728 x 90

Reconquesta, Kejatuhan Granada 1492 & Ottoman Turki

Reconquesta, Kejatuhan Granada 1492 & Ottoman Turki

Oleh : Dr. KH. Fahmi Salim Lc. MA. Latar Belakang Kejatuhan Granada Pada abad 11, 12 dan 13 Masehi, adalah masa genting dan mengancam umat Islam di Timur maupun Barat. Penyebab utama kekalahan umat Islam saat itu adalah: 1. Lemahnya ruh jihad di kalangan elit pemimpin dan bangsawan. 2. Bermewahan dan bermegahan. Motif berlomba materi

Oleh :

Dr. KH. Fahmi Salim Lc. MA.

Latar Belakang Kejatuhan Granada

Pada abad 11, 12 dan 13 Masehi, adalah masa genting dan mengancam umat Islam di Timur maupun Barat. Penyebab utama kekalahan umat Islam saat itu adalah:

1. Lemahnya ruh jihad di kalangan elit pemimpin dan bangsawan.

2. Bermewahan dan bermegahan. Motif berlomba materi dengan pesaingnya.

3. Lemahnya dakwah amar makruf nahi munkar.

4. Perpecahan elit Muslimin dan persatuan elit kaum Kuffar.

Peran Ulama yg menghembuskan jihad di Timur Islam sangatlah luar biasa, seperti Abu Hamid al-Ghazali, Abdul Qadir al-Jilani, Abu Bakar al-Turthusiy, Izzuddin bin Abdissalam, Syaikh Ibnu Arabi, Ibnu Taymiah, Syamsuddin Aq dan Ahmad Alkurani.

Sementara di Barat dunia Islam, semangat jihad itu kurang bergema.

Di Timur, umat Islam menghadapi ancaman dan serangan dari koalisi Salibis Eropa (1099-1187 M) dan juga Dinasti Mongol (1200-1260 M).

Salibis (gabungan Romawi Barat dan Timur) mengancam Mesir, Syam dan Anatolia. Mongolis mengancam Afghanistan, Bukhara, Samarkand, Irak dan Anatolia.

Baik Salibis dan Mongolis sementara waktu dapat menjarah dan menjajah dunia Islam di Timur. Baitul Maqdis (Jerusalem, 1099 M) dan kota kota satelit di Syam dapat diduduki pasukan Salib hingga mereka dapat membangun dinasti politik selama 1 abad.

Sedangkan Samarkand, Bukhara, Baghdad dan Anatolia diserbu pasukan Mongol, bahkan Baghdad ibukota Abbasiyah (1258 M) diluluh-lantakkan dalam waktu hanya 40 hari tak bersisa oleh pasukan Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan, cucu Jenghis Khan.

Namun dengan izin Allah ta’ala dan berkah dakwah para ulama, umat Islam berhasil bangkit kembali dan mengalahkan Salibis tahun 1187 M di Hittin dan menghancurkan Mongolis di Ain Jalut tahun 1260 M. Maka selamatlah dunia Islam Timur dari kehancuran.

Di Barat, umat Islam menghadapi ancaman intrik politik perpecahan internal penguasa penguasa Muslim di Maghribi dan Andalusia, dan serangan serangan pasukan Nasrani di Spanyol yang menggerogoti dan merebut kembali (reconquesta) wilayah wilayah Islam Andalusia sejak runtuhnya Kekhalifahan Umayyah II tahun 1033 M.

Reconquesta merambat mulai dari Toledo (1085 M), Zaragoza (1118 M), Lisbon (1147 M), Tortosa (1148 M) hingga ke Cordoba (1236 M) dan Sevilla (1248 M).

Untuk hentikan laju reconquesta sementara waktu, Dinasti Bani Ahmar di Granada berdamai dengan Raja Castilla pada tahun 1245 hingga kerajaan Islam Granada masih sanggup bertahan hampir 2 abad sejak 1309-1492 M.

*Bangkitnya Usmaniyah*

Jika Baghdad pusat Kekhalifahan Abbasiyah musnah total oleh Mongolis meski secara politis masih eksis berlanjut di Mesir di era Dinasti Mamalik, maka Cordoba, Sevilla, Toledo dan Granada fisiknya masih utuh meski secara politik telah musnah total. Subhanallah, itulah takdir Allah, dan Allah punya rencana lain.

Di penghujung abad 13 M, tepatnya tahun 1299 berdiri Kesultanan Usmaniyah di Anatolia di Desa Sogut Asia Kecil yang berbatasan dengan Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Romawi Timur. Berawal dari tanah perdikan otonomi yg dihadiahkan Sultan Alauddin Qaikubad, Sultan Seljuk Rum kepada Ertugrul Gazi. Keluarga Osman, penerus Ertugrul Gazi berperan menggantikan redupnya Kesultanan Seljuk Rum, Dinasti Ayyubid, Dinasti Mamalik dan sisa sisa keturunan Dinasti Abbasiyah yg pindah ke Cairo. Juga menggantikan secara perlahan Dinasti Islam di Maghribi dan Andalusia yang mulai menyusut menuju kebangkrutan total tahun 1492 M.

Sampai akhirnya Allah takdirkan Kesultanan Usmaniyah di masa Sultan Mehmet II berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M atau 39 tahun menjelang keruntuhan Granada di Andalusia tahun 1492 M.

*Peran Daulah Usmaniyah*

Disinilah muncul pertanyaan besar mengapa Ottoman Turki tidak bisa menyelamatkan Andalusia di saat mereka sedang jaya menanjak sebagai imperium besar Islam di Asia dan Eropa Timur?

Kerajaan Islam Granada jatuh pada 1492 di masa Sultan Bayazid II (putera Sultan Mehmet II) berkuasa. Dilanjutkan oleh Sultan Salim I dan Sulaiman Qanuni yang berjaya melakukan penaklukan Islam ke Eropa Timur dan sebagian Eropa Tengah. Saat Ottoman menjelma sebagai kekuatan besar di Eropa itulah Granada jatuh.

Ada beberapa sebab yang menghalangi Ottoman menyelamatkan apalagi merehabilitasi kebangkrutan Islam di Andalusia:

1. Faktor Geografis:

Jarak antara Konstantinopel (Istanbul) dan Andalusia lewat darat 3.832 km, lewat laut 3.469 km dengan medan darat dan laut yang sangat sulit karena harus melewati blokade negara2 Eropa yang seluruhnya shock akibat penaklukan Konstantinopel. Tentu saja membuat mereka membenci dan memusuhi Ottoman Turki. Setiap pergerakan Ottoman ke Eropa Tengah dan Barat tentu akan dihadang dengan kekuatan penuh oleh otoritas Genoa, Cycillia, Yunani, Italia, Tyrene, hingga Spanyol. Itu lewat jalur laut.

Belum lagi jika Melalui jalur darat, saat Ottoman Empire ekspansi ke Bulgaria, Romania, Hongaria dan Austria. Ini adalah medan yang sulit ditembus karena permusuhan mereka terhadap Ottoman Empire yang baru tumbuh pesat setelah penaklukan Konstantinopel.

Koalisi Salibis Eropa yang sangat anti Ottoman dan blokade Selat Gibraltar oleh angkatan laut kerajaan Spanyol menjadikan usaha Ottoman mustahil untuk mengatakan sangat berat menyelamatkan Granada dari reconquesta.

2. Faktor Politis dan Militer:

Sejak didirikan oleh Osman Gazi (1299 M) yang mewarisi spirit jihad qital di jalan Allah dari Sang Ayah (Ertugrul Gazi) melawan Salibis dan Mongolis sejak awal abad 13 M, kesultanan Usmaniyah tidak pernah lelah berperang menghadapi banyak front dalam satu waktu.

Pasca penaklukan Konstantinopel, Ottoman Turki menghadapi front Salibis Eropa yang bertekad merebut kembali (reconquesta) Istanbul dari tangan Ottoman, dan front Dinasti Safavid Syi’ah di Iran yang selalu menjadi duri dalam daging dan belati yang siap menikam kapan saja dari arah belakang.

Jadi tak semudah kita bayangkan bahwa jarak antara Istanbul dan Andalusia mirip dengan jarak antara Kesultanan Demak dan Kesultanan Malaka. Demak bisa mengirimkan armada tempur 2 kali utk menyerang Portugis di Malaka tahun 1513 M dan 1521 M, kenapa Ottoman tidak bisa lakukan hal yang sama ?

Meski demikian Sultan-Sultan Usmani berusaha keras menyelamatkan apa yang tersisa dari darah dan air mata umat Islam yang tumpah di Andalusia.

Sultan Mehmet II (bertahta 1451-1481 M) yang sedang sibuk merebut dan mempertahankan kemenangan Konstantinopel, masih sempat mengirim pasukan yang menyerang Italia dan berhasil menduduki kota Otranto (1480 M) dan berusaha menembus ke Andalusia. Namun tidak meneruskannya karena faktor hambatan geografis dan militer.

Sultan Bayazid II (bertahta 1481-1512 M) saat sibuk menghadapi front Salibis Eropa dan Dinasti Safavid dan Mamluk Mesir, ia sempat mengirimkan pasukan armada laut yang dipimpin Kemal Rais (1486 M) untuk menyerang pesisir pantai Spanyol untuk menembus blokade Andalusia. Namun gagal karena serangan Eropa, pengkhianatan kekuatan Islam seperti Dinasti Mamluk di Mesir dan Dinasti Hafsid di Tunisia yang menolak membantu Ottoman melawan Spanyol.

Sultan Salim I (bertahta 1512-1520 M) mengirimkan Laksamana Oroj bertugas menyelamatkan umat Islam yang eksodus dari Andalusia akibat inkuisi Gereja di Spanyol. Misi ini berhasil menyelamatkan puluhan ribu muslim dan mengantarkan mereka ke Aljazair.

Sultan Sulaiman Qanuni (bertahta 1520-1566 M) mengirimkan 80 kapal perang dengan 8000 pasukan elit Janissary dipimpin Laksamana Barbarosa untuk menyerang Andalusia dan menyelamatkan umat Islam yang lari dari inkuisisi spanyol. Di masanya, Ottoman Turki membuka pintu bagi 500 ribu pengungsi yang lari dari Andalusia termasuk warga Yahudi Spanyol yang ikut diusir dari sana.

ITULAH FAKTANYA..

Dinasti Arab Muslim pasca runtuhnya Kekhalifahan Umayyah II di Andalusia, yang rusak mentalnya, cinta dunia, saling sikut rebutan kekuasaan, enggan jihad di jalan Allah mempertahankan Islam di Barat, mengapa kini menyalahkan dan menuntut Ottoman Turki utk selamatkan Andalusia yang sudah berjatuhan sejak era Muluk Thowaif dimulai abad ke-11 hingga runtuhnya Codoba abad 13 M saat Kesultanan Usmaniyah belum berdiri lagi ?

Dalam benak para Sultan Ottoman, barangkali lebih baik menyelamatkan rakyat muslim Andalusia yang lari dari inkuisisi Spanyol daripada menolong Dinasti Muslim Arab dari serangan reconquesta. Menolong rakyat yang tak berdosa lebih mulia daripada menyelamatkan penguasa yang mentalnya sudah rusak yang tak mungkin tertolong lagi.

SEMOGA KITA BISA ADIL MENILAINYA..

Wallahu a’lam.

(Ditulis diatas udara Laut Mediterania, dalam perjalanan dari Barcelona ke Abu Dhabi, 12 Maret 2020)

Referensi: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Nasrid%E2%80%93Ottoman_relations

https://www.turkpress.co/node/27649

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos