728 x 90

Jokowi Siapkan Ahok Jadi Presiden ?

Jokowi Siapkan Ahok Jadi Presiden ?

Oleh : Tony Rosyid (Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa) Ahok, manusia satu ini gak ada matinya. Didemo tujuh hingga belasan juta orang, jatuh. Kalah di Pilgub DKI dan dipenjara dua tahun, keluarganya pun ikut berantakan. Keluar dari penjara, Ahok bangkit kembali. Kali ini malah jadi Komisaris Utama (Komut) PT. Pertamina, BUMN yang aduhai duitnya. Protes

Oleh :

Tony Rosyid

(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

Ahok, manusia satu ini gak ada matinya. Didemo tujuh hingga belasan juta orang, jatuh. Kalah di Pilgub DKI dan dipenjara dua tahun, keluarganya pun ikut berantakan. Keluar dari penjara, Ahok bangkit kembali. Kali ini malah jadi Komisaris Utama (Komut) PT. Pertamina, BUMN yang aduhai duitnya.

Protes dimana-dimana, Jokowi berhitung ternyata hanya riak, bukan gelombang, tak berbahaya dan rencana jalan terus.

Rupanya, Jokowi punya keyakinan sendiri. Keyakinan atau rencana ? Itu yang sedang dalam banyak pengamatan. Rakyat membacanya, kemana arah manuver Jokowi ini nantinya. Yang pasti, Ahok jadi Komut PT. Pertamina. Ini tanda bahwa Ahok punya kesempatan untuk bangkit kembali. Tepatnya, dibangkitkan lagi oleh Jokowi.

Meski belum tampak hasil kinerjanya sebagai Komut PT. Pertamina, Jokowi sudah menyebut Ahok akan jadi calon Kepala Badan Otorita Ibu Kota Baru. Sepertinya Ahok adalah calon terkuat, meski ada nama Bambang Bridjonegoro, Abdullah Azwar Anas dan Tumiyana. Tiga nama yang disebut belakangan boleh jadi sekedar cadangan, ban serep atau pelengkap penderita. Cadangan hanya akan dipakai jika Ahok gagal. Ahok berpotensi gagal jika protes terhadap dirinya membesar jadi gelombang tsunami. Selama protes terhadap Ahok tak massif, apalagi hanya riak-riak kecil di Medsos, atau paling banter di acara ILC, peluang Ahok jadi Kepala Badan Otorita Ibu Kota Baru sangat besar. Protes tak massif artinya tak membahayakan terhadap posisi Jokowi sebagai RI-1.

Sebaliknya, jika protes mulai membahayakan kekuasaannya, mungkin Jokowi akan berhitung lagi. Ahok bisa ditarik mundur selangkah untuk kemudian maju kembali. Seandainya pun Ahok gagal sebagai Kepala Badan Otorita Ibu Kota Baru, tak lantas karir Ahok berhenti di PT. Pertamina. Masih akan ada posisi-posisi penting dan strategis yang disiapkan untuk Ahok kedepan. Tentu, sebelum Jokowi turun dari kursi Presiden pada 2024 nanti.

Jabatan Komut PT. Pertamina diduga oleh banyak pengamat hanya sebagai batu loncatan untuk Ahok reborn. Analisis ini seolah mendapat pembenaran ketika Jokowi mengumumkan Ahok sebagai kandidat Kepala Badan Otorita Ibu Kota Baru, clear !

Tak lama setelah nama Ahok disebut sebagai kandidat kepala Badan Otorita Ibu Kota Baru, lagi-lagi Jokowi membuat sebuah pernyataan mengejutkan: “Tidak masalah Presiden Indonesia itu non-muslim”. Tentu saja publik ramai, Jokowi dianggap seolah-olah telah menyiapkan perahu politik untuk Ahok yang notabene non-Muslim sebagai Capres 2024. Analisis ini masuk akal, mengingat belum ada nama kandidat yang potensial di luar Anies Baswedan.

Survei elektabilitas Mendagri Tito Karnavian, orang dekat Jokowi, masih sangat rendah. Sementara Puan Maharani, Ganjar Pranowo dan Risma Trimaharini, selain masih sangat rendah, juga bukan calon Jokowi. Tiga kader PDIP itu milik Megawati. Kecil kemungkinan Jokowi berpatner dengan Megawati di Pilpres 2024. Gabung dengan Mega, Jokowi pasca pensiun hanya akan jadi anggota biasa di PDIP, no pengaruh. Apalagi selama menjadi Presiden, kabarnya Jokowi telah banyak mengecewakan Megawati. Maka, akan jauh lebih strategis jika Jokowi punya calon Presiden sendiri.

Untuk sementara, hanya Ahok dan Tito Karnavian yang bisa dimainkan oleh Jokowi. Jika kedua tokoh ini pun gagal dibranding, mendukung Anies bagi Jokowi jauh lebih rasional dari pada bergabung dengan Megawati.

Ketika Jokowi bilang bahwa calon Presiden boleh non-Muslim, tentu sebagai Pesiden, Jokowi tak asal bicara. Soal langkah politik, Jokowi berpengalaman dan sangat terukur. Boleh orang meremehkannya, tetapi dua periode menjadi Presiden bukanlah perkara mudah, butuh kemampuan berpolitik kelas tinggi. Jadi, perkataan Jokowi bahwa Presiden boleh non-Muslim tentu punya arah. Ucapan Jokowi tak keluar di ruang hampa. Artinya, bukan hanya omong kosong.

Komut PT Pertamina, lanjut Kepala Otorita Ibu Kota Baru, lalu nyapres adalah proses branding. Ahok sendiri baru-baru ini juga pernah menyatakan bahwa dia bisa jadi Presiden. Bagaimana dengan aturan perundang-undan ? Semua bisa dirubah dan dikondisikan. Parlemen saat ini ada di genggaman Jokowi. Persoalan sesungguhnya bukan di aturan, tapi bagaimana hasil survei elektabilitas Ahok, itulah yang akan jadi variabel untuk menentukan.

Mungkinkah Anies Baswedan vs Ahok akan terulang di Pilpres 2024 ? Tak ada yang tak mungkin. Jika itu terjadi, tentu akan jauh lebih panas dari Pilgub DKI 2017 dan Pilpres 2019. Benturan sosial mungkin akan jauh lebih dahsyat. Politik identitas yang terakumulasi dengan kekecewaan terhadap kekuasaan akan memicu terjadinya gelombang aksi massa dan benturan sosial.

Secara obyektif, berbasis pada pertama, analisis Pilgub DKI 2017, dan kedua, melihat psikologi dan karakter rakyat Indonesia, maka rivalitas Anies vs Ahok di Pilpres 2024 tidak hanya akan membuat benturan sosial, tapi akan berpotensi terjadinya perang saudara. Tentu, ini adalah prediksi.

Bagi kelompok tertentu, Ahok dianggap ancaman tidak saja terhadap agama Islam yang dipeluk mayoritas rakyat, tapi juga bangsa dan negara. Ini sebuah analisis yang baik sekiranya disurvei datanya di lapangan. Bukan hanya survei elektabilitas berbasis kuantitatif, tapi juga survei etnografis untuk membaca potensi konflik jika Ahok dipaksakan untuk nyapres.

(Jakarta, 11 Maret 2020)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos