728 x 90

PRABOWO DAN MURSI

PRABOWO DAN MURSI

Oleh: Abdul Halim (Pemimpin Redaksi Djakartatoday.com) Meski berhasil memenangkan Pilpres paling demokratis dalam sejarah Mesir modern (2012), namun tokoh Ikhwanul Muslimin (IM) dan Ketua Partai FJP Mohammad Mursi hanya menjabat Presiden Mesir selama setahun lebih. Militer Mesir dibawah kepemimpinan Menhan dan Panglima  Angkatan Bersenjata Jenderal Abdul Fatah al Sisi mengkudetanya  (2013) sekaligus memenjarakannya hingga akhir

Oleh:

Abdul Halim

(Pemimpin Redaksi Djakartatoday.com)

Meski berhasil memenangkan Pilpres paling demokratis dalam sejarah Mesir modern (2012), namun tokoh Ikhwanul Muslimin (IM) dan Ketua Partai FJP Mohammad Mursi hanya menjabat Presiden Mesir selama setahun lebih. Militer Mesir dibawah kepemimpinan Menhan dan Panglima  Angkatan Bersenjata Jenderal Abdul Fatah al Sisi mengkudetanya  (2013) sekaligus memenjarakannya hingga akhir hayatnya (2019).

Meski  sebagai tokoh internasional dan dihormati diseluruh dunia, namun Mursi diperlakukan secara sadis dan biadab bak binatang dalam penjara militer di Kairo. Mursi ditempatkan dalam sel isolasi khusus yg sempit tak bisa bergerak dan tak bisa berkomunikasi dg para tahanan politik lainnya. Tidak hanya itu, tokoh Islam yang hafidz itu dilarang membaca Al Qur’an dan setiap hari mengalami penyiksaan keji dan biadab atas perintah al Sisi yg telah dibesarkannya. Meski menderita sakit diabetes yg akut

dan komplikasi penyakit lainnya, Mursi dilarang mendapatkan obat obatan. Bahkan selama 6 tahun dalam penjara, keluarganya hanya bisa mengunjunginya sebanyak 3 kali atau setiap dua tahun hanya boleh dikunjungi sekali saja.

Al Sisi yg sekarang menjabat Presiden Mesir secara otoriter hingga tahun 2030 nanti, jelas ingin membunuhnya secara pelan pelan dan niat jahat itu telah tercapai dg syahidnya Mursi ketika menghadiri Sidang Pengadilan Tinggi Militer Kairo pada 17 Juni lalu.

Namun yg lebih mengenaskan lagi, saat pemakaman Mursi di Kairo, hanya boleh dihadiri 10 orang anggota keluarganya dan seorang pengacaranya. Pada hari H pemakamannya, Siaga 1 diberlakukan di ibukota Kairo dan seantero Mesir.

Kesalahan Mursi menurut rezim militer hanyalah satu yakni tidak mau mengakui kekuasaan al Sisi dan rezim militernya sampai akhir hayatnya. Mursi haqqul yakin, bahwa dirinyalah Presiden yg sah hasil pilihan mayoritas rakyat Mesir, bukan al Sisi yg telah mengkudetanya dan akhirnya memenjarakannya dan membunuhnya.

Namun ironisnya, al Sisi mampu menduduki posisi puncak dalam hirarki militer Mesir sebagai Panglima SCAF menggantikan Marsekal Mohammad Thantawi berkat jasa dan kebaikan dari Presiden Mursi, ibarat air susu dibalas air tuba.

Prabowo

Tidak berbeda jauh, nasib Prabowo hampir sama dengan Mursi, dikhianati orang yang telah dibesarkannya hingga menjadi tokoh nasional. Cuma perbedaannya, Mursi yg sipil membesarkan tokoh militer, sebaliknya Prabowo yg militer membesarkan tokoh sipil. Ibarat memelihara anak Singa, setelah besar malah menerkamnya.

Tidak ada satupun yg berani mengingkari, Jokowi yg semula tokoh lokal Solo dapat menjadi tokoh nasional berkat jasa besar Prabowo. Prabowo dengan “Semangat 45” sampai bolak balik empat kali melobby Taufiq Kiemas dan Megawati agar PDIP mengusung Jokowi sebagai Cagub DKI sebab sudah terlanjur mendukung Cagub petahana Fauzi Bowo. Bahkan Prabowo siap menyediakan dananya dari hasil keuntungan panen perkebunan kelapa sawit miliknya di Kalimantan. Kabarnya Prabowo sampai menyumbang hingga Rp 27 miliar demi Jokowi menduduki kursi DKI-1. Namun tanpa perasaan malu, justru kebun kelapa sawit inilah yg menjadi “sasaran tembak” Jokowi dalam debat Capres lalu.

Namun apa balasan Jokowi atas jasa dan kebaikan Prabowo yg membawanya dari AD-1 ke DKI-1 ? penghianatan ! Seperti yg dilakukan al Sisi terhadap Mursi.

Setelah Jokowi menjabat DKI-1 lebih dari setahun, tanpa memberitahu Prabowo yg sudah siap nyapres, tiba tiba Jokowi ikut nyapres dengan dukungan PDIP. Semula Prabowo tidak percaya, sebab ketika sebelumnya bertemu adiknya Hasyim Djojohadikusumo, Jokowi berhasil meyakinkan Hasyim kalau dirinya tidak akan ikut kompetisi Pilpres 2014, sedangkan Prabowo sendiri yakin masih terikat Perjanjian Batutulis dg Megawati. Dengan nyapresnya Jokowi, maka Prabowo merasa dikhianati tokoh yg telah dibesarkannya sampai menduduki kursi DKI-1.

Penghianatan kedua Jokowi terhadap Prabowo adalah ketika Pilpres 2014, dimana Prabowo yakin hasil perolehan suaranya lebih unggul dari Jokowi. Namun berkat bantuan Presiden SBY dengan kekuatan seluruh aparat pemerintahannya termasuk KPU, Bawaslu dan MK, akhirnya Prabowo “terpaksa dikalahkan” dg dalih demi persatuan bangsa dan negara serta keutuhan NKRI.

Penghianatan ketiga terjadi pada Pilpres 2019, dimana skenario politiknya hampir sama dengan kedua, namun kali ini lebih Terstruktur Sistimatis dan Massif (TSM) sebab Jokowi jadi petahana. Maka sempurnalah penghianatan Jokowi terhadap Prabowo kali ini.

Maka tidaklah mengherankan, meski telah dibujuk, dirayu, dilobby bahkan ditekan terus menerus oleh para hulubalang Istana selama hampir tiga bulan ini pasca Pilpres agar bertemu dan akhirnya rekonsiliasi dengan Jokowi, Prabowo tetap bersikukuh menolaknya, meskipun telah mengakui hasil sidang putusan MK yg memenangkan Jokowi. “Keledai saja tak akan terperosok dalam satu lubang sampai dua kali, masak manusia kalah dengan keledai”, kira kira begitu penilaian Prabowo.

Sekarang yg menjadi pertanyaan adalah, kalau As Syahid Presiden Mesir yg sah Mohammad Mursi bersikukuh hingga akhir hayatnya menolak legitimasi kekuasaan al Sisi yg mengkudetanya, apakah Prabowo akan mengikuti jejak langkah Mursi hingga malaikat maut menjemput dirinya, dimana akan terus menolak bertemu dan rekonsiliasi dengan Jokowi yg dinilainya telah menghianati, mendholimi dan mencuranginya dalam Pilpres 2014 dan 2019 ? Wallahu A’lam. (*)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos