728 x 90

TENGELAMNYA KAPAL VAN JOK WI

TENGELAMNYA KAPAL VAN JOK WI

Oleh : Sri Widodo Soetardjowijono (Wong Solo) Van Jok Wi adalah sebuah kapal besar yang mempunyai impian tinggi mengarungi samudera luas membangun bangsa dan menyejahterakan rakyat. Dengan sangat optimistis, didukung oleh 53,15 persen hasil Pemilu 2014, kapal ini akan berlayar menjemput impian. Dengan slogan andalan “kerja, kerja, kerja”, kapal ini melibas semua yang ada di

Oleh :
Sri Widodo Soetardjowijono
(Wong Solo)

Van Jok Wi adalah sebuah kapal besar yang mempunyai impian tinggi mengarungi samudera luas membangun bangsa dan menyejahterakan rakyat. Dengan sangat optimistis, didukung oleh 53,15 persen hasil Pemilu 2014, kapal ini akan berlayar menjemput impian. Dengan slogan andalan “kerja, kerja, kerja”, kapal ini melibas semua yang ada di depannya, menyerempet semua yang ada di sampingnya, dan menjegal semua yang ada di belakangnya. Rawer rawe rantas, malang malang putung. Gagah sekali. Namun, kini kapal itu mulai oleng dan akan segera tengelam, sebelum cita-cita itu tercapai.

Mengapa bisa tengelam ? Sebab musababnya adalah gelombang ketidakpercayaan masyarakat terhadap nahkoda sejak hari pertama memegang kemudi. Sang nahkoda dikelilingi oleh pembisik, pengarah gaya, dan produsen selfie – yang sesungguhnya ingin membangun citra positif – tetapi yang terjadi justru pertunjukan yang membosankan. Bosan karena dalam segala hal dieksploitasi secara artifisial, berlebihan, dan demonstratif.

Hasil survei Litbang Kompas yang menyebut elektabilitas petahana sebesar 49,2 persen merupakan bukti empirik bahwa kapal itu bakal tenggelam. Hasil survei yang amat buruk buat petahana. Apalagi, menurut kabar burung, perolehan suara petahana sebenarnya bukan 49,2 persen, tetapi 46 persen. Lantaran alasan stabilitas ekonomi dan “menjaga hati”, komprominya 49,2 persen saja. Artinya, sejak 4,5 tahun terakhir telah terjadi penurunan elektabilitas sebesar 7 persen. Padahal, semua alat negara ada dalam genggamannya.  Sungguh memprihatinkan.

Namun, survei Litbang Kompas masih lebih masuk akal dibanding survei-survei lembaga lain yang menempatkan petahana pada angka 57 persen. Litbang Kompas melihat memang ada penurunan elektabilitas petahana dari 53,15 persen menjadi 49,2 persen. Ini pun bukan tanpa kendala. Di internal Kompas, kabarnya juga terjadi perdebatan yang sengit saat akan  mengumumkan hasil survei tersebut.

Sebaliknya, yang masih istikhomah dalam hal “kebohongan” dilakukan oleh lembaga survei lain yang jumlahnya mencapai 22 biji itu. Mereka menempatkan capres petahana pada posisi sekitar 57 persen. Dengan demikian menurut mereka, elektabilitas petahana naik 4 persen, dari 53,15 menjadi 57 persen. Jelas, ini tidak logis. Dalam suasana batin seperti ini mereka masih ngotot petahana didukung mayoritas rakyat Indonesia.

Kita bandingkan dengan realita di lapangan, apakah survei-survei itu benar atau ngawur. Nyaris semua hal yang diklaim sebagai keberhasilan petahana, di mata masyarakat adalah omong kosong karena tidak memiliki dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat luas.  Masyarakat tidak tertarik sama sekali dengan “khotbah” infrastruktur dan jalan tol.

Apalagi kini petahana sedang getol beternak dan budi daya kartu. Kartu Prakerja adalah dagelan yang sungguh menggelikan. Pada saat ada ribuan guru honorer yang masih tabah antre bertahun-tahun menunggu pengangkatan, pemerintah ingin menggaji pengangguran dengan Kartu Prakerja itu.

Kesejahteraan bukan diukur dari berapa banyak kartu dikoleksi, tetapi sejauh mana kesempatan kerja mudah diperoleh, hukum ditegakkan secara adil, kemisikinan menurun, rezim yang amanah, serta terbebas dari rasa takut,  termasuk tidak takut mengkritik lewat media sosial.

Fakta lain yang menunjukkan bahwa survei-survei itu kontradiktif dengan kondisi di lapangan adalah pergerakan massa yang tidak seimbang antara capres 01 dan capres 02.  Berawal dari kampanye pasangan 02 di Ambon, lalu di Medan, Aceh, Garut, Tasikmalaya, Balikpapan, Madura, dan kota-kota di seluruh Indonesia yang selalu membludak. Bahkan, di Jogjakarta, Magelang, dan Purwokerto Jawa Tengah yang “diimani” sebagai kandang banteng, Prabowo disambut sangat meriah oleh massa yang tumpah ruah di jalan-jalan.

Prabowo dielu-elukan bak seorang pahlawan. Ada harapan besar masyarakat terhadap Prabowo agar segera menyudahi ketidakpastian ini.  Masyarakat ingin mengadu, berkeluh kesah, dan menangis di pundak Prabowo bahwa selama 4,5 tahun mereka bosan mengonsumsi kepalsuan.

Survei-survei itu juga tidak mencerminkan kenyataan di dunia nyata. Terbukti capres 01 selalu dihadang dengan salam dua jari dimana pun berada. Saat capres 01 malam-malam datang ke Muara Baru, Jakarta Utara, emak emak berderet sepanjang jalan, lampu depan rumah dimatikan, lalu teriak, ”Prabowo, Prabowo, Prabowo”. Padahal, yang sedang lewat adalah orang nomor 01 di Republik ini, nahkoda NKRI.

Pembatalan mendadak oleh capres 01 saat akan berkampanye, juga menunjukkan bahwa masyarakat tidak menghendaki  presiden lawas memimpin kembali. Jokowi tiba-tiba batal hadir dalam acara penghimpunan dana kampanye melalui lelang barang pribadi Jokowi di Surabaya, Jawa Timur, Senin (18/3/2019) malam.

Sebelumnya, Jokowi juga batal hadir dalam kampanye di Ciputat Tangerang. Padahal, sudah dipersiapkan adegan bersama Rano Karno dan Mandra berkeliling pasar naik oplet legendaris Si Doel. Tidak jelas alasan pembatalan, tetapi dari foto-foto yang beredar, netizen menyimpulkan pembatalan karena sepinya masyarakat yang menyambutnya.

Di Aceh, Jokowi juga bikin kecewa. Ia dijadwalkan bertemu dengan Tim Kampanye Daerah  dan para pendukungnya di Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya, Banda Aceh, ternyata dibatalkan. Alasannya, waktunya sempit.

Pembatalan mendadak ini dipicu oleh kejadian yang tidak nyaman saat pertemuan Jokowi dengan para penerima sertifikat tanah di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, akhir Januari 2019 lalu. Deretan kursi kosong saat Jokowi berpidato tersebar ke media sosial.

Pengarah gaya Jokowi tak kehabisan ide. Ada saja upaya untuk menghibur sang calon, karena mungkin Jokowi lebih suka berada dalam kerumunan massa dengan menu utama “selfie bersama rakyat”. Oleh karena itu, ia lebih memilih naik KRL ketimbang hadir dalam peluncuran buku “Satu Malam di Baitullah Bersama H. Joko Widodo” di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, Rabu (6/3/2019) yang sudah lama diagendakan. Mana ada KRL sepi, ada-ada saja.

Sepinya acara yang dihelat pasangan capres 01 tidak hanya menimpa Jokowi. Cawapres Ma’ruf Amin juga mengalami nasib yang tak kalah sial. Tablig Akbar yang dijadwalkan menghadirkan sang cawapres di Lapangan Berdikari, Tanjungmorawa, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, sepi pengunjung, Sabtu (9/3). Panggung yang megah itu hanya dihadiri oleh 100-an ibu-ibu sepuh. Oleh karenanya, tak heran jika akhirnya Ma’ruf Amin ogah hadir.

Sebelumnya, Ma’ruf Amin juga batal menghadiri kegiatan Istigosah Kubro di lapangan Lamping Santa, Kelurahan Gedongpanjang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi. Ia sendiri yang membatalkannya. Padahal, sebelumnya ia pula yang memutuskan tanggal kegiatan itu. “Tidak apa-apa, manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan,” kata santri menenangkan diri.

Wabah kesepian juga melanda Ketua Umum Garda Jokowi, Antasari Azhar. Ia kecewa dan mempertanyakan betapa sedikitnya massa yang hadir dalam acara Pelantikan Garda Jokowi di Pangkal Pinang. Massa yang dijanjikan hadir 1000 orang, ternyata cuma puluhan.

Ketidakhadiran pasangan capres 01 lebih disebabkan oleh sedikitnya jumlah massa yang hadir. Berbeda dengan pasangan capres 02, ketidakhadiran mereka di arena kampanye lebih disebabkan oleh penolakan aparat dengan alasan yang mengada-ada. Ini salah satu dari banyak ketidakadilan yang diderita pasangan 02.

Perlakuan tidak adil aparat, puja puji media massa, serta penggiringan opini oleh berbagai survei, justru telah melahirkan ketidakpercayaan publik. Ini menjadi penyebab bocornya Kapal Van Jok Wi. Masih “bocor alus” memang.

“Bocor alus” berikutnya adalah performance Kyai Ma’ruf yang jauh dari harapan.  Dengan mendampingi Jokowi, ia digadang-gadang bisa mengeruk suara umat Islam. Namun, yang terjadi justru menggerus suara umat Islam pendukung petahana itu sendiri. Belum lagi, suara non-muslim yang sulit menerima Kyai Ma’ruf sejak awal dideklarasikan.

Kyai Ma’ruf yang seharusnya bisa menjelaskan konsep bernergara, berbangsa, dan beragama  yang diklaim paling toleran, justru getol menjelaskan siapa dirinya, asal usulnya. Hari ini ia mengaku berasal dari Banten, besok mengaku dari Cirebon, besoknya lagi dari Madura. Kyai Ma’ruf juga sibuk menilai orang lain.

Kumpulan “bocor alus” itu kini sedang menuju bocor besar. Deklarasi dukungan pengusaha papan atas Erwin Aksa, keponakan Jusuf Kalla kepada capres 02, merupakan satu lubang yang sulit dibendung. Hampir dipastikan ia akan membawa gerbong-gerbong pengusaha lainnya bergandeng tangan memperkuat posisi Prabowo Sandi.

Bocor itu kini sudah mengangga lebar dengan digelandangnya Almukarrom Romahurmuziy alias Rommy oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ketua Umum PPP, Partai Islam pendukung capres 01 itu ternyata tak lebih dari seorang “Maling” di Kementerian Agama Republik Indonesia. Ia memungut imbalan dari upayanya menjadi calo jabatan. Hancur sudah moralitas Rommy. Ia tak hanya mengkhianati azas dan khittah partainya, tetapi juga capres 01 yang didukungnya.

Menyusul Setya Novanto dan Idrus Marham, keduanya dari Golkar; dan Supian Hadi Bupati Kotawaringin Timur dari PDIP, Rommy menjadi ikon kaum munafik.

Ciri orang munafik adalah jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia akan ingkar, dan jika dipercaya ia akan berkhianat. Kemunafikan itu harus segera ditenggelamkan.

Jika memang kapal itu segera tenggelam, mari kita sukseskan proses tenggelamnya. Jangan dibikin menakutkan atau angker. Anggap saja kita sedang menyaksikan indahnya sunset untuk menyongsong cerahnya mentari esok pagi.(*)

(Penulis adalah wartawan senior, tinggal di Jakarta)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos