728 x 90

PIDATO PEMBUKAAN WAPRES JUSUF KALLA MENGECEWAKAN PESERTA RAKORNAS ZAKAT

PIDATO PEMBUKAAN WAPRES JUSUF KALLA MENGECEWAKAN PESERTA RAKORNAS ZAKAT

Solo, Djakartatoday.Com – Pidato Wakil Presiden Jusup Kalla (JK) pada pembukaan Rakornas Zakat di Balaikota Solo, Senin malam (4/3) ternyata mengecewakan sebagian peserta Rakornas yang dihadiri 700 orang pimpinan Baznas dan LAZ dari seluruh Indonesia tersebut. Pasalnya, pada pidato pembukaan tersebut, seolah-olah JK mengecilkan keberadaan Baznas sebagai lembaga resmi negara yang memungut sekaligus menyalurkan zakat

Solo, Djakartatoday.Com – Pidato Wakil Presiden Jusup Kalla (JK) pada pembukaan Rakornas Zakat di Balaikota Solo, Senin malam (4/3) ternyata mengecewakan sebagian peserta Rakornas yang dihadiri 700 orang pimpinan Baznas dan LAZ dari seluruh Indonesia tersebut.

Pasalnya, pada pidato pembukaan tersebut, seolah-olah JK mengecilkan keberadaan Baznas sebagai lembaga resmi negara yang memungut sekaligus menyalurkan zakat di Indonesia.

“Terus terang saya kecewa dengan pernyataan pak JK tadi yang sepertinya mengecilkan keberadaan Baznas di Indonesia,” ujar salah seorang peserta yang tak mau disebutkan namanya kepada Djakartatoday.com di Balaikota Solo seusai mendengarkan pidato pembukaan JK tersebut.

Menurutnya, ada beberapa point yang dirinya tak setuju dengan pernyataan JK.

Pertama, ketika JK mengatakan penyalur zakat bukan hanya Baznas, lebih banyak perorangan yang menyalurkan zakatnya sendiri sendiri.

“Jelas ini upaya pak JK untuk mengecilkan arti perjuangan Baznas dalam menyalurkan zakat selama ini di Indonesia, alias pak JK berusaha mendegradasi keberadaan Baznas,” tegasnya.

Kedua, pernyataan JK yang mengatakan zakat tak bisa disamakan dengan pajak, sebab perolehan pajak tahun lalu mencapai Rp 1800 triliun, sementara zakat yang diperoleh Baznas hanya Rp 8 triliun.

“Jelas pernyataan ini upaya untuk mencegah keinginan Menkeu Sri Mulyani yang ingin pengelolaan zakat disamakan dengan pajak atau zakat nantinya menjadi wajib bagi umat Islam Indonesia,” jelasnya.

Ketiga, ketika pak JK mengatakan pengusaha Muslim harus bayar dua kali yakni bayar pajak dan zakat, sementara pengusaha Cina dan non Muslim hanya bayar sekali pajak saja.

“Pernyataan pak JK ini jelas mengecilkan makna zakat sebagai kewajiban agama, serta mendorong para pengusaha Muslim untuk tidak membayar zajak karena sudah merasa membayar pajak. Apalagi pak JK juga setuju dengan pendapat Masdar Farid Masudi (Wakil Ketua DMI) yang menyatakan membayar pajak sama dengan membayar zakat. Jadi kalau sudah bayar pajak tak perlu bayar zakat,” ungkapnya.
(Abdul Halim)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos