728 x 90

Will Connolly dan Tingkat Rasa Malu Bangsa Indonesia

Will Connolly dan Tingkat Rasa Malu Bangsa Indonesia

Oleh : Sri Widodo Soetardjowijono Will Connolly hanyalah seorang bocah. Anak milenial berusia 17 tahun ini langsung menjadi buah bibir dunia karena keberanian dan ketegasannya. Ia terusik oleh pernyataan Senator Queensland, Australia, Fraser Anning, yang menuduh imigran Muslim sebagai biang keladi penembakan di dua masjid kota Christchruch, Selandia Baru pada Jum’at (15/7) lalu. Penembakan itu

Oleh :
Sri Widodo Soetardjowijono

Will Connolly hanyalah seorang bocah. Anak milenial berusia 17 tahun ini langsung menjadi buah bibir dunia karena keberanian dan ketegasannya. Ia terusik oleh pernyataan Senator Queensland, Australia, Fraser Anning, yang menuduh imigran Muslim sebagai biang keladi penembakan di dua masjid kota Christchruch, Selandia Baru pada Jum’at (15/7) lalu.

Penembakan itu dilakukan oleh teroris asal Australia, Brenton Tarrant. Dalam sekejap ia membunuh dengan sadis hingga menewaskan 50 orang yang sedang ibadah Jumat, termasuk 1 orang Indonesia.

Akibat keterusikan itu, Connolly mengeprukkan_ telor mentah ke muka Anning dengan ksatria sambil direkam. Kemudian oleh dunia ia dijuluki Egg Boy. Kemaluan kita terusik, karena tak seheroik Connolly ketika melihat kejahatan.

Kemaluan yang saya maksud bukan kemaluan yang berarti ‘nganu’. Ketegangan politik dan ketidakadilan aparat dalam menegakkan aturan main demokrasi, membuat kita tak sempat urus ‘nganu’. Harap maklum ya.

Kemaluan yang saya maksudkan adalah tingkat rasa malu bangsa ini terhadap keberanian bocah belasan tahun itu. Jika sang bocah berani bertindak sendiri tanpa komando begitu melihat kemungkaran, kita masih berdiskusi dan berdebat, berbantah-bantahan, dan berteori. Paling banter pasang status di medsos.

Kita sepertinya tidak malu terhadap bocah itu tatkala ada tokoh ormas besar umat Islam melecehkan pasangan calon presiden nomor urut 02 didukung oleh kaum radikal, intoleran, dan anti-bhinneka – kita bukan bertindak, tetapi justru memakluminya.

Kita seharusnya malu terhadap bocah itu karena kita diam saja ketika ada sekumpulan kyai memprovokasi kyai yang lain agar menjauhi capres nomor 02 karena disusupi Wahabi, ISIS, dan HTI.

Urat malu kita seperti sudah putus ketika kita mingkem bae melihat majelis-majelis taklim memproduksi ketakutan-ketakutan dengan menuduh pasangan nomor 02 hendak menutup segala aktivitas umat Islam seperti tahlil, zikir, maulid, serta hari santri nasional.

Apakah kita harus mengimpor Will Connolly dari Australia agar bisa mengajari cara mengepruk_ telor mentah ke muka kyai ? Apakah kita harus mendatangkan Connolly dari Austraia agar bisa menjadi sosok anak muda yang tegas, cerdas, dan berani ?

Tampaknya kita sudah terlalu lama dilecehkan, direndahkan, dan ditipu sehingga sudah kebal terhadap segala kezaliman itu. Kita butuh orang-orang seperti Connolly agar kita tidak dicap apatis atau tak berdaya.

Lihat saja, betapa pemaafnya kita ketika melihat pelanggaran Pemilu yang dilakukan oleh pasangan capres nomor 01 secara massif, ugal-ugalan, dan brutal.

Seorang Andi Arief hanya bisa kirim tweet saat mengetahui seluruh Kepala Desa diwajibkan datang pada tanggal 30 Maret 2019 di Gelora Bung Karno, dipaksa untuk memberikan gelar Bapak Pembangunan Desa untuk Pak Jokowi. Kedatangan Kepala Desa ke Jakarta pun difasilitasi dengan fasilitas wah, di mana uang sakunya mencapai Rp 3 juta.

Para guru hanya bisa menulis di grup WA ketika mereka mengetahui Wali Kota Semarang mengumpulkan guru dan siswa SMA Islam untuk mendukung Jokowi pada 17 April 2019 nanti. Para guru dan siswa ditakut-takuti pasangan nomor 02 akan membentuk negara khilafah. Tidak lupa “Genderuwo Negara Suriah” pun dikampanyekan.

Para mahasiswa hanya bisa berkeluh kesah di warung kopi ketika mereka mengetahui ada yang tidak beres terhadap kegiatan seminar dadakan di beberapa kampus. Di kampus Universitas Moestopo, Jakarta misalnya. Para mahasiswa sering mendapat undangan seminar yang isinya puja dan puji terhadap Sang Presiden. Terakhir acara di Hotel Bidakara, para mahasiswa diberi makan gratis dan pulang diongkosi Rp 200 ribu.

Tidak hanya di Univeristas Moestopo Beragama, tetapi kampus-kampus lain demikian juga. Masing-masing kampus mendapat 25 undangan. Kedoknya seminar, tetapi ujung-ujungnya “onani” keberhasilan Jokowi.

Berdayakah mahasiswa menghadapi kezaliman ini ? Tidak. Perlawanan paling agung hanya berani menulis di grup WA, itu pun dihardik oleh mahasiswa yang Pejah Gesah Ndherek Jokowi (mati hidup ikut Jokowi). Sungguh, tak ada tempat lagi bagi anak bangsa ini mengekspresikan kekecewaan.

Kita tentu saja memaklumi pilihan mahasiswa untuk “cari aman”, karena dari pengalaman yang udah udah udah, gara-gara kata “ludah” kita bisa dikerangkeng dalam penjara seperti Ahmad Dhani. Ironis sekali, di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, masih ada rezim yang berkubang di kolam kekolotan, fasis, juga tiran. Sontoloyo dan membabi buta.

Tapi kita masih bangga ada tindakan yang mirip Connolly dilakukan oleh seorang Babinsa. Hanya saja, ia tidak mengeprukkan_ telor ke muka Walikota, tetapi ia hanya protes dan meninggalkan acara silaturahmi Walikota bersama perangkat RT, RW dan tokoh masyarakat Bengkong pada Senin malam, 18 Maret 2019, di Golden Prawn, Batam.

Sementara Babinsa dan beberapa warga ogah mengikuti acara lantaran adanya pelarangan untuk membawa HP ke dalam ruang acara itu.

(Penulis adalah Jurnalis senior, tinggal di Jakarta, www.fnn.co.id)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos