728 x 90

SERANGAN NINE ELEVEN YANG MENGUNCANG DUNIA – (Bagian 6)

SERANGAN NINE ELEVEN YANG MENGUNCANG DUNIA – (Bagian 6)

Oleh: Imam Shamsi Ali Satu kelebihan Presiden Bush adalah kepribadian yang hangat. Seperti yang pernah saya sebutkan terdahulu ketika bertemu di Gedung Saint Patrick di Kota New York, beliau ramah, hangat dalam menyapa, dan senang bercanda. Kehadirannya di Islamic Center di Washington DC, Ibukota negara super power dunia itu juga tidak terlalu terasa kaku dan

Oleh:

Imam Shamsi Ali

Satu kelebihan Presiden Bush adalah kepribadian yang hangat. Seperti yang pernah saya sebutkan terdahulu ketika bertemu di Gedung Saint Patrick di Kota New York, beliau ramah, hangat dalam menyapa, dan senang bercanda.

Kehadirannya di Islamic Center di Washington DC, Ibukota negara super power dunia itu juga tidak terlalu terasa kaku dan menegangkan. Suasana terasa cair walau mungkin masih menegangkan. Tidak jauh berbeda ketika bertemu di New York sehari sebelumnya.

Islamic Center di Washington DC sesungguhnya bukanlah Masjid Raya seperti yang kita kenal di Indonesia. Karena di Amerika tidak ada yang dinamakan Masjid Raya. Bahkan secara jamaah ada masjid-masjid lain yang lebih besar dari pada Islamic Center tersebut.

Hanya saja memang Islamic Center ini adalah salah satu Masjid tertua di Washington dan dipandang penting karena seolah menjadi representasi dunia Islam. Walaupun kenyataannya lagi-lagi Arab Saudilah yang lebih dominan, termasuk dalam pendanaan dan pengelolaan.

Pertemuan di Islamic Center itu dimulai dengan pertemuan tertutup antara Presiden Bush dan para perwakilan organisasi Islam. Ada sekitar 10 tokoh-tokoh Islam yang hadir, mewakili komunitas Muslim yang sangat ragam. Sayang nampaknya tidak ada seorangpun wakil dari Indonesia.

Nihad Awad adalah salah satunya yang hadir di pertemuan tersebut. Beliau adalah seorang Muslim keturunan Palestina, sekaligus menjabat sebagai Direktur Eksekutif dari CAIR atau Council on American-Islamic Relations. Sebuah organisasi nasional Amerika yang sangat gigih memperjuangkan hak-hak sipil warga Muslim di Amerika.

Suatu ketika beliau menyampaikan bahwa pada pertemuan tertutup itu, komunitas Muslim juga mempergunakan untuk menyampaikan kepada Bush bahwa pada pemilihan beberapa bulan sebelumnya, komunitas Muslim Amerika, minus Afro Amerika, memberikan suaranya secara penuh kepada Presiden Bush.

Alasan utama komunitas Muslim selain “Afro American” secara bulat mendukung Bush saat itu, adalah karena lawan Capersnya, Al Gore, memilih Liberman, seorang Senator dari Connecticut yang beragama Yahudi. Karena ke Yahudiannyalah, sehingga masyarakat Muslim non Afro pantang memberikan dukungannya.

Ini sekaligus mengindikasikan bahwa saat itu komunitas Muslim Amerika masih menjadikan isu-isu global sebagai prioritàs dalam perjuangan mereka. Salah satunya adalah isu Palestina. Sehingga seringkali dukungan politik selalu dikaitkan dengan kepentingan dunia Islam. Sementara isu-isu yang mereka hadapi dalam negeri kadang kadang justeru terabaikan.

Akan tetapi peristiwa 9/11 ini menjadikan mereka sadar bahwa ternyata sebagai bagian dari warga Amerika, begitu banyak isu-isu domestik yang perlu diperjuangkan. Dari pendidikan, ekonomi, budaya, hingga kepada partisipasi politik itu sendiri.

Mulai saat itu komunitas Muslim mulai sadar bahwa ada tanggung jawab domestik yang begitu banyak, dan karenanya harus terjadi perubahan prioritàs dalam langkah-langkah perjuangan.

Friksi Antar Komunitas

Dukungan Komunitas Muslim ke Capres Bush di tahun 2000 itu ternyata berdampak kepada hubungan antara Afro American Muslim dan komunitas Muslim Imigran, khususnya mereka yang dari Timur Tengah. Terjadi friksi dan perpecahan yang cukup terasa saat itu.

Akibatnya komunitas Muslim yang sering mengaku sebagai “Native American” (Pribumi Amerika), khususnya Afro American, mendirikan sebuah organisasi baru bernama MANA (Muslim Alliance of North America). Presiden pertama organisasi ini adalah Imam Siraj Wahhaj, seorang Imam kharismatik dari Brooklyn, New York.

Perbedaan bahkan perpecahan antar kelompok komunitas Afro dan Imigran itu semakin terasa di kemudian hari ketika Bush memutuskan untuk menyerang Irak. Saat itu, walaupun semua komunitas Muslim menentang perang itu, Afro American seolah mengatakan “Gara-gara kamu wahai imigran, maka terpilihlah Bush sebagai Presiden. Dan seolah gara-gara komunitas Muslim imigran, maka serangan kepada Irak terjadi.”

Perbedaan bahkan perpecahan itu terjadi karena memang secara traditional, Afro American adalah Demokrat. Rupanya Komunitas Muslim Imigran memberikan “block voting” atau suara penuh kepada calon Republican (Bush-Cheney) tanpa persetujuan Afro American.

Ketegangan antar kelompok Muslim itu sempat terasa di kemudian hari. Bahkan saya sendiri ikut merasakan di tataran lokal Kota New York. Betapa dalam pertemuan-pertemuan Imam kerap ada gap/jarak antara Muslim Arab khususnya dan Afro Amerika.

Di kota New York misalnya, Majelis Shura Imam yang saat itu dipimpin oleh Imam Al-Amin, seorang Imam Afro dari Long Island, berseberangan tajam dengan Imam Mohammaed Gami’a, Imam Islamic Cultural Center atau 96th Street Mosque asal Mesir. Keadaan ini menjadikan sebagian Imam asal Timur Tengah mendirikan “Imams Council” di kemudian hari.

Saya sendiri sesungguhnya saat itu agak berat mengambil sikap. Selain karena memang baru, belum punya suara yang didengarkan, juga hanya dikenal sebagai Imam Masjid Indonesia yang memang kurang dikenal. Walaupun kenyataannya saya banyak dilibatkan oleh Pemerintah Kota New York dalam berbagai acara-acara besar pasca 9/11.

Keadaan seperti itu berlanjut hingga sekitar akhir tahun 2002. Pada bulan September tahun itu, saya untuk kedua kalinya terpilih sebagai Chairman Muslim Day Parade atau Ketua Parade Muslim Internasional di Kota New York. Salah satu hal yang saya lakukan saat itu sebagai ketua adalah membentuk Advisory Council (Majlis Penasehat) yang melibatkan semua tokoh-tokoh utama Imam di kota New York.

Alhamdulillah, ternyata usaha itu cukup berdampak kepada upaya rekonsiliasi antar kelompok Komunitas Muslim, minimal pada tingkatan Kota New York. Di Majelis Penasehat itu duduk Imam Siraj (Afro), Imam Al-Amin (Afro dan Salafi oriented), Imam Mohamed Gam’a (Imam Islamic Center, seorang Professor dari Universitas Al Azhar), Imam Bayram Mulich (Bosnia/Eropa), dan beberapa Imam/tokoh dari Asia Selatan.

Dari pertemuan ke pertemuan yang saya pimpin ketika itu, ketegangan dapat kita kurangi. Bahkan Imam Siraj Wahhaj yang pernah tidak mau datang ke Islamic Cultural Center New York karena dianggap Masjid Arab, mulai hadir pada pertemuan-pertemuan yang kita adakan di Masjid tersebut.

Singkatnya, ketegangan dan friksi yang terjadi akibat Pilpres tahun 2000 itu mulai reda. Walaupun MANA tetap eksis namun keberadaannya tidak lagi dipandang sebagai resistensi kepada organisasi Islam lainnya yang memang dianggap di dominasi oleh Muslim Imigran.

Statemen Bush di Islamic Center

Kembali ke kunjungan Presiden Bush di Islamic Center DC. Pastinya kunjungan itu menjadi sorotan yang luar biasa di media dan publik. Bisa dibayangkan, Islam yang saat itu banyak dicurigai sebagai inspirasi teror, dan Muslim dianggap musuh Amerika, kini Pusatnya (Islamic Center) dikunjungi oleh Presiden negara ini.

Bagaimana keadaan disaat kunjungan itu dan apa saja yang disampaikan Presiden Bush ?

(Bersambung….)!

New York, 20 September 2020

(Penulis adalah Imam/Direktur Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundation, New York, USA)

Red: Abdul Halim

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos