728 x 90

RAKYAT LEBIH TERHORMAT BERADA DI PARIT PARIT PERJUANGAN, KETIMBANG MENGIKUTI SERUAN UNTUK DIJEBAK KE MAHKAMAH KONSTITUSI !

RAKYAT LEBIH TERHORMAT BERADA DI PARIT PARIT PERJUANGAN, KETIMBANG MENGIKUTI SERUAN UNTUK DIJEBAK KE MAHKAMAH KONSTITUSI !

Oleh : Ahmad Khozinudin (Sastrawan Politik) Apakah ngotot mengesahkan RUU yang ditolak rakyat adalah sikap terhormat, meskipun dilakukan oleh lembaga yang anggotanya kemaruk dipanggil yang terhormat ? Apakah, ngotot ketok palu mengesahkan UU yang belum tersedia draft finalnya, adalah perilaku terhormat ? dan menuding rakyat belum membaca, perilaku terhormat ? Apakah kabur saat rakyat datang

Oleh :

Ahmad Khozinudin

(Sastrawan Politik)

Apakah ngotot mengesahkan RUU yang ditolak rakyat adalah sikap terhormat, meskipun dilakukan oleh lembaga yang anggotanya kemaruk dipanggil yang terhormat ? Apakah, ngotot ketok palu mengesahkan UU yang belum tersedia draft finalnya, adalah perilaku terhormat ? dan menuding rakyat belum membaca, perilaku terhormat ?

Apakah kabur saat rakyat datang ingin mengeluh, mengadukan nasib, menyampaikan aspirasi, adalah perilaku terhormat ? Apakah, lebih mementingkan bebek dan meninggalkan rakyat adalah perilaku terhormat ? Apakah, ngotot menolak terbitkan Perppu padahal jelas proses legislasi bermasalah adalah perilaku terhormat ? Apakah, menuduh rakyat menyebar dan menjadi korban hoaks adalah perilaku terhormat ?

Apakah, orang yang mengaku hanya takut kepada Allah SWT, kemudian memutus perkara, dengan melegitimasi kecurangan adalah perilaku terhormat ? Apakah, menzalimi ormas Islam HTI, melemahkan KPK, dan mengeluarkan UU Corona yang melegalkan korupsi berdalih pandemi, adalah perilaku terhormat ?

Stop ! Jangan ajari kami tentang makna kehormatan. Bagi kami, kehormatan kami telah diinjak injak penguasa, ketika mereka mengabaikan amanah kami.

Kami, lebih terhormat tetap bertahan di parit parit perjuangan, ketimbang menyerahkan leher di meja perundingan. Kami, lebih memilih perih dan lapar mempertahankan kehormatan, ketimbang menghampiri penguasa hanya untuk sepotong roti.

Silahkan ! Buat perundingan, ikat kesepakatan dengan penguasa zalim. Tapi ingat, jangan membawa bawa nama rakyat sebagai konsiderannya.

Kami, akan dapatkan kembali kehormatan kami, kemuliaan kami, dengan perjuangan dan cara kami. Kami telah memilih jalur perjuangan bersama rakyat, ketimbang mengikat perundingan dengan para pengkhianat.

Kami, telah mengikat ikrar untuk saling amanah dan tidak akan pernah menjadi pengkhianat. Kami, akan tetap berdiri tegak melarani kezaliman, hingga Allah SWT putuskan perkara bagi kami.

Kami, tak akan merasa rendah dengan tetap bertahan di parit parit perjuangan. Kami, justru sangat malu diabadikan sebagai penghianat, yang mendatangi meja perundingan, demi memperoleh sepotong roti sebagai upah melakukan gencatan senjata.

Karena itu, silahkan merapat ke istana, silahkan buat perundingan di MK. Kami hanya akan mencatat, setiap dan segala bentuk pengkhianatan.

Kami, adalah rakyat yang telah siap untuk menanggung beban perjuangan. Sebab, kami tak ingin menanggung beban dosa pada generasi setelahnya, karena sikap lemah kami kepada penguasa.

(Redaktur: Abdul Halim)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos