728 x 90

DIPLOMASI INDONESIA DI PENTAS GLOBAL

DIPLOMASI INDONESIA DI PENTAS GLOBAL

(Ngeshare bareng Dubes Haz Pohan) Oleh : Fahmi Salim (Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Komisi Dakwah MUI Pusat) Wartawan Diplomat, itulah yang cocok disematkan kepada Dubes Hazairin Pohan, SH, MA. yang juga biasa disapa Haz Pohan. Pada era Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), mantan wartawan harian Waspada Medan ini ditunjuk menjadi Duta

(Ngeshare bareng Dubes Haz Pohan)

Oleh :

Fahmi Salim

(Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Komisi Dakwah MUI Pusat)

Wartawan Diplomat, itulah yang cocok disematkan kepada Dubes Hazairin Pohan, SH, MA. yang juga biasa disapa Haz Pohan. Pada era Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), mantan wartawan harian Waspada Medan ini ditunjuk menjadi Duta Besar Indonesia Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Republik Polandia, pada tahun 2006. Karir sebagai diplomat dirintisnya sejak tahun 1980, saat ia bergabung di Departemen Luar Negeri. Berbagai tugas di manca negara, pernah dijalaninya, antara lain ia pernah bertugas di KBRI Moskow dan KBRI Sofia di Bulgaria serta Perwakilan Tetap RI di PBB New York.

Pengalaman sebagai diplomat inilah yang beliau bagikan dalam program Ngaji Syar’ie (NGESHARE), “ngaji dulu, alim kemudian”, dengan tema Diplomasi Indonesia di Pentas Global dan Dunia Islam. Sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim, menurut Haz Pohan, Indonesia memiliki peran strategis dalam percaturan dunia. Agama Islam seharusnya menjadi aset politik diplomasi, tidak hanya di tingkat nasional, juga di kancah internasional. “Kita seharusnya bisa ikut berperan memperbaiki dunia Islam,” ungkapnya. Namun, sayangnya masih ada yang ketakutan memanfaatkan Islam sebagai aset diplomasi, karena terpengaruh dengan Islamphobia.

Haz Pohan mengapresiasi langkah Presiden SBY yang berani menggandengkan Islam dan demokrasi dalam kancah diplomasi Internasional. Sebagaimana para pendahulu, seperti Presiden Soekarno yang dianggapnya sebagai panglima diplomasi. Indonesia adalah bangsa yang besar dan bisa berperan aktif menyelesaikan berbagai isu Internasional, seperti mengirim pasukan untuk misi perdamaian di berbagai wilayah konflik.

Indonesia sangat diperhitungkan di mata dunia. Selain karena kekayaan budayanya, juga faktor penduduknya yang besar dan beragam. Salah satu kontribusi terbesar dalam menciptakan harmoni keberagaman adalah keberadaan umat Islam. Karena, Islam adalah agama yang menebar kedamaian dan rahmat bagi alam semesta. Umat Islam sudah terbiasa dengan nilai-nilai toleransi dengan pemeluk agama lain, saling menghargai dan saling bahu membahu dalam kebaikan.

Umat Islam sudah teruji dalam sejarah perjuangan bangsa untuk meraih kemerdekaan. Karena keteguhan dalam agamanya, para pejuang dahulu rela berkorban untuk mengusir para penjajah, Kesadaran ini sudah tertanam kuat dalam jiwa kita, sebagai umat Islam. Maka, kata Haz Pohan, jika ada ancaman dari luar negeri yang mengancam kedaulatan negeri ini, siapa lagi yang berani bergerak untuk berjuang kecuali umat Islam.

Karena itu, tidak perlu dikhawatirkan identitas keislaman menjadi kebanggaan bangsa ini dalam diplomasi Internasional. Kita tidak perlu ragu mempromosikan industri halal di berbagai kawasan wisata, misalnya. Karena, begitu besar peluang pasar Internasional dari kawasan Timur Tengah, yang juga berpenduduk muslim, yang saat ini belum digarap secara serius. Kaum muslimin dari berbagai belahan dunia begitu peduli dengan kehalalan. Jangan sampai peluang ini digaet oleh negara tetangga, seperti Malaysia yang sudah berani menunjukan identitas keislaman baik dalam promosi pariwisata maupun diplomasi Internasional. Bahkan, Inggris sebagai negara sekuler pun berhasil mengembangkan industri perbankan syariah.

Orang yang masih dihinggapi Islamphobia, karena mereka sesungguhnya tidak paham dengan sejarah bangsanya sendiri. Ada yang sengaja menjauhkan umat Islam dari negerinya sendiri, padahal Islam bisa dijadikan aset besar dalam diplomasi global dengan memberdayakan semua elemen bangsa, antara lain dengan melibatkan berbagai ormas Islam yang besar, seperti Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama. Semua kekuatan Islam di negeri ini harus disinergikan, bukan sengaja dipinggirkan karena alasan perbedaan sikap politik. Sebagai negara demokrasi, perbedaan sikap politik harus diakomodir. Karena jika tidak diselesaikan dengan baik, menurut Haz Pohan, akan berbuntut pada perlawanan yang kontraproduktif dan bangsa ini terancam dengan perpecahan.

Politik Bebas Aktif masih dipegang oleh Indonesia dalam kancah diplomasi global. Semua langkah diplomasi dilakukan untuk mencapai kepentingan nasional. Diplomasi yang berkaitan dengan kedaulatan negara, harus dilaksanakan dengan tegas, Indonesia tidak boleh berkompromi dengan hal apa pun yang berpotensi menggerus martabat bangsa, misalnya ada indikasi memaksakan ideologi komunis dengan mengandalkan kekuatan ekonomi Tiongkok, untuk menguasai Indonesia. Namun, ambisi untuk mengkooptasi Indonesia, menurut Haz Pohan, selalu mendapat batu sandungan sejak dahulu kala, yaitu dari umat Islam.

Persaingan hegemoni dunia antara Amerika Serikat dan Cina saat ini tentu akan berdampak terhadap konstelasi politik dunia. Karena itulah, menurut Haz Pohan, dibutuhkan ‘White Paper’ (Buku Putih) Diplomasi untuk merumuskan target yang dicapai Indonesia dalam percaturan Internasional.

Indonesia layak mencontoh Turki yang saat ini dipimpin Presiden Recep Tayyip Erdogan mampu menunjukan kapasitas dirinya sebagai pemimpin di dunia Islam. Kejayaan Turki pada Era Ottoman telah memperkuat kepercayaan diri bangsa Turki sebagai pemimpin dunia. Namun, sejatinya agama Islam lah yang telah mengembalikan keyakinan itu, karena sejarah telah membuktikan kegemilangan Islam telah diraih pada masa Rasululloh dan khulafa rasyidin.

Kekuasaan politik dunia saat itu dikuasai dua kerajaan besar, yaitu Romawi dan Persia. Perang antara dua kerajaan ini berkecamuk dengan kemenangan yang selalu silih berganti. Pada awalnya, Kerajaan Persia yang menjadi pemenang, kemudian mengambilalih Mesir dan beberapa wilayah di Syam, termasuk Yerusalem. Kemudian giliran Persia yang mengalami kekalahan lagi, dan panji-panji kemenangan Romawi Timur Bizantium kembali berkibar.

Kemenangan Romawi ini sudah difirmankan Alloh Taala dalam surat Arrum ayat 1-4: “Alif Lam Mim. Bangsa Romawi telah dikalahkan, Di negeri terdekat dan mereka setelah kekalahan itu akan menang, Dalam beberapa tahun (lagi), bagi Alloh-lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan, pada hari (kemenangan bansga Romawi) itu, bergembiralah orang-orang yang beriman”

Kaum musyrikin Mekah saat itu menyambut gembira kemenangan Persia atas Romawi tahun 620 M saat Ancyra pangkalan militer Romawi Byzantium di Anatolia diduduki Persia-Sassanid, sementara kaum muslimin yang masih terikat garis kenabian dengan bangsa Romawi, yang disebut Ahlul Kitab, merasa berduka. Namun, Alloh Ta’ala menurunkan wahyu-Nya dalam surat Arrum, untuk membuktikan kebenaran Al-Qur’an. Terbukti, setelah 7 tahun, bangsa Romawi akhirnya mengalahkan Persia di pertempuran Niniveh tahun 627 M bahkan mengancam ibukota Persia Ctesiphon tahun 628 M.

Saat itu, tiada satu kerajaan pun yang berpikir berani melawan kedua negeri adidaya ini. Semua suku yang berada di jazirah Arab, terkurung dalam lingkaran pengaruh kedua imperium ini. Karena, bangsa Arab menggantungkan hidupnya dalam perdagangan dengan Yaman dan Syam, yang dikuasai mereka. Munculnya kekuatan baru dari negeri Arab, dipimpin Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa allam sama sekali di luar dugaan. Namun, begitulah misi ilahiah yang membimbing Rasululloh. Beliau tak gentar mengirimkan para diplomatnya kepada dua penguasa dunia itu, untuk mengajak mereka beriman kepada Alloh dan Rasul-Nya.

Surat yang berstempel cincin bertuliskan Muhammad Rasul Alloh, dibawa oleh para sahabat nabi. Sahabat Dihyah bin Khalifah al-Kalbi, membawa surat untuk Kaisar Heraklius, yang saat itu tengah merayakan kemenangannya atas negeri Persia. Rasululloh menulis dalam surat itu,” Salam sejahtera bagi orang yang mengikuti petunjuk. Masuk Islamlah, niscaya kamu selamat. Masuk Islamlah, niscaya Allah memberimu pahala dua kali lipat. Jika kamu berpaling, kamu akan menanggung dosa orang-orang Romawi.”

Heraclius tidak langsung menolak ajakan dakwah nabi, tapi mencari informasi tentang sosok Nabi Muhammad. Ia sesungguhnya meyakini bahwa Muhammad adalah nabi yang diutus Alloh sebagaimana disebutkan dalam Alkitab. namun, ia tak jadi masuk Islam karena dikalahkan rasa cintanya terhadap tahta kerajaan. Namun, kaisar pun pernah berkata, saat perjalanan menuju Baitul Maqdis, “Muhammad kelak akan mampu menguasai wilayah yang dipijak oleh kedua kakiku ini.”

Sementara itu, saat surat nabi tiba di tangan Kisra Persia, ia marah lalu merobeknya. Mendengar kabar ini, Rasululloh bersabda, ”Semoga Allah mencabik-cabik kerajaannya.” Doa ini dikabulkan Alloh. Persia akhirnya kalah dalam perang menghadapi Romawi. kemudian Raja Kisra pun digulingkan oleh anaknya sendiri, Syirawaih, lalu dibunuh. Kerajaan Persia akhirnya makin lemah dan ditaklukan pasukan Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

Begitulah Alloh Ta’ala telah mempergilirkan kejayaan bangsa-bangsa. Maka, belajarlah pada sejarah, Dahulu umat Islam pernah mencapai puncak kejayaannya, kemudian mengalami kemunduran. In syaa Alloh, akan kembali jaya.

Wallohu ‘alam

(Saksikan selengkapnya di link ini : https://youtu.be/VmwiLkMPeAc)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos