728 x 90

PRABOWO BUKAN JENDERAL POLITIK TETAPI JENDERAL PERANG

PRABOWO BUKAN JENDERAL POLITIK TETAPI JENDERAL PERANG

Oleh: Abdul Halim (Pemred Djakartatoday.com) Setelah lama dibujuk, dilobby, dirayu, ditakut-takutin bahkan ditekan secara psikilogis dan politik oleh para genderuwo Istana, akhirnya Prabowo “pasrah bongkokan” alias menyerah kalah melawan rival politiknya dalam Pilpres 2019, Jokowi. Tentu saja Sabtu lalu (13/7) merupakan sejarah hitam bagi demokrasi di Indonesia sekaligus hari bersejarah dan pesta pora bagi para

Oleh:

Abdul Halim

(Pemred Djakartatoday.com)

Setelah lama dibujuk, dilobby, dirayu, ditakut-takutin bahkan ditekan secara psikilogis dan politik oleh para genderuwo Istana, akhirnya Prabowo “pasrah bongkokan” alias menyerah kalah melawan rival politiknya dalam Pilpres 2019, Jokowi.

Tentu saja Sabtu lalu (13/7) merupakan sejarah hitam bagi demokrasi di Indonesia sekaligus hari bersejarah dan pesta pora bagi para pandukung fanatik Jokowi, karena telah berhasil memaksa sang jenderal perang untuk mengakui legitimasi kekuasaan Jokowi sebagai RI-1, meski dilakukan melalui kecurangan yang TSM plus Brutal.

Meski kedua tokoh menganggapnya sebagai pertemuan biasa karena sebelumnya telah empat kali bertemu dalam waktu lima tahun ini, tetapi pertemuan itu baru pertama kali terjadi pasca Pilpres lalu. Apalagi Prabowo sempat mengucapkan selamat pada Jokowi atas terpilihnya kembali sebagai RI-1. Jelas ucapan dari Prabowo itu menunjukkan pengakuannya atas legitimasi kekuasaan Jokowi sekaligus menjadi momentum yg ditunggu tunggu para pendukung dan hulubalang Istana.

Meski sama sama putera tokoh bangsa, Prabowo memang bukan Megawati yg dikenal sebagai politisi hebat dengan segudang pengalaman politiknya. Ketika terpuruk secara politik pada Pilpres 2004, Megawati bukannya menyerah  dan bertemu rival politiknya SBY, tetapi Megawati mampu bertahan selama 10 tahun untuk menolak bertemu SBY yang dinilainya telah menghianatinya, apalagi mengakui legitimasi kekuasaannya.

Prabowo juga bukan Presiden Mesir Muhammad Mursi yang menolak legitimasi kekuasaan Jenderal Abdul Fatah al Sisi yg telah mengkudetanya dan memenjarakannya sampai menemui kesyahidannya.

 

Jebakan Jokowi

 

Meski pertemuan Prabowo-Jokowi dilakukan di tempat netral Stasiun MRT dan rumah makan di Jakarta bukan di Istana atau Hambalang, namun bagaimanapun pertemuan kedua tokoh itu menunjukkan Prabowo telah masuk perangkap dan jebakan Jokowi sekaligus akan mengakhiri karier politik Prabowo untuk selama-lamanya.

Ternyata sejarah kembali terulang, dimana Mayor Jenderal De Kock berhasil menjebak Pangeran Diponegoro dalam perundingan rekonsiliasi di Magelang (1830), yg mengakhiri perjuangan Pangeran Diponegoro melawan kolonialis Belanda sekaligus mengakhiri Perang Jawa (1825-1830) yang sempat memporak-porandakan perekonomian Kerajaan Belanda waktu itu.

Dengan terjadinya rekonsiliasi politik Prabowo Jokowi, memang diakui polarisasi dan ketegangan politik yg terjadi di masyarakat akan mereda. Namun yg jelas, Jokowi akan sangat diuntungkan, sebaliknya Prabowo akan sangat dirugikan.

Dapat dipastikan para pendukung 02 yg sebelumnya solid di belakang Prabowo, pasti akan terpecah menjadi dua kelompok besar, pro rekonsiliasi politik dan menolak rekonsiliasi politik dg argumennya masing masing. Sebaliknya para pendukung 01 akan semakin solid dibelakang Jokowi dan dukungan elite politik dan parpol pendukung  koalisi 01 akan semakin menguat. Sebaliknya parpol pendukung koalisi 02 akan semakin rontok satu persatu dan barangkali hanya tinggal PKS yg tetap istiqomah di jalur oposisi, sementara PAN, Demokrat bahkan Gerindra akan menjadi jongos rezim yg berkuasa meski  meyakini kekuasaan ini didapat dari hasil Pilpres curang secara TSMB.

Memang sebaiknya Prabowo jangan lagi bermimpi untuk kembali ikut kontestasi politik 2024 nanti, sebab para ulama dg dukungan umat Islam sebagai pemilih terbesar pasti akan menolaknya.

Sebab Prabowo akan dinilai sebagai pemimpin yg tak konsisten dg janji janji politiknya selama kampanye, dimana bertekad akan berjuang bersama rakyat sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara dari tangan tangan kotor asing dan aseng, namun ternyata semuanya itu hanya bullshit.

Wahai Prabowo, memang antum bukan Jenderal Politik yg mampu memimpin pasukan dalam perang politik sebagaimana SBY, tetapi antum hanyalah Jenderal Perang yg gagal memimpin pasukan dalam perang politik untuk merebut kursi kekuasaan.

Sebaiknya antum sekarang jadi Negarawan saja dan jangan mencoba sekali lagi untuk berkompetisi memperebutkan kursi RI-1. Berilah kesempatan para politisi muda yg mendapat dukungan  ijtima’ para ulama dan umat Islam untuk maju berkompetisi memperebutkan kursi RI-1 pada 2024 nanti, in shaa Allah akan menang, wallahu a’lam. (*)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos