728 x 90

Terdapat 8 Juta Mustahik di Indonesia

Terdapat 8 Juta Mustahik di Indonesia

Jakarta, Djakartatoday.com Meski pertumbuhan ekonomi nasional rata rata mencapai 5 persen pertahun, namun terbukti masih terdapat 8 juta mustahik (yang berhak menerima zakat) di seluruh Indonesia. “Saat ini masih terdapat 8 juta mustahik di seluruh Indonesia. Sedangkan jumlah orang miskin mencapai 26 juta orang dimana mereka hidup dengan Rp 450.000 perbulan perorang. Sedangkan Baznas bertugas

Jakarta, Djakartatoday.com

Meski pertumbuhan ekonomi nasional rata rata mencapai 5 persen pertahun, namun terbukti masih terdapat 8 juta mustahik (yang berhak menerima zakat) di seluruh Indonesia.

“Saat ini masih terdapat 8 juta mustahik di seluruh Indonesia. Sedangkan jumlah orang miskin mencapai 26 juta orang dimana mereka hidup dengan Rp 450.000 perbulan perorang. Sedangkan Baznas bertugas mengentaskan 260 ribu penduduk miskin di Indonesia,” ujar Kepala Pusat Kajian Strategis Baznas, Dr Muhammad Hasbi pada acara diskusi “Sistim Database Mustahik Nasional (Mustahik Data Center) di Jakarta, Jum’at (12/4).
Turut hadir Direktur Operasi Baznas, Dr Wahyu TTK dan Kepala Divisi Monitoring dan Evaluasi Baznas, Efri Syamsul Bahri.

Menurut Muhammad Hasbi, Pusat Kajian Strategis Baznas saat ini telah memiliki database penduduk miskin pada 84.000 Desa dan Kalurahan di seluruh Indonesia. Selain ini pihaknya juga telah melakukan kerjasama dengan Kemensos dan Ditjen Dukcapil Kemendagri, dimana Ditjen Dukcapil memiliki 104 juta data sedangkan Kemensos 260 juta data penduduk seluruh Indonesia.

Sementara itu Baznas terus mengembangkan Sistem Database Mustahik Nasional (Mustahik Data Center) yang terintegrasi dalam upaya menajamkan sasaran penerima zakat dengan memanfaatkan data kemiskinan.

Menurut Wahyu, Baznas menggelar diskusi ini untuk menyampaikan kepada masyarakat mengenai pemanfaatan sistem digital dalam pengelolaan zakat nasional.

“Sistem digital dimanfaatkan dalam tiga bagian utama pengelolaan zakat yakni penghimpunan untuk kemudahan menunaikan zakat, digunakan juga dalma tata kelola untuk menjamin transparansi serta dimanfaatkan dalam penyaluran zakat,” kata Wahyu.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Baznas Bambang Sudibyo mengatakan, sistem ini akan mengintegrasikan data para mustahik baik dari data yang dimiliki BAZNAS, BAZNAS Provinsi, BAZNAS Kab/Kota dan para Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZ) lainnya.

“Dengan pemanfaatan data ini, BAZNAS berharap penyaluran zakat bisa lebih menyebar luas dan tepat sasaran. Database mustahik yang dikembangkan BAZNAS ini berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang disingkronkan dengan data kemiskinan Basis Data Terpadu (BDT) Kemensos, dan juga data kependudukan dari Ditjen Dukcapil Kemendagri,” katanya.

BAZNAS mengenalkan sebuah aplikasi berbasis Android yang diberi nama Indeks Zakat Nasional (IZN).

IZN yang dikembangkan BAZNAS ini merupakan sebuah aplikasi yang dapat mengukur performa pengelolaan zakat di setiap daerah dari 34 provinsi di Indonesia.

Menurut Bambang, selama ini dalam pengukuran IZN kapasitas yang dilakukan adalah dengan cara manual, yakni para amil zakat dari BAZNAS datang langsung mengambil data ke Kantor BAZNAS daerah dan menghitungnya. Namun, setelah diluncurkannya aplikasi IZN ini, para lembaga zakat bisa secara aktif menginput datanya secara online melalui aplikasi ini. Sesaat kemudian dengan cepat bisa diketahui berapa score IZN beserta kaji dampak zakatnya.

“Dari IZN ini dapat diukur bagaimana kinerja kelembagaan, kualitas database regional muzaki dan mustahik, data pertumbuhan penghimpunan dan serapan penyaluran, lalu bagaimana dampak zakatnya kepada masyarakat. Dua aplikasi ini adalah upaya peningkatan kredibilitas, dan profesionalitas para lembaga dalam pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah,” katanya. (Abdul Halim)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos