728 x 90

MUNGKINKAH BESOK MENJADI LANGIT KELABU DIATAS IBUKOTA JAKARTA ?

MUNGKINKAH BESOK MENJADI LANGIT KELABU DIATAS IBUKOTA JAKARTA ?

Oleh: Kolonel TNI (Purn) Sugeng Waras (Pemerhati Pertahanan dan Keamanan NKRI, Panglima TRITURA) Seandainya….Selasa, 13 Oktober 2020 besok, atau kapan saja…seluruh rakyat Indonesia yang terdiri dari Ormas Keagamaan dan Kebangsaan, mahasiswa, pelajar, buruh, tani ditambah elemen elemen lain serta para penggembira lainnya, tumplek blek menggeruduk Gedung DPR-RI dan Istana Negara, bisa dibayangkan, sedap seramnya moncong

Oleh:

Kolonel TNI (Purn) Sugeng Waras

(Pemerhati Pertahanan dan Keamanan NKRI, Panglima TRITURA)

Seandainya….Selasa, 13 Oktober 2020 besok, atau kapan saja…seluruh rakyat Indonesia yang terdiri dari Ormas Keagamaan dan Kebangsaan, mahasiswa, pelajar, buruh, tani ditambah elemen elemen lain serta para penggembira lainnya, tumplek blek menggeruduk Gedung DPR-RI dan Istana Negara, bisa dibayangkan, sedap seramnya moncong camera jurnalis asing menerawang pemandangan seram dan suramnya wajah Indonesia yang saat ini dipimpin Presiden Jokowi, (sebab moncong camera jurnalis dalam negeri lagi di reparasi).

Akankah Selasa (13/10) besok akan dikenang sebagai Hari Berkabung Nasional pada tahun tahun mendatang, dan akan diperingati setiap tahun sebagaimana tragedi nasional pembantaian 7 Jenderal TNI AD oleh PKI dalam peristiwa G30S/PKI ?

Jika iya…ini merupakan track rekor Presiden Jokowi dalam mewarnai perjalanan gelap NKRI ketika sedang berkuasa.

Inilah gambaran fenomena yang ada seandainya seluruh masyarakat tetap nekad ingin membatalkan dan mencabut UU Omnibus Law. Sementara rezim Jokowi disisi lain tetap bersikeras tidak bergeming untuk tetap mempertahankan UU laknat tersebut.

Sudah bisa dibayangkan, gelombang tsunami dahsyat pergerakan perjuangan rakyat akan berbenturan dengan aparat keamanan TNI POLRI sekitar Jakarta yang sengaja dipasang untuk membentengi rezim ini.

Belum lagi kekuatan lain diluar Jakarta, yang ada di Jawa dan luar Jawa yang sudah diangkut dan disiapkan sebagai cadangan sewaktu waktu siap digerakkan (Meskipun bisa terjadi perbedaan sikap antara TNI dan POLRI karena tugasnya).

Tidak tahu apakah seorang Presiden merasa hebat dan takabbur, bisa mengerahkan kekuatan pemukul terhadap rakyatnya sendiri seperti itu.

Juga Panglima TNI dan KAPOLRI merasa bangga dan tersanjung serta arogan, dapat menggerakkan kekuatan sebesar itu untuk menunjukkan kehebatan dan kegagahannya sebagai Presiden, Panglima TNI dan KAPOLRI terhadap rakyat yang sedang menderita dan dizaliminya.

Tentunya peluang seperti ini menjadi kesempatan bancakan bagi bangsa asing atau diluar Indonesia. Mereka berlomba mencari celah dan melampiaskan ambisinya untuk mengambil kepentingan dan menawarkan jasa baiknya yang berimbal balik kepada Indonesia.

Ha..ha…saya biasa menskenariokan seperti ini ketika masih aktif memperagakan simulasi tempur operasi gabungan TNI POLRI, termasuk merancang latihannya. Mulai dasar hingga puncak operasi, mulai tahap perencanaan, persiapan, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi dan kaji ulang yang dilaksanakan secara bertahap, bertingkat, berlanjut dan berkesinambungan. Ini menjadi ironis sekali dengan apa yang akan terjadi sesungguhnya, yang terpusat di Ibukota Negara ini.

Tidak akan terbayangkan, gelombang tsunami tadi akan berubah dan menyisakan lautan mayat Syuhada rakyat Indonesia yang berserakan dan bertumpukan disana sini, bak Kiamat di negeri ini.

Sudah pasti tidak bisa dibantah, peristiwa pembantaian Lapangan Tiananmen oleh rezim Komunis di Beijing, China (1989) sebagai inspirasi rezim Jokowi untuk Jakarta, Selasa (13/10) besok.

Meskipun akan membuat sedu sedan, rintih tangis dan dendam kesumat bagi keluarga yang ditinggalkan para Syuhada tersebut.

Akankah peristiwa itu akab menorehkan tinta emas atau tinta hitam atau tinta comberan, tergantung si pembuat sejarah kelak.

Namun, menjadi ironis dan paradoks, ketika ditelusuri hanya karena egois, ambisi dan ulah para stakeholder yang tidak mempertimbangkan standar operasional prosedur pengelolaan negara, yang telah menyimpang bahkan keluar dari azas hukum yang mengikat dan memaksa tanpa mengabaikan sebab akibat.

Kita semua paham dan sadar, akan pentingnya dan bermaknanya seorang pemimpin yang arif bijaksana dalam mengelola dan membawa negaranya, apakah menuju kebaikan ataukah kehancuran.

Kita juga maklum, dalam kapasitas peran dan fungsi DPR dan Pemerintah yang dibatasi ruang dan waktu.

Dalam kapasitas seorang pimpinan kelompok kerja, yang mengatur dan membagi bagi tugas, bisa dipahami pimpinan tidak akan sepenuhnya menguasai masalah yang sangat kompleks. Oleh karenanya, diatur dan dibagi-bagilah peran dan fungsi itu kebidang masing masing.

Hingga pada batas waktu yang diberikan, semua bidang menyerahkan dan mempertanggung jawabkan tugasnya masing masing.

Disinilah penguasaan dan kemampuan pimpinan diuji, apakah mampu, cermat dan tuntas menangani tugasnya.

Dari analisis saya, inilah sumber kesalahan dan kelemahan tim Pokja UU Omnibus Law ini.

Intinya, Ketua Tim Pokja tidak menguasai masalah dan ingin berakses saja. Setelah muncul reaksi masyarakat yang luar biasa karena merasa dirugikan, barulah tim Pokja tergagap gagap kebingungan.

Saya yakin, pada akhirnya Tim Pokja ini akan mengakui kesalahanya yang tidak menguasai masalah timnya, sehingga hasil produk terjadi tumpang tindih dan menyimpang secara keseluruhan.

Maka alangkah bijaknya, jika kesalahan ini diakui, dan minta maaf kepada rakyat, serta membatalkan atau menghapuskan UU zalim tersebut.

Kesimpulanya :

Lebih bijaksana meminta maaf dan mencabut / membatalkan UU Omnibus Law, dibanding harus berhadapan dengan rakyat yang beresiko tinggi terhadap harta benda dan nyawa rakyat Indonesia.

Jika informasi yang diendus, Hari H, Selasa, 13 Oktober 2020, jam “J” jam 13.00, maka sebelum itu, hendaklah Pemerintah segera mengeluarkan pernyataan untuk mencabut, menghapus dan membatalkan UU Omnibus Law Cilaka, sehingga tidak terjadi gelombang tsunami rakyat, pengerahan petugas keamanan dan pasukan penangkal, yang akan menghambur hamburkan uang negara, serta terhindar dari serakan dan tumpukan mayat mayat para Syuhada yang terpenggal masa depannya, sekaligus menjadikan langit diatas Jakarta yang terancam kabut kelabu menjadi kembali bersinar suryanya.

(Bandung, 12 Oktober 2020, 🇲🇨)

Redaktur: Abdul Halim

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos