728 x 90

Satu Persatu Orang Mati di Jakarta, Siapa Yang Salah ?

Satu Persatu Orang Mati di Jakarta, Siapa Yang Salah ?

Oleh: Tony Rosyid (Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa) Pek… Pek… Pek… Tumbang dan mati. Ini terjadi di China, Italia dan beberapa negara lain. Di Indonesia ? Boleh jadi hanya menunggu waktu. Sudah 369 positif Covid-19, sembuh 17 orang dan 32 meninggal, cukup tinggi angka kematiannya, sekitar 8,6 persen. Bandingkan dengan di Wuhan China, asal Covid-19.

Oleh:

Tony Rosyid

(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

Pek… Pek… Pek… Tumbang dan mati. Ini terjadi di China, Italia dan beberapa negara lain. Di Indonesia ? Boleh jadi hanya menunggu waktu.

Sudah 369 positif Covid-19, sembuh 17 orang dan 32 meninggal, cukup tinggi angka kematiannya, sekitar 8,6 persen.

Bandingkan dengan di Wuhan China, asal Covid-19. Sebanyak 80.928 orang positif Covid-19, sedangkan 70.420 sembuh dan 4.245 meninggal dunia atau hanya sekitar 4 persen.

Secara medis, penanganan Rumah Sakit di China lebih baik dari Indonesia. Sementara tingkat penularan Covid-19 punya pola yang sama di semua negara, super cepat.

Lihat angkanya, mula-mula 2 orang positif Covid-19 di Depok, lalu 19, kemudian 27, naik lagi jadi 34, terus naik jadi 69, besoknya sudah 96, lalu 117, kemudian 134, naik 227, terus bertambah jadi 311. Dan kemarin sudah tembus angka 369. Besok dan besoknya lagi ? Apakah termasuk anda yang tertular dan yang menularkan?

Korban covid-19 terbanyak di Jakarta, dimana 215 orang positif dan 17 orang meninggal serta 13 orang sembuh. Sehingga yang meninggal lebih banyak dari yang sembuh untuk saat ini. Di daerah lain ? Belum ada yang sembuh, sedangkan Covid-19 sudah sampai ke seluruh Jawa, Bali, beberapa daerah Sumatera dan Sulawesi.

Pada 22 Januari atau hampir dua bulan lalu, ketika di Indonesia belum ada pasien positif Covid-19, Anies Baswedan sudah mengumpulkan jajaran Pemprov DKI. Untuk apa ? Koordinasi dan konsolidasi, menyiapkan tenaga medis, alat medis dan SOP untuk menghadapi dan menangani wabah Covid-19, kemudian Dinas Kesehatan DKI adakan konferensi pers. Pada 29 Februari, Anies atas nama Gubernur DKI, mengeluarkan Ingub terkait persiapan menghadapi wabah Covid-19.

Namun Anies justru dibully, bahkan di berbagai media sosial dicaci maki. Anies dianggap telah membuat kegaduha dan bikin panik orang ! Kata mereka yang kebenciannya terhadap Anies sudah diubun-ubun, sehingga eskalasi kemarahan terhadap Anies semakin tinggi.

Apa kesalahan Anies ? Karena Anies memiliki data tentang penyebaran Covid-19. Anies dikenasl sebaagai ahli di bidang statistik, dan pernah menjadi Asisten Profesor untuk bidang Statistik sewaktu kuliah di Amerika Serikat. Di Dengan dibantu data dari ahli medis, Anies mulai menghitung tingkat penyebaran Covid-19 dengan memakai angka-angka. Ternyata, dahsyat penyebarannya.

Di tengah para Menteri dan Staf Istana bespekulasi bahwa Indonesia bebas Covid-19, Anies justru menyiapkan jajaran pegawai Pemprov DKI untuk menghadapi penyebaran Covid-19. Tak tanggung- tanggung, Anies keluarkan Instruksi Gubernur (Ingub) dan konferensi pers. Kenapa Anies melakukan itu ? Karena Anies memastikan bahwa Covid-19 akan masuk Jakarta. Anies punya data medis terkait Covid-19 dan telah menghitung secara statistik penyebaran virus mematikan ini. Ini hitungan ilmiah, bukan hipotesis “nasi kucing” atau “imajinasi tropis”.

Saat itu, Anies dianggap penghayal kelas berat. Namun, dua hari berikutnya, yaitu 2 Maret, Presiden Jokowi mengumumkan ada dua orang di Depok yang positif Covid-19, dan setelah itu, angkanya terus naik hari demi hari. Begitu juga orang yang mati.

Berbagai rencana terukur telah dibuat Anies. Tutup tempat wisata dan CFD, batalkan event-event publik, batasi jam buka restoran, liburkan sekolah, dan anjuran kepada seluruh masyarakat DKI untuk menjauhi kerumunan dan stay di rumah.

Langkah Anies kemudian diikuti oleh pimpinan wilayah dan daerah yang lain. Kecuali meliburkan sekolah, Walikota Solo mengawali sehari sebelum DKI Jakarta.

Tapi, jalanan Jakarta masih tetap ramai. Aktifitas perkantoran tetap berjalan, maka disitulah Covid-19 bergentayangan, satu persatu positif. Sebanyak 17 orang mati dalam jangka waktu kurang dari dua pekan.

Anies kurangi alat transportasi. Sebaliknya, ganjil genap dihentikan. Tujuannya ? Supaya masyarakat Jakarta sadar, jangan pakai transportasi umum lagi ! Resiko tinggi tertular dan menularkan. Maka, terminal Busway maupun Stasiun MRT/LRT berjubel orang. Gerutu, marah, bully, maki-maki dan sumpah serapah kepada Anies berhamburan keluar di media dan medsos. Anies tahu itu pasti akan terjadi. Masyarakat gak siap stay di rumah untuk bersama-sama menghindarkan diri jadi agen penularan Covid-19.

Ada otoritas yang gak siap, ini soal roda ekonomi, lalu mengingatkan Anies. Besoknya, Anies normalkan transportasi publik. Anies tak mau benturan dengan otoritas manapun, akan kontra-produktif.

Langkah berikutnya, Anies minta Masjid, wihara, gereja, kelenteng dan tempat-tempat ibadah yang lain untuk sementara tutup. Tentu, setelah konsultasi dan dengar pendapat dengan perwakilan dari para tokoh agama. Melalui surat edaran, Anies menghimbau masyarakat Jakarta beribadah sementara waktu di rumah masing-masing srhingga heboh lagi. Tuduhan macam-macam berhamburan. Tempat ibadah ditutup, kenapa Mall tidak ditutup ? Komentar sebagian orang.

Anda semua, tanpa terkecuali, bisa beribadah di rumah. Tapi, apakah masyarakat Jakarta sudah semuanya siap belanja dari rumah ? Belanja melalui Online ? Kalau Super Market dan Mini Market ditutup mendadak, sementara persediaan kebutuhan rumah tangga tak ada, maka apa yang akan terjadi ? Penjarahan ! Paham ?

Tidak sampai disitu, 20 Maret kemarin Anies resmi menetapkan Ibukota dalam keadaan tanggap darurat bencana. Konsekuensinya, Anies menutup semua usaha hiburan (maksiyat) dan rekreasi, seperti Diskotik, Bar, Spa, Karaoke dan lain lain. Anies juga menghimbau kepada hotel-hotel untuk membatalkan event-event yang mendatangkan kerumunan. Para pengusaha juga diminta untuk merumahkan para pekerja, setidaknya meminimalkan jumlah pekerja dan kegiatannya.

Setelah semua langkah preventif ditempuh, penutupan sejumlah usaha dilakukan, himbauan disampaikan, dan informasi sangat transparan, lalu korban terus bertambah dan makin banyak, begitu juga yang meninggal, maka siapa yang bertanggung-jawab ?

(Jakarta, 21 Maret 2020)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos