728 x 90

BAZNAS Sukses Berdayakan Para Pembatik dan Penenun Tradisionil dari Empat Daerah

BAZNAS Sukses Berdayakan Para Pembatik dan Penenun Tradisionil dari Empat Daerah

Jakarta, Djakartatoday.com Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) telah sukses memberdayakan para pembatik dan penenun tradisionil dari empat daerah di Indonesia melalui program “Rumah Batik dan Tenun Indonesia”. Adapun keempat daerah itu adalah Tuban (Jawa Timur), Bogor (Jawa Barat), Sambas (Kalimantan Barat), serta Ende (Nusa Tenggara Timur). “Sebelum mendapatkan program pemberdayaan Zakat dari BAZNAS, mereka merupakan

Jakarta, Djakartatoday.com

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) telah sukses memberdayakan para pembatik dan penenun tradisionil dari empat daerah di Indonesia melalui program “Rumah Batik dan Tenun Indonesia”.

Adapun keempat daerah itu adalah Tuban (Jawa Timur), Bogor (Jawa Barat), Sambas (Kalimantan Barat), serta Ende (Nusa Tenggara Timur).

“Sebelum mendapatkan program pemberdayaan Zakat dari BAZNAS, mereka merupakan buruh pabrik batik atau perajin tradisional yang penghasilannya sangat minim,” ujar Kepada Divisi Pendayagunaan Zakat BAZNAS, Randi Swandaru, pada acara Talk Show “Eco Fashion Sebagai Gaya Hidup Anak Muda Indonesia” pada Festival Filantropi Muda 2019 di Epiwalk Epicentrum, Jakarta Selatan, Ahad (3/11).

Menurut Randi Swandaru, BAZNAS telah mengkampanyekan gerakan ramah lingkungan melalui program-program pemberdayaan berbasis dana Zakat, Infak dan Sedekah (ZIS).

Dikatakannya, dana Zakat bukan hanya mendorong masyarakat yang kurang mampu menjadi sejahtera, namun juga memberikan nilai tambah untuk keberlanjutan dampaknya.

Bersama “Sahabat Pulau Indonesia”, BAZNAS mengembangkan potensi perajin kain dalam program “Rumah Batik dan Tenun Indonesia”. Program ini menggunakan Kain dan pewarna ramah lingkungan seperti kunyit dan tingi. Proses produksinya pun ¬†mengedepankan pentingnya menjaga lingkungan agar tidak terpapar bahan kimia secara terus menerus.

Program pemberdayaan ramah lingkungan ini diharapkan dapat selaras dengan gaya hidup masyarakat terutama para milenial yang makin sadar lingkungan.

“Sehingga bisa memberikan dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Dalam Talkshow tersebut hadir pula CEO Eco Fashion Indonesia (EFI), Merdi Sihombing, Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead; Ketua Dekranasda Kabupaten Dairi Pakpak, Romy Mariani Eddy; serta model senior Advina Ratnaningsih.

Kain hasil produksi para perajin dari Rumah Batik dan Tenun Indonesia dipamerkan dalam fashion show oleh para model profesional.

Menurut Merdi Sihombing, produk fashion yang bersifat ramah lingkungan, sering disebut dengan istilah Eco Fashion, Green Fashion atau Sustainable Fashion, dimana dalam beberapa tahun ini mendapat perhatian yang cukup besar dari anak muda di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

“Produk fashion dengan pewarna alam misalnya, mulai banyak dipakai oleh anak-anak muda. Mereka juga suka membeli produk lokal, made in Indonesia. Artinya dengan membeli produk lokal, kita akan memangkas jejak karbon cukup besar. Membeli produk dalam negeri, juga berdampak positif membantu meningkatkan perekonomian para perajin Indonesia,” katanya.

Perhatian besar anak-anak muda Indonesia terhadap Eco Fashion inilah yang mendorong BAZNAS dan EFI untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak yang dapat mendukung gaya hidup positif ini.

(Abdul Halim)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos