728 x 90

JOKOWI & KIM JONG UN

JOKOWI & KIM JONG UN

Oleh : Abdul Halim (Jurnalis Muslim) Sejak absen dalam peringatan hari lahir ke-108 kakeknya, Kim Il Sung, pada 15 April lalu, kabar santer menerpa pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Pemimpin muda berusia 36 tahun ini sempat dikabarkan kritis bahkan mati akibat penyakit jantung yg dideritanya. Ketidak-munculannya di depan publik sejak 13 April – 1

Oleh :

Abdul Halim

(Jurnalis Muslim)

Sejak absen dalam peringatan hari lahir ke-108 kakeknya, Kim Il Sung, pada 15 April lalu, kabar santer menerpa pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Pemimpin muda berusia 36 tahun ini sempat dikabarkan kritis bahkan mati akibat penyakit jantung yg dideritanya. Ketidak-munculannya di depan publik sejak 13 April – 1 Mei sempat mengeser hebohnya pemberitaan mengenai virus Corona yg sedang menyerbu dunia.

Mengapa posisi Kim Jong Un dianggap begitu penting bagi masyarakat dunia ? Meski negaranya termasuk miskin dengan penduduk 25 juta orang, namun Korut memiliki gudang persenjataan nuklir, kimia dan biologi dengan 1,2 juta tentara yg terlatih dengan baik.

Masyarakat dunia jelas khawatir jika Kim Jong Un sampai mati, maka akan terjadi ketidakstabilan politik yg bisa menjurus pada perebutan kekuasaan diantara para tokoh di lingkaran elite rezim komunis di Pyongyang. Pasalnya, Kim sendiri blm punya pengganti langsung, sebab ketiga anaknya masih kecil. Kim hanya punya seorang adik perempuan, Kim Yo Jong yg juga menjabat di Politbiro dan Partai Buruh Korut. Padahal Korut dikenal sangat patriarkis dan didominasi para Jenderal tua warisan ayahnya, Kim Jong Il.

Jika Kim sampai mati sementara konsolidasi kekuasaan menjerumuskan negara pada situasi genting, maka dikhawatirkan akan hilangnya kendali persenjataan nuklir, kimia dan biologi pada tokoh yg tak bertanggungjawab sehingga dapat mengancam perdamaian dunia.

Jika situasi di dalam negeri Korut sampai kacau, maka tidak menutup kemungkinan tentara China dan Rusia di perbatasan serta AS yg bercokol di Korea Selatan akan menyerbu Pyongyang untuk mengamankan arsenal persenjataan nuklir Korut daripada jatuh pada tokoh yg tak bertanggungjawab dan gila perang.

Namun pada peringatan Hari Buruh 1 Mei lalu, Kim kembali membuat kejutan dg kemunculannya di depan publik ketika meresmikan pabrik pupuk di Sunchon, utara Pyongyang. Kemunculan Kim dengan didampingi Kim Yo Jong itu tentu saja melegakan dunia sekaligus menghilangkan spekulasi selama ini tentang dirinya.

Meski bersahabat dengan Presiden China, Xi Jing Ping, bahkan pernah empat kali mengunjungi Beijing, namun Kim dikenal sangat tegas dalam mempertahankan eksistensi negaranya dalam menghadapi intervensi China. Kim tidak pernah membiarkan China melakukan campur tangan politik terhadap negaranya. Terbukti pamannya, Jong Sang Taek dihukum mati dengan cara sadis ketika terbukti berkomplot dengan Beijing untuk merebut kekuasaannya di Pyongyang (2013). Padahal dialah yg menjadi guru politik Kim ketika ayahnya Kim Jong Il memerintah Korut (1994-2011) setelah kematian kakeknya, Kim Il Sung.

Kim Jong Un juga tidak pernah membiarkan satupun tentara China melintasi perbatasan kedua negara yg dijaga ketat itu. Kim langsung menutup rapat perbatasan China-Korut begitu wabah Corona menyerbu Wuhan pada awal Januari lalu. Kim tak ingin rakyatnya mati konyol dimakan virus Corona yg diimpor dari China.

Lain lubuk lain belalang, lain pemimpin lain kebijakan. Kalau Kim Jong Un dikenal sangat tegas dalam menghadapi intervensi China terhadap politik dalam negerinya, maka Jokowi dikenal sangat lembek dalam menghadapi ancaman bahaya kuning. Bahkan Jokowi seolah membiarkan negara yg dipimpinnya dicaplok China, dimana Garuda dibiarkan dicaplok Naga.

Pertama, Jokowi sengaja membiarkan ratusan ribu bahkan jutaan tenaga kerja China membanjiri Indonesia. Sesuai dg janji Wapres China dalam pidatonya di Kampus UI Depok (2015), hingga 2020 akan akan “pertukaran” pekerja China ke Indonesia yg mencapai 10 juta pekerja dari China. Berarti sekarang sudah ada 10 juta tenaga kerja China didatangkan ke Indonesia, sementara rakyatnya sendiri jadi pengangguran dan disuruh cari kerja ke luar negeri.

Kedua, Jokowi membiarkan People Liberation Army (PLA) dan wajib militer China membanjiri Indonesia dengan kedok TKA China. Terbukti tentara China pernah tertangkap personil TNI AU di Halim Perdanakusuma ketika melakukan operasi intelijen dengan kedok pekerja KA China.

Semua pekerja China yg diimpor secara legal maupun ilegal ke negara manapun termasuk Indonesia, bisa dikategorikan mempunyai kemampuan militer mumpuni. Sebab rezim komunis China memberlakukan wajib militer bagi seluruh rakyatnya pria maupun wanita diatas umur 18 tahun, dimana penduduk China saat ini mencapai 1,4 miliar orang.

Konsentrasi jutaan pekerja yg diimpor dari China dg memiliki kemampuan militer untuk mengoperasikan persenjataan modern, jelas membahayakan kedaulatan NKRI. Mereka saat ini terkonsentasi di pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku serta beberapa pulau terpencil di pelosok Nusantara.

Kekuatan gabungan TNI dan Polri dengan jumlah kurang dari 1 juta personil, niscaya akan sulit menghadapi 10 juta pekerja China yg memiliki kemampuan militer setara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA). Sebenarnya kondisi dan situasi seperti itu sudah diantisipasi Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo. Namun sayang, karena kemampuannya dalam memprediksi bahaya invasi kuning itu, Jenderal hebat itu menjelang Pilpres lalu justru dilengserkan Jokowi (2018) meski masih 6 bulan lagi purnawirawan. Jokowi khawatir kedoknya sebagai Presiden Boneka China akan terbongkar.

Ketiga, berbeda dengan Kim Jong Un yang berambisi kuat memajukan persenjataan militer negaranya dengan bom nuklir dan bom hidrogen serta rudal antar benua dg hulu ledak nuklir ditengah ancaman perang melawan AS melalui slogan “militer first”, Jokowi justru tidak suka jika TNI kuat dan disegani negara tetangga seperti zaman Orba lalu. Sebab jika TNI kuat, maka akan mampu membendung intervensi militer negara lain termasuk China. Jokowi menginginkan NKRI nantinya akan bernasib seperti Tibet dan Turkistan Timur yg dicaplok secara paksa oleh China.

Sekarang yg menjadi pertanyaan adalah, mengapa Jokowi memiliki kebijakan politik yg akan membahayakan eksistensi dan masa depan NKRI dg 270 juta penduduk itu ? Jawabannya, karena rezim Jokowi selalu dibawah bayang bayang kekuatan ekonomi dan politik 9 Naga serta banyaknya para penghianat rakyat, bangsa dan negara yg saat ini bercokol di Istana.

(Tangerang, 5 Mei 2020)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos