728 x 90

Mencari Dalang Pelaku Teror Besar Terhadap Novel Baswedan

Mencari Dalang Pelaku Teror Besar Terhadap Novel Baswedan

Oleh: Abdul Halim (Pemred Djakartatoday.com) Perlu waktu sampai 990 hari (11 April 2017 – 27 Desember 2019) bagi Polri untuk mengungkap kasus teror besar berupa penyerangan air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan yg menyebabkan mata kirinya hampir buta, meski sudah jelas ada CCTV-nya dan motor yang digunakan kedua pelaku diketahui adalah motor polisi.

Oleh:
Abdul Halim
(Pemred Djakartatoday.com)

Perlu waktu sampai 990 hari (11 April 2017 – 27 Desember 2019) bagi Polri untuk mengungkap kasus teror besar berupa penyerangan air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan yg menyebabkan mata kirinya hampir buta, meski sudah jelas ada CCTV-nya dan motor yang digunakan kedua pelaku diketahui adalah motor polisi.

Padahal selama ini Polri dikenal sangat ahli dan profesional dalam mengungkap berbagai kasus teror di tanah air. Tetapi untuk kasus Novel ini, sepertinya ada “keistimewaan” tersendiri. Selain kasusnya baru terungkap begitu lama, kedua tersangka oleh polisi hanya dikenakan pasal “pengeroyokan”, dimana hukumannya ringan.

Setelah mendapat desakan dan sorotan dari dunia internasional, tidak sampai sepekan setelah Presiden Jokowi memanggil Kapolri Jenderal (Pol) Idham Aziz ke Istana, kasus Novel baru terungkap dan ditetapkan tersangkanya dua orang anggota polisi aktif, Brigadir (Pol) RB dan RM melalui pengumuman  Kabareskrim, Komjen (Pol) Listyo Sigit Prabowo, Jum’at (27/12).

Padahal sebelumnya Presiden Jokowi sudah berkali kali memangil mantan Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian, namun kasus Novel itu tetap mandeg dan menjadi misteri. Seandainya Kapolri masih dijabat Tito, barangkali kasus besar ini tidak akan pernah terungkap ke hadapan rakyat Indonesia.

Dalam laporannya, TPF kasus Novel haqqul yakin bahwa kasus teror ini terkait dengan 5 kasus besar yang pernah dan sedang ditangani Novel, yakni: kasus korupsi KTP Elektronik, Akil Mochtar, Nurhadi, Wisma Atlet serta korupsi mantan Bupati Buol, Sulawesi Tengah. Sebelumnya Novel juga pernah  menanggani kasus besar korupsi mantan Kepala Korlantas, Irjen (Pol) Djoko Susilo. Maka tidaklah mengherankan jika tersangka Brigadir (Pol) RB menyebut Novel sebagai “penghianat”.

Sampai sekarang belum diketahui apa motif sesungguhnya dari Brigadir (Pol) RB dan RM sehingga sampai nekat melakukan kejahatan keji terhadap tokoh anti korupsi tersebut. Sebab penyerangan air keras terhadap Novel dimaksudkan bukan untuk membunuhnya, tetapi membuat Novel menjadi buta sehingga cacat dan menderita seumur hidup. Target pelaku tidak hanya itu, tetapi juga ingin menciptakan suasana teror dan ketakutan terhadap para penyidik KPK lainnya. Bahkan pelaku juga ingin menciptakan suasana teror bagi para pejuang anti korupsi dan HAM di Indonesia bahkan dunia.

Kiranya mustahil jika sebagai anggota polisi bawahan tidak mendapat perintah atasan untuk melakukan perbuatan teror berskala nasional bahkan internasional tersebut. Maka sekarang yg perlu dicari para penyidik Polri yang selama ini dikenal profesional dan berintegritas tinggi adalah, siapa sesungguhnya aktor intelektual atau dalang dari kasus kejahatan besar ini.

Sebenarnya itu mudah dicari sebab kedua tersangkanya sudah ditetapkan. Namun masalahnya, ibarat menghukum anaknya sendiri, kedua tersangka berasal dari institusi Polri sendiri serta apakah kedua tersangka nekat “pasang badan” menjadi pelindung bagi atasan yang memerintahkannya dengan iming iming keduniawian ?

Memang penyidik  Polri yang dikenal  profesional dan transparan itu wajib mengedepankan Asas Praduga Tak Bersalah dalam menangani kasus besar ini, meski TPF yang dibentuk Kapolri Tito Karnavian pernah memeriksa beberapa perwira tinggi Polri selain 40 saksi lainnya, namun hasilnya tetap nihil.

Seharusnya tim penyidik Polri dalam mengungkap kasus besar ini berangkat dari pernyataan Kapolda Metro Jaya Irjen (Pol) Mohammad Iriawan atau dikenal dengan Iwan Bule, yang sekarang menjabat Ketua Umum PSSI dimana  sebelumnya pernah memperingatkan Novel akan terjadi penyerangan terhadap dirinya. Logikanya, sebagai Kapolda Metro Jaya, Iwan Bule sudah mengetahui rencana kejahatan besar tersebut, tetapi mengapa tidak segera mengambil tindakan pencegahan untuk mengagalkan tindak pidana kejahatan keji tersebut ?

Inilah yang menjadi salah satu misteri yang sampai sekarang belum terungkap, selain misteri motif dan siapa dalang sesungguhnya dari kasus teror besar yang mengemparkan jagat hukum di tanah air tersebut.
Wallahu A’lam.

(Tangerang, Senin, 30/12/2019)

1 comment
Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

1 Comment

  • Slamet Riyadi
    December 30, 2019, 1:46 am

    Berarti pelaku cuma buat tumbal nya saja ya pa..di tanggapan lain juga ada Novel tidak yakin pelaku yg saat ini dalam penyidikan pelaku sesungguhnya

    REPLY

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos