728 x 90

RANTAI PUTUS DAN PESAN LANGIT YANG TERABAIKAN

RANTAI PUTUS DAN PESAN LANGIT YANG TERABAIKAN

Oleh : Sri Widodo Soetardjowijono _ (Forum News Network)_ Djakartatoday.com Pernyataan penutup (closing statement) Jokowi dalam debat capres keempat adalah pesan langit yang sangat gamblang. Ia menyiratkan salam perpisahan sebagaimana banyak diulas pengamat dan wartawan. Pesan langit adalah pesan yang tersirat dari setiap kejadian, ucapan, tindakan, dan perbuatan. Penggunaan istilah rantai sepeda yang putus untuk

Oleh :
Sri Widodo Soetardjowijono _
(Forum News Network)_

Djakartatoday.com

Pernyataan penutup (closing statement) Jokowi dalam debat capres keempat adalah pesan langit yang sangat gamblang. Ia menyiratkan salam perpisahan sebagaimana banyak diulas pengamat dan wartawan.

Pesan langit adalah pesan yang tersirat dari setiap kejadian, ucapan, tindakan, dan perbuatan.

Penggunaan istilah rantai sepeda yang putus untuk mengakhiri debat capres keempat bukan keselo lidah, salah baca, atau keliru menyimpulkan.

Debat yang tampak tidak imbang tersebut semakin menunjukkan kualitas kedua capres. Ini bisa menjadi panduan lengkap menentukan pilihan.

Sepanjang debat Jokowi sebagai petahana tampak grogi. Ia kembali salah data berkaitan dengan sejarah KPK. Ia juga terjebak dalam penguasaan masalah yang setengah setengah. Orasinya berputar-putar pada isu infrastruktur dan radar-radar yang dijadikan andalan selama debat. Ia juga tampak tak berkutik ketika “dihardik” Prabowo soal lemahnya kedaulatan negara selama rezim ini berkuasa.

Sementara Prabowo sebagai capres penantang, hadir dengan garang, tegas, dan jelas, utamanya dalam menempatkan posisinya di kancah internasional dan harga diri bangsa Indonesia.

Rantai sepeda putus yang dianalogikan Jokowi bisa diterjemahkan sebagai sinyal bahwa Jokowi tidak bisa lagi melanjutkan perjalanan. Tampaknya Jokowi cukup tahu diri posisinya saat ini. Berbeda dengan 2014, di mana jejak-jejak langkahnya belum terbaca. Oleh karena itu ia berpesan agar persahabatan dan persaudaraan tetap terjaga. Sebuah pesan yang memang perlu disampaikan karena bangsa kita adalah bangsa yang sudah terbiasa gotong royong, toleransi, dan perawat kebersamaan serta anti-perpecahan.

Closing statement itu bisa jadi sudah disiapkan sebelumnya, tapi ada yang menduga terjadi spontan. Tak penting kita menganalisa asal-usul closing statement, yang penting justru makna yang terkandung dalam pesan tersebut. Ada dorongan energi yang kuat bahwa pesan ini harus segera disampaikan. Mereka menyangka pesan humanis ini diharapkan mendatangkan apresiasi publik. Tapi nyatanya justru berbalik arah.

Jokowi maupun pembisiknya tak sadar bahwa pesan perpisahan tersebut merupakan akumulasi dari pesan-pesan langit sebelumnya.

Lihat saja kejadian demi kejadian ini.
Jokowi yang lembut tutur katanya, tiba- tiba ganas ketika menghadapi berbagai kritikan masyarakat.

Ia kurang peka ketika disentil udang yang mematil jarinya. Sebagai orang Jawa mustinya ia bisa menterjemahkan peristiwa itu untuk mengoreksi langkah-langkahnya.

Jokowi juga tidak sadar ketika Kantor Pusat BPN Prabowo Sandi merangsek ke Solo, jantung pertahanan Jokowi. Jika dilihat dari kaca mata kuda, mungkin hal itu biasa. Tapi jika dilihat dari sudut pandang yang lain, sudut pandang isyarat, maka peristiwa itu merupakan tamparan keras bagi kubu penguasa. Bagi masyarakat Solo, hal seperti ini sudah tahu maknanya.

Penguasa juga kurang peka tatkala masyarakat ogah-ogahan mendatangi kampanye Jokowi-Ma’ruf meski segala fasilitas dan akomodasi ditanggung sepenuhnya. Sesungguhnya ini merupakan aba-aba kuat bahwa penguasa mulai dijauhi masyarakat.

Tim Sukses Petahana juga tidak pernah gelisah ketika berbagai kegiatan kampanye “diganggu” oleh alam semesta.

Robohnya panggung Puan Maharani di Solo hanya satu dari banyak kejadian aneh yang menimpa kelompok petahana. Saat kampanye Jokowi Maruf, puting beliung tiba-tiba datang secara sporadis, juga bukan perkara biasa. Kejadian semacam ini bukan hanya satu atau dua kali, tapi berulangkali mulai dari Medan hingga Madura.

Tampaknya radar kesadaran penguasa tak mampu menangkap sinyal-sinyal itu.

Yang tampak berlebihan adalah provokasi perlawanan Jokowi terhadap masyarakat Jogja. Ini telah mengusik perasaan masyarakat Jogja dan Indonesia pada umumnya.

Maka wajar tatkala Raja Jogja Sri Sultan HB X menampakkan ketidaknyamannya. Publik menganggap Jokowi mengotori kedamaian masyarakat Jogja. Slogan Jogja sebagai Trully of Java telah ternoda. Pun demikian, para pembisik Jokowi tidak segera insyaf dari model kampanye yang bikin panas.

Pesan langit ini juga lebih revolusioner, yakni saat Ibu Negara jatuh terjengkang dalam kampanya di Banjarmasin.

Penguasa dan timnya bukannya tersentak mencari makna setiap musibah, tetapi malah semakin asyik dengan model kampanyenya.
Mereka masih sangat percaya diri, over confidence bahwa apapun yang mereka lakukan baik-baik saja.

Peristiwa misteri itu masih dianggap peristiwa biasa. Tak ada upaya penyesalan dan penyelesaian atas peristiwa yang menyedihkan itu. Teori-teori pembenaran berkembang pesat bahwa peristiwa itu adalah hal biasa. Jangan dibawa-bawa ke arah klenik, kata mereka.

Padahal jika ditembus dengan mata batin, peristiwa ini merupakan gamparan yang sangat serius, seorang ibu negara “terpermalukan” di hadapan ribuan pendukungnya.

Rezim ini tak hanya disentil udang dan ditampar kantor pusat BPN, tetapi digampar oleh kasus Rommy, Bowo, dan kasus korupsi lainnya.

Tampaknya kepekaan menjadi barang langka bagi rezim ini. Sensitivitas dan olah rasa jauh dari jiwa-jiwa yang lembut. Hanya jiwa jiwa suci yang mampu menterjemahkannya.

Jangankan peka terhadap sinyal langit, sinyal nyata seperti penderitaan rakyat akibat kebijakan yang keliru pun tak mampu diraba.

Sinyal migrasi dukungan dari 01 ke 02 juga tidak membuat mereka introspeksi secara benar.

Mereka lebih tertarik menyewa massa untuk menutupi minimnya kampanye capres mereka. Maklum, perang total mereka belum total, maka segala upaya dilakukan.

Mereka tutup mata manakala diperlihatkan angka elektabilitas. Mereka menolak temuan bahwa 8 dari 9 orang yang disurvei secara sederhana, memilih Prabowo. Hanya 1 yang pilih Jokowi.

Mereka malas membahas korlap-korlap yang dulu total mendukung Jokowi, kini memilih netral, bahkan ada yang merapat ke Prabowo.

Mereka juga tak peduli aparat pemerintah yang dipaksa ikut kampanye Jokowi, sesungguhnya hanya memuaskan libido kekuasaan atasannya.

Mereka tak mau ada penambahan dukungan baru bagi Prabowo.

Prabowo selalu dicitrakan sebagai penculik, pembunuh, dan pelanggar HAM. Padahal ngawur. Bagi mereka Prabowo sudah selesai.

Mereka tak paham, seluruh kekuatan rakyat telah dihibahkan untuk kemenangan Prabowo, dari karung beras hingga paket data.

Mereka sangat percaya diri bahwa Jokowi jauh lebih dikagumi ketimbang tahun 2014.
Fundamentalisme pendukung Jokowi telah mengabaikan akal sehat. Mereka masih ingin terus berpesta.

Tapi ingat, tak ada pesta yang tak usai. Ingar bingar kekuasaan telah berhasil dilewati dalam satu periode, meski terseok. Puja puji media massa dan utak atik angka lembaga survei telah sukses mengakhiri klaim keberhasilan sepihak rezim ini. Cukup lucu memang. Tetapi tidak menghibur dan tidak cukup memberikan kesejahteraan bagi rakyat.

Jokowi sebetulnya masih punya waktu untuk bertanya kepada “kyai” sebagaimana dulu bertanya saat mau jadi Gubernur dan Presiden.

Tapi deadline kekuasaan rezim ini sudah sampai pada batas waktu yang digariskan. Wis wayahe ganti rezim.

Tugas rezim di sisa waktu ini adalah melaksanakan apa yang telah dikumandangkannya selama ini. Jaga perdamaian, perkuat persatuan, dan menjaga agar rantai NKRI tidak putus. Sadarkan kepada para pendukung dan relawan, sebagaimana pesan Kyai Ma’ruf bahwa dalam pertarungan selalu ada yang kalah dan yang menang. Manusia hanya berusaha, Allah SWT yang menentukan.

(Penulis adalah Jurnalis kawakan, tinggal di Jakarta)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos