728 x 90

Pemimpin Kalau Cerdas Akan Peka Rasa Peka Hati Bukan Mati Rasa Tanpa Hati

Pemimpin Kalau Cerdas Akan Peka Rasa Peka Hati Bukan Mati Rasa Tanpa Hati

Dalam wawancaranya dengan wartawan BBC yang dikutip Gelora.Co, Senin (9/3), Presiden Jokowi mengatakan, tidak masalah Presiden Indonesia dari kalangan non Muslim. “Tidak ada masalah buat saya,” kata Jokowi kepada wartawan BBC. Menurut Jokowi, dalam demokrasi, semua warga negara termasuk dari kalangan non Muslim bisa menjadi Presiden. “Ya kenapa tidak, kalau rakyat menghendaki, dicoba saja rakyat

Dalam wawancaranya dengan wartawan BBC yang dikutip Gelora.Co, Senin (9/3), Presiden Jokowi mengatakan, tidak masalah Presiden Indonesia dari kalangan non Muslim.

“Tidak ada masalah buat saya,” kata Jokowi kepada wartawan BBC.

Menurut Jokowi, dalam demokrasi, semua warga negara termasuk dari kalangan non Muslim bisa menjadi Presiden.

“Ya kenapa tidak, kalau rakyat menghendaki, dicoba saja rakyat menghendaki atau tidak. Ini demokrasi, kalau rakyat menghendaki kenapa tidak,” jelasnya.

Dikatakan Jokowi, di beberapa daerah ada Gubernur non Muslim, Bupati, Walikota non Muslim.

“Wakil Walikota di Solo Katolik ketika saya menjabat Walikota, di Jakarta juga sama, Wakil Gubernur saya Kristen,” ungkapnya dengan bangga.

Menurut Jokowi, masyarakat Indonesia sangat menghormati perbedaan.

“DNA masyarakat Indonesia adalah toleran dan moderat,” tegas Jokowi.

Sudah sangat jelas, yang dimaksud Jokowi adalah si penista agama Islam, Ahok, yg sekarang menjabat Komut Pertamina dan calon kuat Gubernur Ibukota baru di Kaltim. Pada 2024 nanti, Jokowi dan rezimnya akan berjuang keras dengan memanfaatkan akhir masa jabatannya untuk menjadikan si penista agama Islam, Ahok, agar menduduki kursi RI-1 periode 2024-2029 dengan menggantikannya sebagai Presiden RI.

Berikut ini tanggapan keras dan tegas dari Pengurus Pusat MUI, Irjen Pol KH Anton Tabah Digdoyo, mengenai pernyataan Jokowi yg bisa memprovokasi umat Islam Indonesia tersebut :

Orang cerdas apalagi pemimpin itu harus peka rasa peka hati. Orang bodoh kebalikannya, tak peka rasa tak peka hati bahkan mati rasa. Maka falsafah Jawa ada ajaran *”ngono yo ngono ning ojo ngono”*. Orang bijak tahu kapan bicara kapan diam. Dalam kondisi sosial distrust ini, kata kata Jokowi itu sungguh tidak tepat. Saya heran apakah Jokowi tak punya penasehat ahli komunikasi sosial ya ?

Beberapa hari ini juga viral di media massa, Jokowi mempromosikan Ahok untuk memimpin Ibukota baru di Kaltim. Dalam perspektif komunikasi politik maupun sosial, Jokowi seperti menentang arus memantik kemarahan sosial, seperti tak ada orang saja dimana bekas penista agama dijadikan pemimpin.

Falsafah Jawa mengatakan harus bisa angon angin.

NKRI itu negara Muslim terbesar di dunia, bangsa mana pun akan menghormati mayoritas dan itu bukan diskriminasi. Perkataan Jokowi tidak tepat dan sangat kontra produktif, karena kerakyatan kebangsaan dan kenegaraan tak cuma dibangun dengan hukum hitam putih, tetapi juga filosofis sosiologis apa yg hidup di tengah tengah masyarakat seharusnya dipertimbangkan, bukan asal asalan lalu semau gue.

Membangun bangsa perlu ketentraman kedamaian dan itu tercapai jika bisa aspiratif terhadap mayoritas rakyatnya, bukan ukuran menang kalah dalam Pemilu karena kemenangan Pemilu di Indonesia itu bisa di desain.

Demikian antara lain sindiran tokoh tokoh dunia yang satir getir. Hasil Pemilu di Amerika diketahui sebulan setelah Pemilu, di Eropa setelah 2 bulan Pemilu, sedangkan di Indonesia sebelum Pemilu pun pemenangnya sudah diketahui.

Saya ingatkan Jokowi, agar hati hati bicara, jangan mudah membuat statemen yang kontroversi. Mulutmu adalah Harimaumu. (Abdul Halim/R)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos