinakan. Mereka boleh jadi miskin secara materi, tetapi kaya dalam kejiwaan.

Maka orang-orang miskin di kalangan sahabat di zaman Nabi Muhammad SAW tidak meminta-minta, karena mereka merasa kaya di tengah kekurangan materinya, “Laa yas aluunan naasa ilhaafa”.

Kasih sayang ini pula yang menjadikan Islam dalam ajaran-ajarannya memperlihatkan dukungan kepada para dhuafa. Beragama yang jujur itu harusnya terlihat dalam kebaikan sosial.

Kitab Suci Al-Quran menegaskan bahwa menolak menyantuni anak yatim dan fakir miskin itu adalah bentuk pendustaan kepada Agama.

“Tidakkah kamu lihat dia yang mendustakan agama ? Yaitu yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”.

Karena kasih sayang ini pula Umar bin Khayyam RA justeru menghukum tetangga kaya yang kecurian. Seorang wanita tetangganya yang mencuri justru disantuni karena mencuri terpaksa demi sesuap nasi untuk anak-anaknya.

Maka jangan bangga dengan sholatmu, puasamu, dzikirmu, bahkan hajimu berkali-kali jika tetanggamu masih miskin di hadapan ketidak-pedulianmu.

Ketiga, perlunya keagamaan atau religiositas kita didefenisikan secara utuh.

Kerap agama diidentikan dengan ritual semata. Sholat, puasa, dzikir, tahajjud, dan seterusnya sering kali menjadi dinding-dinding pembatas antara kita dan kebaikan sosial.

Padahal sejatinya semua amalan Ibadah berujung kepada pembangunan karakter kemanusiaan dalam kehidupan sosialnya. Sholat diawali dengan takbir, tetapi harus diakhiri dengan salam sebagai komitmen sosial kita.

Dalam konteks kemiskinan ini Rasulullah SAW secara khusus mengingatkan: “Tidak beriman di antara kalian yang tidur nyenyak dalam keadaan kenyang tapi tetangganya kelaparan”.

Peringatan Rasul ini sekaligus mengingatkan kita agar agama jangan didefenisikan dengan sekedar amalan-amalan ritual. Atau tidak sekedar dengan penampilan lahiriah, termasuk bentuk pakaian atau panjang pendek jenggot seseorang.

Pada akhirnya amalan sosial yang terbangun oleh iman, sekaligus aktualisasi pengabdian ibadah kepada-Nya itulah yang menjadi modal utama keselamatan akhirat.

Jangan sampai sholat, puasa, dzikir, qiyaamul lail dan semua amalan ibadah itu menjadi bangkrut karena pelakunya gagal peduli dengan penderitaan sesama di sekitarnya.

Keempat, mereka yang diamanahi sebagai “pelayan” (pemerintah) rakyat wajib melakukan tugasnya.

Tugas pemerintah itu melayani. Pemerintah memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa tidak seorangpun mengalami penderitaan karena ketidak peduliannya.

Diakui atau tidak, sungguh disayangkan bahwa banyak pemerintah dunia saat ini, baik yang terpilih (dalam negara demokrasi) atau memang mewarisi kekuasaan (dalam negara kerajaan) bukan melayani rakyat. Tapi justeru melayani kepentingan diri, keluarga dan mereka yang darinya meraup keuntungan.

Pemerintah korup yang terdahulu disebutkan menjadikan negara-negara yang kaya itu menjadi bagaikan lumbung padi bagi tikus-tikus yang justeru mati kelaparan. Negara kaya tapi takyatnya miskin. Para pembesar hidup mewah luar biasa. Tetapi rakyat makan pun susah. Apalagi melanjutkan sekolah yang lebih tinggi.

Karenanya tidak jarang justeru pengelola negaralah yang menjadi biang kerok penyebab kemiskinan Itu.

Harusnya mereka yang diamanahi ororitas oleh Allah SWT itu sadar bahwa suatu saat nanti semua akan dipertanggung-jawabkan. Semua mereka adalah “penggembala-penggembala yang akan mempertanggung- jawabkan gembalaannya” (Al Hadits).

Umar bin Khattab di saat menjadi Khalifah suatu saat berkata: “Kalau saja ada seekor keledai mati
kelaparan di dalam daerah kekuasaanku, niscaya saya akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak”.

Lalu bagaimana jika itu adalah hamba-hamba Tuhan dari kalangan ciptaan-Nya yang paling mulia ?

Bukan Sekedar Kelaparan

Saya Akhiri pemaparan saya dengan mengingatkan semuanya. Bahwa isu kemiskinan (poverty) bukan sekedar makanan atau urusan perut belaka.

Isu kemiskinan itu menjadi bagian penting dari HAM (Hak Asasi Manusia). Menjadi bagian terpenting dari kemuliaan manusia (human dignity). Dan tentunya menjadi bagian dari moralitas kemanusiaan (human morality).

Masalah kemiskinan juga menjadi isu penting dari keadilan dan kesetaraan. Bahkan pada tingkatan tertentu kekayaan dan kemiskinan saat ini menjadi isu “rasisme” pula.

Perhatikan betapa sebagian besar manusia dari kalangan ras dan etnis tertentu tidak saja miskin. Tapi menjadi objek kemiskinan dan pemiskinan sistem untuk memperkaya manusia dari kalangan ras dan etnis lainnya.

Maka jangan terkejut jika saya dengan berani mengatakan: saat ini kita hidup dalam sistem ekonomi apartheid. Wal-Iyadzu billah!

New York, AS, 8 Pebruari 2019

*Penulis adalah Presiden Nusantara Foundation.

Saudaraku, Diingatkan bahwa pertisipasi semuanya masih sangat diharapkan untuk pembangunan pondok pesantren di Amerika. Donasi dapat dilakukan melalui: www.nusantaraboardingschool.com (klik support).

Atau Rekening Indonesia:
Rek rupiah : 1240000018185
An. inka nusantara madani
Bank Mandiri.

Jazakumullah khaer!

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos