728 x 90

Siap-siap, Jakarta Akan Lockdown

Siap-siap, Jakarta Akan Lockdown

Oleh : Tony Rosyid (Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa) Setelah lama, alot dan intens berkomunikasi, sepertinya Pemerintah Pusat mulai bisa memahami logika Gubernur Anies Baswedan, mengapa Jakarta harus di lockdown, bahasa undang-undangnya “karantina”. Meski sudah sangat terlambat, tetapi ini tetap lebih baik. Secara ekonomi, ini keputusan yang tidak populer, baik bagi Jokowi maupun Anies. Tetapi,

Oleh :

Tony Rosyid

(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

Setelah lama, alot dan intens berkomunikasi, sepertinya Pemerintah Pusat mulai bisa memahami logika Gubernur Anies Baswedan, mengapa Jakarta harus di lockdown, bahasa undang-undangnya “karantina”. Meski sudah sangat terlambat, tetapi ini tetap lebih baik. Secara ekonomi, ini keputusan yang tidak populer, baik bagi Jokowi maupun Anies. Tetapi, nyawa rakyat harus diselamatkan, no choice !

Kenapa Jakarta harus lockdown ? Pertama, karena Jakarta adalah pusat Covid-19. Penyebarannya extra massif. Day to day jumlah yang positif dan angka kematian meningkat secara signifikan. Dari sebanyak 1285 kasus positif Covid-19, 675 kasus ada di Jakarta, (29/3).

Kedua, himbauan Pemerintah Pusat dan DKI untuk stay at home, social distancing dan menghindari kerumunan tidak sepenuhnya efektif bisa dijalankan, sebagian masyarakat kurang disiplin, cenderung meremehkan dan tak peduli. Ketidakdisiplinan ini menjadi penyumbang terbesar penyebaran Covid-19.

Ketiga, Jakarta adalah pusat interaksi dan titik pertemuan masyarakat dari seluruh pelosok negeri, bahkan sebagian masyarakat dunia. Disinilah potensi kerumunan terjadi yang berpotensi penyebaran Covid-19.

Keempat, mandegnya pergerakan ekonomi, terutama di sektor non-formal, menyebabkan terjadinya arus mudik besar-besaran. Sebagian pemudik terbukti telah menjadi penyebar Covid-19 ke daerah masing-masing. Akibatnya, di hampir semua Provinsi telah terjadi penularan. Data menyebutkan: sumber utamanya mayoritas pemudik dari Jakarta.

Inilah alasan mengapa Jakarta harus lockdown. Rakyat Jakarta harus dikarantina, dan arus keluar masuk Jakarta mesti ditutup sementara. Kecuali logistik, petugas dan kendaraan pribadi yang savety dari kemungkinan penyebaran.

Apa indikasi Jakarta mau lockdown ? Pertama, Pemerintah Pusat sedang menyiapkan Peraturan Pemerintah (PP) yang akan dijadikan landasan lockdown lokal.

Kedua, Polda Metro Jaya sedang melakukan simulasi rakayasa dan penutupan jalan dalam formasi lockdown. Ini bentuk persiapan yang sangat serius.

Ketiga, Direktur Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiadi, sudah membocorkan rencana lockdown DKI, dari hasil konsultasi dengan Menkomaritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan (LBP).

Tentu, Presiden dan Gubernur DKI sudah mempersiapkan konsekuensi sosial dan ekonominya saat Jakarta lockdown. Termasuk tenaga dan fasilitas medis, serta bantuan sosial untuk masyarakat DKI.

Dalam menghadapi Covid-19 saat ini, kekompakan semua elemen bangsa sangat dibutuhkan. Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, tenaga kesehatan dan masyarakat harus bersinergi dan satu langkah. Pemerintah Pusat dan Daerah bersama-sama membuat satu kebijakan, menyiapkan fasilitas medis dan memberikan bantuan sosial kepada rakyat yang terdampak secara ekonomi. Para tenaga medis bekerja full waktu, tenaga dan kemampuan untuk melayani pasien. Sedangkan masyarakat, ini harus diperhatikan, mesti disiplin pada aturan dan imbauan Pemerintah. Jika tidak disiplin, harus didisiplinkan. Jika tidak taat aturan, harus dipaksa taat. Ini konsekuensi lockdown. Karena ini berurusan dengan nyawa banyak orang.

Perlindungan terbaik adalah mencegah penularan, kata Gubernur Anies Baswedan. Dan ini ada di masyarakat sebagai garda terdepan, lanjut Gubernur DKI yang bulan Februari lalu sudah mengusulkan lockdown di Jakarta.

Dalam situasi sulit ekonomi akibat lockdown, masyarakat yang mampu secara ekonomi diharapkan bisa berpartisipasi untuk membantu mereka yang sedang kekurangan. Karena, tak semua dari mereka masuk dalam daftar bantuan Pemerintah. Mesti dipahami, saat ini banyak OMM (Orang Miskin Mendadak), akibat serbuan Covid-19, sehingga mereka kehilangan pekerjaan dan jadi OMM.

Soal bantuan sosial, masyarakat Indonesia sudah terlatih. Dua pekan ini, lembaga-lembaga sosial dan ormas seperti BAZNAS, Dompet Dhuafa’, ACT, Wahdah Islamiyah dan beberapa organisasi lain sudah bergerak untuk menyalurkan bantuannya, untuk sementara berupa alat-alat kesehatan.

Selanjutnya, lembaga-lembaga sosial ini harus memikirkan rencana bantuan “Sembako” kepada masyarakat yang terdampak dan paling menderita secara ekonomi. Terutama kepada OMM yang jumlahnya semakin membludak.

Tidak saja lembaga sosial dan ormas, tapi juga partai politik. PKS dan Gerindra kabarnya juga sudah turun ke lapangan dan men-support alat-alat kesehatan ke sejumlah rumah sakit. Namun, mereka perlu juga mengumpulkan dana untuk membantu masyarakat yang terdampak secara ekonomi.

Semoga langkah PKS dan Gerindra ini bisa diikuti PDIP, PSI dan partai-partai politik lainnya. Kalau untuk membeli jutaan baliho, spanduk dan kaos saja mampu, mosok nyumbang sembako untuk rakyat miskin gak bisa ?

Jika semua elemen bangsa ini kompak, bersinergi dan satu langkah, maka lockdown di DKI, juga di daerah-daerah lain, akan bisa dilakukan dan diatasi, terutama terhadap semua dampak ekonomi dan sosialnya. Sinergi inilah yang membuat orang lapar menjadi teratasi, dan proses penularan Covid-19 bisa dibatasi. Dengan begitu, jumlah orang yang positif Covid-19 dan angka kematiannya bisa ditekan serendah mungkin.

(Jakarta, 30 Maret 2020)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos