728 x 90

Dunia Merindukan Nabi Muhammad SAW !

Dunia Merindukan Nabi Muhammad SAW !

Oleh: Imam Shamsi Ali Hari-hari ini ummat Islam di berbagai belahan Dunia diingatkan oleh salah satu peristiwa penting dunia. Sebuah peristiwa yang membawa goncangan dan perubahan dahsyat secara global. Itulah kelahiran manusia terbaik (khaerul anaam), sekaligus penutup (khaatam) dan penghulu (sayyid) para Nabi dan Rasul. Muhammad SAW terlahir di bulan Rabi’ul Awwal, bulan yang tentunya

Oleh:

Imam Shamsi Ali

Hari-hari ini ummat Islam di berbagai belahan Dunia diingatkan oleh salah satu peristiwa penting dunia. Sebuah peristiwa yang membawa goncangan dan perubahan dahsyat secara global. Itulah kelahiran manusia terbaik (khaerul anaam), sekaligus penutup (khaatam) dan penghulu (sayyid) para Nabi dan Rasul.

Muhammad SAW terlahir di bulan Rabi’ul Awwal, bulan yang tentunya mengingatkan akan kehadiran sosok pembaharu (reformer) dan agen perubahan kearah yang lebih baik (al-muslih). Tetapi yang terpenting, beliau hadir sebagai penyampai (muballig) risalah khatimah (the final message) Allah ke seluruh manusia sekaligus tauladan (uswah) bagi semua manusia di muka bumi.

Tentu menuliskan mengenai Muhammad SAW serasa melempar segenggam garam ke lautan samudra luas. Selain sedemikian banyak yang telah menulis tentang beliau dan dalam segala aspek hidupnya, baik dari kalangan “believer” (yang mengimaninya) maupun yang “unbeliever” (tidak mengimaninya). Juga karena menuliskan tentang beliau tidak akan pernah menemukan akhir dari keindahan cerita perjalanan hidupnya.

“Muhammad SAW adalah manusia biasa. Tetapi beliau tidak seperti manusia lainnya. Akan tetapi beliau adalah mutiara di tengah bebatuan. Kesempurnaannya mencapai puncak ketinggian. Keindahannya dirinya menyingkap gulita. Segala lini hidupnya begitu indah nan menawan”.

Ungkapan diatas adalah puji-pujian yang populer dan sering dibacakan oleh kalangan Muslim IPB (India Pakistan Bangladesh). Sebuah pujian yang memang menggambarkan realita kesempurnaan sosok Muhammad SAW.

Pujian yang terpenting tentunya bukan pujian manusia. Tetapi yang terpenting adalah pujian dan pemuliaan Penciptanya sendiri. Berkali-kali beliau dipuji dalam Al-Quran. Salah satunya: “Sungguh engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang sangat Agung”.

Keimanan dan kecintaan kita kepada Muhammad SAW menjadi bagian integral dari keimanan kita kepada Rabb itu sendiri. Bahwa “laa ilaaha illa Allah” itu tidak akan terpisahkan dari “Muhammad Rasululullah”. Hanya melalui ajaran Muhammad SAW, kita akan mencapai keimanan yang benar dan hakiki kepada Allah SWT.

Suasana iman seperti diatas harus menjadi bagian dari detak kating para Mukmin. Tetapi di momen Rabi’ul Awwal inilah, kita kembali membangun komitmen dalam iman dan cinta kepada beliau. Kita “recharge” atau mengisi lagi dada kita dengan gelora iman dan cinta. Sehingga komitmen ketaatan kepadanya semakin membara.

Nabi Muhammad SAW

Dalam dunia yang penuh goncangan, cobaan dan fitnah saat ini, sosok Nabi Muhammad SAW sangat dirindukan oleh manusia untuk hadir kembali. Sebuah sosok yang tidak akan tenang dengan berbagai penyelewengan kehidupan manusia.

Kita diingatkan kembali tentang keadaan Kota Makkah sebelum lahirnya Muhammad SAW. Kejahiliyaan, kezholiman, rasisme, dikriminasi jender dan ras, dan tentunya kekerasan (peperangan) antar suku, menjadi pandangan lumrah. Juga tentunya penyelewengan akidah (Kesyirikan) menjadi ideologi masyarakat Arab jahiliyah saat itu.

Hal diatas itulah yang menjadikan Nabi Muhammad SAW resah, bahkan sedih. Beliau tidak merasakan ketenangan batin dengan suasana kehidupan yang bobrok secara sosial (publik). Karenanya beliau kerap mengadakan takhannuts diatas Jabal Nur (Gunung Cahaya).

Keresahan batin akibat berbagai penyelewengan sosial, sesungguhnya itulah yang mengantar kepada diangkatnya Muhammad SAW sebagai Rasul dan Nabi terakhir (khaatam an-nabiyyin wal mursaliin). Dengan tujuan itu pula beliau melakukan perjuangan (jihad) hingga terjadi perubahan mendasar di Semenanjung Arabia dalam masa kurang dari 23 tahun.

Maka di tengah ketidak pastian dunia saat ini, dimana kerap kebenaran dianggap salah dan kesalahan dianggap benar. Orang baik dianggap berbahaya dan orang jahat justeru dipromosikan sebagai orang-orang baik. Disaat seperti inilah kerinduan akan kehadiran Nabi Muhammad SAW sangat terasa.

Di tengah dunia yang penuh keanehan saat ini, dimana agama justru kerap dipandang ancaman. Sebaliknya idiologi dan prilaku “anti agama” dipandang sebagai nilai positif. Disaat orang-orang yang beragama dipersekusi, sementara mereka yang anti dan kerap merendahkan agama seolah mendapat perlakuan istimewa.

Berbagai prilaku imoralitas seolah dilindungi, sehingga semakin merejalela dan berani. Akibatnya, ancaman kepada integritas (akhlak) kehidupan manusia semakin terancam. Agama dan moralitas dianggap ancaman. Sebaliknya pelanggaran dan dosa-dosa dianggap modernitas dan kemajuan.

Di dunia Barat juga, seperti yang terjadi di Perancis saat ini, nilai-nilai kebaikan universal (kebebasan misalnya) gunakan seenak udel manusia. Pelecehan kepada nilai-nilai keagamaan, Kitab Suci dan mereka yang dihormati dan dimuliakan (para Rasul dan Nabi) menjadi biasa atas nama kebebasan.

Saya khawatir, Macron dan konconya ketika isteri dan anaknya yang dicintai dilecehkan, hanya akan menyikapinya secara biasa. Akankah dia sikapi sebagai sekedar ekspresi kebebasan?

Atau ketika Prancis yang dia cintai dengan semangat nasionalisme itu, dihinakan atau direndahkan. Akankah dia anggap hal itu sebagai sekedar ekspresi kebebasan?

Di tengah dunia yang merasa berperadaban (civilized) dan maju dalam pemikiran intelektualitas, manusia semakin menampakkan kebodohannya (jahiliyah) yang nyata. Prilaku paradoks semakin nyata. Bahkan kemunafikan dipertontonkan dengan tidak malu-malu lagi.

Di tengah dunia yang bobrok (jahil) dan gelap inilah Nabi Muhammad SAW dirindukan kehadirannya. Sosok yang kembali hadir sebagai nur (cahaya), rahmah (kasih sayang), dan sekaligus uswah (tauladan) bagi seluruh alam.

Tentu harapan kehadiran beliau tidak mungkin lagi secara fisik. Beliau adalah basyar (manusia biasa) yang masa dunianya telah berakhir. Tapi nilai-nilai (values), ajaran dan ketauladanan beliau hidup hingga akhir zaman.

Dan semua itu telah diamanahkan di atas pundak umatnya. Maka kerinduan akan hadirnya sosok Nabi Muhammad SAW di dunia ini merupakan tantangan langsung kepada umatnya. Mampukah Umat ini menjadi representasi Nabi Muhammad SAW kepada dunia? Mampukah Umat ini menghadirkan kembali cahaya, nilai-nilai (values) dan ketauladanan baginda Rasulullah SAW ?

Disini pulalah makna peringatan Maulid, bahwa Maulid bukan pada bentuk acaranya. Tetapi lebih kepada memahami, menghayati, mengamalkan dan menyampaikan apa yang menjadi amanah kepada kita dari baginda Nabiyullah Muhammad SAW, yaitu membawa agen-agen perubahan dunia. Menghadirkan kembali cahaya itu di tengah kegelapan yang melanda dunia saat ini.

Kita cinta Rasulullah SAW, kita rindu Rasulullah SAW. Semoga kita disatukan bersama Rasulullah SAW di dalam JannahNya Allah SWT. Amin!

Bintaro, Jakarta, 28 Oktober 2020

(Penulis adalah Imam/Direktur Jamaica Muslim Center USA & Presiden Nusantara Foundation, New York, AS)

Redaktur: Abdul Halim

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos