728 x 90

DINASTI POLITIK JOKOWI

DINASTI POLITIK JOKOWI

Oleh: Abdul Halim (Pemred Djakartatoday.com) Setelah merasa haqqul yaqin menang dalam perebutan kursi RI-1 melawan Prabowo Subiyanto, tampaknya Jokowi bersiap memulai pemerintahan periode kedua (2019-2024) dengan membangun dinasti politik baru. Sebab Jokowi sadar, periode kedua ini merupakan periode terakhir dirinya menjabat Presiden RI, kecuali kalau dia merasa powerfull sehingga nekat merubah UU sebagaimana dilakukan diktator

Oleh:

Abdul Halim

(Pemred Djakartatoday.com)

Setelah merasa haqqul yaqin menang dalam perebutan kursi RI-1 melawan Prabowo Subiyanto, tampaknya Jokowi bersiap memulai pemerintahan periode kedua (2019-2024) dengan membangun dinasti politik baru.

Sebab Jokowi sadar, periode kedua ini merupakan periode terakhir dirinya menjabat Presiden RI, kecuali kalau dia merasa powerfull sehingga nekat merubah UU sebagaimana dilakukan diktator Mesir Abdul Fatah al Sisi, agar bisa menjabat hingga periode ketiga (2024-2029).

Terbukti Jokowi merestui kedua putranya, Gibran Rakabuning Raka dan Kaesang Pengarep untuk maju pada Pilkada Kota Solo 2020 dan menantunya Bobby Nasution untuk maju menjadi bakal Cawali Medan

pada Pilkada 2020.

Memang Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo tak bisa mencalonkan kembali karena sudah dua kali masa jabatan. Sebelumnya FX Hadi Rudyatmo merupakan Wakil Walikota ketika Jokowi selama 7 tahun menjabat Walikota Solo (2005-2012) sebelum menjabat Gubernur DKI dan Presiden RI.

Berdasarkan hasil survei bakal Cawali Solo periode 2020-2025 yang dilakukan Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo pada Juli lalu, Gibran nenempati posisi teratas alias paling populer daripada bakal calon Walikota lainnya, seperti Ahmad Purnomo (PDIP, Wakil Walikota Solo), Kaesang Pengarep (adik Gibran) dan Teguh Prakosa (PDIP, Ketua DPRD Solo).

Padahal jika dibandingkan dengan Ahmad Purnomo dan Teguh Prakosa dalam pengalaman politik dan pemerintahan, Gibran dan Kaesang tidak ada apa apanya sebab keduanya masih sangat muda dan sama sekali tidak memiliki pengalaman politik apalagi pemerintahan. Namun nama besar bapaknya sebagai Walikota, Gubernur dan Presiden ikut mengerek nama kedua putranya tersebut.

Meskipun UU tidak melarang anak pejabat maju dalam Pilkada, namun munculnya nama Gibran dan Kaesang dalam bursa kandidat Cawali Solo dapat menurunkan citra politik Jokowi karena dinilai oleh rakyat telah melakukan politik nepotisme. Rakyat akan menilai Jokowi menggunakan “aji mumpung”  dalam berkuasa demi membangun dinasti politik bagi keluarganya. Apalagi Jokowi telah menyatakan mendukung sepenuhnya langkah anak anaknya dan menantunya untuk terjun ke dunia usaha maupun politik.

“Kalau sudah diputuskan anak anak, ya apapun. Jualan pisang saya dukung, jualan martabak saya dukung,” tegas Jokowi.

Jokowi tentu beralasan wajar saja, sebab UU tidak melarang apalagi sudah banyak contoh pejabat dan mantan pejabat pusat maupun daerah telah berhasil membangun dinasti politik bagi anak anak dan keluarganya. Jadi sangatlah wajar jika Jokowi ikut membangun dinasti politik baru di Indonesia.

Ditengah-tengah ruwetnya penyusunan formasi Kabinet yang akan dilantik  pada Oktober nanti, seperti adanya ultimatum dari Megawati agar PDIP dapat jatah kursi Kabinet paling banyak, Jokowi jelas tidak melupakan Pilkada Solo dan Medan. Sebab kedua Pilkada tersebut dinilainya paling strategis bagi masa depan dinasti politiknya.

Sudah jelas, Jokowi memiliki agenda politik tersendiri dengan berusaha membangun dinasti politik baru ditengah-tengah iklim demokrasi yg lagi berkembang di Indonesia sekarang ini.

Meski sebagian pengamat politik mengakui, selama lima tahun pemerintahannya, sesungguhnya Presiden Jokowi hanyalah boneka para elite politik yg berada pada inner-circle kekuasaannya, maka pada periode keduanya nanti, asumsi seperti itu akan berusaha dihapuskan dari agenda buku harian politiknya, diantaranya dengan berusaha mengurangi tekanan para elite politik terutama dalam penyusunan formasi Kabinet barunya dimana Jokowi akan berusaha menegakkan hak prerogatifnya. Selain itu Jokowi berusaha membangun dinasti politiknya meski masih berada pada level kota Solo dan Medan.

Sekarang yg menjadi pertanyaan adalah, mengapa Presiden Jokowi berusaha membangun dinasti politik bagi keluarganya ?

Pertama, Jokowi berusaha meniru para elite politik lainnya baik tingkat lokal maupun nasional yg juga berhasil membangun dinasti politik bagi anak anak dan keluarganya.

Kedua, patut diduga Jokowi telah menganggap dirinya seperti para Sultan, Sunan atau Raja Jawa, sehingga perlu membangun dinasti politik.

Terbukti ketika menikahkan putrinya tahun 2017 lalu, Jokowi sampai memboyong ke Jakarta tujuh Kereta Kasunanan Kraton Surakarta termasuk Kereta Garuda Kencana yg sering dipakai kirab dan upacara jumenengan Sunan Pakubuwono XIII, Raja Kraton Kasunanan Surakarta.

Ketiga, Jokowi berusaha membangun dinasti politik demi melangengkan kekuasaannya.

Jokowi tampaknya belajar dari kegagalan Jawaharlal Nehru di India dan Zulfikar Ali Bhutto di Pakistan yg hanya berhasil membangun dinasti politik sampai pada generasi kedua. (*)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos