728 x 90

YANG BILANG AGAMA MUSUH TERBESAR PANCASILA, OTAKNYA SUDAH SUWAK DAN MENISTA NKRI

YANG BILANG AGAMA MUSUH TERBESAR PANCASILA,  OTAKNYA SUDAH SUWAK DAN MENISTA NKRI

Baru beberapa hari menjabat Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menggantikan Dr. Yudi Latif yang mengundurkan diri pada 2018 lalu, Prof. Yudian Wahyudi, PhD. sudah berani petentang-petenteng karena merasa dirinya paling pintar dan ahli mengenai ideologi negara, Pancasila. Padahal Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu, ketika kuliah mengambil Program Strata-3 di AS, dikabarkan titel PhD

Baru beberapa hari menjabat Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menggantikan Dr. Yudi Latif yang mengundurkan diri pada 2018 lalu, Prof. Yudian Wahyudi, PhD. sudah berani petentang-petenteng karena merasa dirinya paling pintar dan ahli mengenai ideologi negara, Pancasila.

Padahal Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu, ketika kuliah mengambil Program Strata-3 di AS, dikabarkan titel PhD (Doktor) nya diperoleh karena “dikatrol” oleh kampusnya, karena merasa kasihan sudah lama tidak lulus lulus, sehingga hampir saja menjadi mahasiswa abadi dan gagal memperoleh gelar PhD.

Manusia dengan kualitas intelektual pas-pasan seperti itu, lha sekarang kok memimpin lembaga negara strategis semacam BPIP, sehingga berani berbicara mengenai Agama dan Pancasila meski ngawur. Hal itu semakin jelas menunjukkan kebodohan dan keideotannya serta rendahnya kualitas intelektualnya.
Maka tidaklah pantas jika Yudian Wahyudi masih terus memimpin BPIP dan Rektor UIN SUKA Yogyakarta.

Sebaiknya Presiden Jokowi segera mencopotnya dari kursi Kepala BPIP dan Menteri Agama dari kursi Rektor UIN SUKA Yogyakarta atau sekalian membubarkan BPIP, sebuan badan tempat pelarian para pensiunan pejabat tinggi negara dengan gaji segede gunung, sementara rakyatnya tambah miskin dan sengsara.

Sebab selama ini BPIP hanya dipakai sebagai alat politik kekuasaan rezim untuk mendiskreditkan umat Islam dan para ulamanya dengan fitnah anti Pancasila dan NKRI serta Radikalisme. Padahal Pancasila dan NKRI, merupakan hadiah terbesar umat Islam Indonesia dan para pemimpin serta ulamanya terhadap bangsa dan negaranya.

Berikut ini tanggapan Wakil Ketua Komisi Hukum MUI Pusat sekaligus Anggota Dewan Pakar ICMI Pusat, Irjen Pol Purn KH Anton Tabah Digdoyo, kepada Abdul Halim dari Djakartatoday.com mengenai pernyataan ngawur dan bodoh dari Kepala BPIP Yudian Wahyudi, dimana dia mengatakan : “Agama Jadi Musuh Terbesar Pancasila”.

Sebagai umat beragama, saya sangat tersinggung dengan ucapan Yudian Wahyudi tersebut. Bagaimana tidak, dia mrngatakan Agama Musuh Terbesar Pancasila. Kenapa dia jadi sedungu bin bodoh seperti itu ? Masak dia tak tahu sejarah, bagaimana Pancasila diusulkan, dikaji, dirumuskan dan ditetapkan sebagai ideologi negara Indonesia, dalam Jakarta Charter, kemudian tertuang dalam Pembukaan UUD Negara RI 1945.

Perjalanan panjang itu hendaknya membuka telinga mata dan hati setiap insan Indonesia, bahwa hubungan Negara dan Agama sangatlah erat, karena the founding fathers kita dengan tegas mendeklarasikan Indonesia bukan negara sekuler tetapi negara beragama, karena mewajibkan WNI wajib beragama dan menjadikan KeTuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar NKRI. (UUD45 pssal 28 dan 29). Dan dalam rangka tujuan pokok NKRI mencerdaskan bangsa dengan ilmu pengetahuan dan siapapun harus mengarah ke beriman bertakwa dan berakhlakul karimah. (Pasal 31 UUD 1945).

Dengan demikian, faktor sejarah para pendiri bangsa ini justru memposisikan Agama sangat penting dalam mengatur sistem pemerintahan negara dengan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa dan dijadikan dasar negara Indonesia. (Pasal 29 ayat 1).
Karena itu Yudian Wahyudi sangat konyol dengan mengatakan “Agama adalah musuh terbesar Pancasila”.

Manusia semacam itu tak layak duduk di kursi empuk Kepala BPIP, atau lebih baik bubarkan saja BPIP, sebab tidak bermanfaat dan malah membahayakan eksistensi NKRI jika dipimpin oleh orang-orang yang kontra terhadap Pancasila.

Coba lihat yang duduk di BPIP ada yang tak percaya pada Akhirat. Sedangkan kini ketuanya bilang bahwa agama musuh terbesar Pancasila.

Dia bukan hanya wajib dipecat dari Kepala BPIP, tetapi juga harus dihukum kalau ada ancaman pidananya ya dipenjara. Kalau belum ada, ya hukum sosial lebih dahsyat efeknya.

Kalau Jokowi tidak mau memecat Yudian, berarti Jokowi sepaham dengan Yudian dan Jokowi harus diimpeachment. Jangan main-main dengan ideologi NKRI yang jadi perekat bangsa Indonesia.
Kalau Presiden Jokowi main-main dengan Pancasila, maka itu termasuk pelanggaran sangat serius dan dapat dilengserkan dari kursi kekuasaannya.

(Abdul Halim/R)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos