728 x 90

MEMBANGUN BANGSA INDONESIA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM YANG PLURALISTIK

MEMBANGUN BANGSA INDONESIA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM YANG PLURALISTIK

Ngeshare Bersama Sekum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, MEd. Oleh : Fahmi Salim (Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah dan Komisi Dakwah MUI Pusat) Masyarakat Papua patut bersyukur, karena ada satu lagi Perguruan Tinggi yang berdiri di tanah Papua ini, yaitu Universitas Muhammadiyah Papua (UMP). Kampus yang awalnya bernama Sekolah Tinggi Komunikasi (STIKOM) ini,

Ngeshare Bersama Sekum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, MEd.

Oleh :

Fahmi Salim

(Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah dan Komisi Dakwah MUI Pusat)

Masyarakat Papua patut bersyukur, karena ada satu lagi Perguruan Tinggi yang berdiri di tanah Papua ini, yaitu Universitas Muhammadiyah Papua (UMP). Kampus yang awalnya bernama Sekolah Tinggi Komunikasi (STIKOM) ini, berubah menjadi Universitas sejak 23 Oktober 2020 lalu. Keberadaan UMP merupakan aset berharga bagi kemajuan pendidikan di tanah Papua, sebagai wujud kontribusi Muhammadiyah untuk bangsa Indonesia dalam peningkatan sumber daya manusia.

Meskipun didirikan oleh Muhammadiyah sebagai ormas Islam modernis terbesar di dunia, menurut Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, UMP bukan ditujukan untuk umat Islam semata, juga seluruh masyarakat Papua tanpa dibeda-bedakan suku dan agamanya, apalagi memiliki tujuan untuk Islamisasi. Karena, ajaran Islam memegang prinsip beragama itu tidak boleh ada pemaksaan, sebagaimana termuat dalam surat Al Baqarah ayat 256. “Kami justru ingin mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta,” ujarnya seperti dipaparkan dalam program Ngaji Syar’ie (Ngeshare), “Ngaji Dulu, Alim Kemudian.”

Simak dialognya lengkapnya di link berikut ini:https://youtu.be/2y6hYAdnrbE

Muhammadiyah sudah lama berkiprah di tanah Papua. Kegiatan yang bercirikan Muhammadiyah pertama kali dikembangkan oleh Teuku Bujang, yang dibuang Belanda dari Aceh ke Merauke, Papua pada tahun 1922. Selain mendirikan masjid dan madrasah, juga menggerakan para pemuda di daerah itu. Karena aktivias inilah, ia ditangkap penjajah Belanda, lalu dijebloskan ke dalam penjara.

Menurut catatan sejarah, Islam sudah tersebar ke tanah Papua, sejak abad ke-13. Pada tahun 1940, Muhammadiyah juga sempat mengirimkan dai-dainya ke wilayah selatan Papua, dan diterima dengan baik oleh Raja Rambati ke-16. Namun, pada masa penjajahan Belanda, pergerakan Islam dibatasi, dan hanya agama Kristen Protestan dan Katolik yang diijinkan berkembang, sehingga perkembangan Islam di Papua masih tertinggal.

Pengabdian Muhammadiyah untuk bangsa ini sudah terbukti dari Sabang sampai Merauke, dengan mendirikan berbagai amal usahanya, dari taman kanak-kanak, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK, Pondok Pesantren, Perguruan Tinggi, Rumah Sakit hingga Panti Asuhan. Muhammadiyah juga ikut terlibat dalam pemberdayaan masyarakat di wilayah timur Indonesia.

Misalnya, masyarakat Kokoda di Sorong, Papua Barat, yang awalnya masyarakat nomaden, kini memiliki lahan perkampungan sendiri. Melalui Majelis Pemberdayaan Masyarakat, Muhammadiyah terlibat mulai pembebasan lahan, memberikan bantuan rumah, hingga mengajarkan masyarakat untuk bercocok tanam dan berternak.

Begitu pula, di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang penduduk muslim hanya sekitar 9 persen, Muhammadiyah mendirikan Universitas. Banyak warga non muslim yang menjadi mahasiswa, bahkan mereka diberi pengajaran agamanya masing-masing.

Menurut Prof. Abdul Mu’ti, kaum Muslimin yang hidup sebagai minoritas di tengah-tengah masyarakat, harus menonjolkan kesamaan dengan warga mayoritas tanpa harus menyembunyikan identitas dirinya. “Jadilah warga minoritas muslim yang kreatif dan adaptif,” tegasnya.

Pemahaman terhadap pluralisme, menurut Prof. Abdul Mu’ti tak berarti harus mengorbankan keyakinannya tentang kebenaran agamanya, atau mendukung relativisme kebenaran Islam. Begitu pula, tidak boleh mencampuradukan kebenaran Islam dengan agama atau keyakinan lainnya (Sinkretisme). Tapi, cukuplah mengetahui sebab perbedaan itu, kemudian mencari titik temu persamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Keberagaman itu sebuah keniscayaan, tidak hanya sekedar karena perbedaan agama. Bahkan, dalam tubuh umat Islam sendiri, terdapat beragam pemahaman Fikih dan harus disikapi dengan bijak, maka orang-orang beriman memiliki misi untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan. Inilah sesungguhnya visi dakwah yang dipegang Muhammadiyah. Umat Islam harus menunjukan keunggulan dengan berbagai amal sholeh dan memberi kebermanfaatan bagi seluruh umat. Meskipun, mereka belum tergerak untuk masuk Islam, menurut Abdul Mu’ti, setidaknya umat lain tidak memusuhi Islam, bahkan secara obyektif mengakui keunggulan ilmu dan akhlak umat Islam, sebagaimana teladan agung dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam (SAW)

Rasululloh pernah berpesan dalam sabdanya, _”Ballighu anni wa lau ayat (sampaikan dariku walaupun satu ayat)”_, yang bisa dimaknai, menurut Abdul Mu’ti, menyampaikan satu ayat Allah yang dengannya kita tampilkan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta, dengan bukti-bukti nyata sehingga umat Islam menjadi umat yang terbuka dan bisa bergaul di tengah keberagaman. Sikap ini merupakan buah dari pendidikan agama yang pluralistik, seperti yang disampaikan Mu’ti dalam pengukuhan Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam di UIN Syarif Hidayatulloh, Jakarta pada awal September 2020 lalu.

Menurut beliau, pendidikan agama Islam yang pluralistis adalah sebuah model yang diharapkan dapat menjawab tiga tantangan. Pertama, adanya kecenderungan meningkatnya intoleransi intern dan antar umat beragama. “Ironisnya, intoleransi sesama umat beragama (intern) lebih tinggi dibandingkan dengan intoleransi antar umat beragama,” jelasnya.

Kondisi ini diakibatkan sistem pembelajaran agama cenderung doktriner dan mengarah kepada penyeragaman faham agama Islam tertentu yang ditanamkan oleh guru, buku teks, dan satuan pendidikan. Fenomena intoleransi, juga tumbuh di tengah kekecewaan terhadap kinerja pemerintah terkait keadilan sosial dan penegakan hukum. Apalagi, banyak konten media sosial bercorak ekslusif dan intoleran yang saat ini diakses siswa.

Umat Islam memiliki tanggungjawab untuk mendidik generasi muda yang unggul, seperti yang dipesankan dalam surat Annisa ayat 9, bahwa kita jangan meninggalkan generasi penerus dalam kondisi lemah. Yang dimaksud generasi yang lemah, bukan hanya fisik semata, justru yang terpenitng akalnya. Karena itulah, generasi muda muslim itu harus kuat staminanya, juga tangguh mentalnya dan luas wawasan ilmunya. Karena, inilah persyaratan jika umat Islam ingin kembali memimpin dunia dan memakmurkannya.

Konsep ini diuraikan Abdul Mu’ti, dengan mengutip ayat 247 dalam surat Al Baqaroh, yang beliau bacakan di awal program Ngeshare. Ayat ini mengisahkan tentang kaum bani Israel yang meminta Nabi Samuel untuk berdoa kepada Alloh agar mereka dipimpin oleh seorang raja, karena sebelumnya terpecah-pecah dan setiap suku dipimpin seorang hakim. Maka, Alloh memilih Thalut sebagai Raja Bani Israel, namun mereka menolaknya, karena bukan dari golongan kaya dan terpandang. Kemudian, Nabi Samuel menjawabnya, seperti diabadikan dalam ayat ini. “Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik. Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”

‘Basthotan’ yang disebut ayat ini adalah keunggulan berupa fisik dan ilmu, yang menjadi persyaratan seorang pemimpin. Karena itulah, jika umat Islam ingin kembali meraih kejayaan, maka selain keimanan yang kokoh, juga harus sehat, stamina kuat dan wawasan ilmunya yang luas, sebagaimana teladan dari para ulama zaman dulu sebagai pembelajar sejati. Ketika menjadi santri, mereka berguru dari satu pondok ke pondok lain, dari satu ulama ke ulama lainnya. “Karena itulah, generasi muda muslim tidak boleh minder, inferior, sebaliknya harus percaya diri karena ilmu pengetahuannya,” jelas Abdul Mu’ti.

‘Ilmu’ dalam islam disebut “cahaya yang Alloh turunkan berupa pemahamannya dalam hati.” Alloh menciptakan manusia dengan kesempurnaan ciptaan-Nya, dengan kelengkapan fisik dan potensinya, untuk melihat, mengamati, dan memikirkan semua ayat-ayat Alloh. Dalam berbagai penelitian, ternyata tumbuh kembang manusia hanya sebagian kecil yang digunakannya melalui otak, sedangkan sebagian besar lebih dari 80 persen, tersimpan dalam organ jantung, yang kita kenal dengan istilah hati.

Para ilmuwan juga sudah menemukan bahwa jantung tidak sekedar alat pompa yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh, juga menjadi pusat informasi yang amat kompleks dan terorganisasi sendiri. Artinya, jantung memiliki kemampuan dan kecerdasan berpikir yang jauh lebih besar daripada otak. Dr. J. Andrew Armour, seorang ahli neurocardiology, mengatakan bahwa tiap detak jantung mengirim sinyal yang kompleks ke otak dan organ-organ lain. Sinyal-sinyal jantung ini mampu untuk mencapai pusat otak yang lebih tinggi, yang secara otomatis mempengaruhi cara manusia berargumen dan memilih, mengendalikan emosi dan persepsi. Jadi jantung tidak hanya memililki bahasa sendiri, tetapi bahkan pemikiran sendiri. Artinya, jantung memiliki sistem saraf intrinsik, yang bisa bekerja secara independen untuk belajar, mengingat, bahkan merasa dan mengindera.

Temuan ini sudah sejak dahulu dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya : “Ingatlah bahwa dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik maka baik pulalah seluruh jasadnya; Jika ia rusak maka rusak pulalah seluruh jasadnya. Ketahuilah segumpal daging itu adalah ‘Qalb’ (jantung)”. (H.R Al-Bukhari, Muslim, Ibn Majah, Ahmad, Al-Darimi).

Qalbu yang sering diterjemahkan hati merupakan pusat dari kendali jiwa manusia, pusat pengertian dan pusat kepribadian. Karena itulah, dalam Alquran, Alloh menegaskan bahwa bukan otak yang akan diminta pertanggungjawaban melainkan hati. “Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya” (QS. Al-Isra: 36).

Berpikir dengaan otak memiliki keterbatasan karena harus bersifat empiris, sedangkan berpikir dengan hati bisa menjangkau sesuatu yang ghaib. Orang yang mengaktifkan hatinya yang terdalam, akan mencapai maqam tertinggi berupa ‘Ma’rifatulloh’, yang merupakan puncak dari pengetahuan dan kesadaran manusia, sebagaimana yang dimiliki para nabi. Mengenal Tuhan itu sesungguhnya merupakan fitrah manusia yang telah Alloh tanamkan dalam persaksiannya di alam ruh sebelum manusia lahir ke muka bumi. (Lihat QS Al A’raf: 172)

Karena itulah, konsep pendidikan dalam Islam tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan ke dalam otak manusia (kognitif) juga harus mengasah hati yang berupa keimanan. Menurut Abdul Mu’ti, inilah yang diwariskan oleh KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dengan mengintegrasikan antara pendidikan ilmu agama dengan model pesantren dan pendidikan ilmu umum di sekolah-sekolah. Sejatinya tidak ada dikotomi antara dua kutub ilmu agama dan ilmu umum. Karena, semua ilmu bersumber dari Alloh Azza wa Jalla. “Namun, realitas sosioligisnya umat Islam itu tertinggal dalam ilmu pengetahuan umum (sains), jadi kita harus mengejarnya,” jelas Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) ini.

Karena itulah, Muhammadiyah lebih banyak mendirikan sekolah umum dan perguruan tinggi daripada pesantren. Alasannya, menurut Abdul Mu’ti, Muhammadiyah bercita-cita ingin mencetak ulama yang intelek dan intelek yang ulama. Peran ilmu pengetahuan itu sangat penting untuk mencapai kemajuan sebuah bangsa. Sebagaimana prinsip dari KH. Ahmad Dahlan sendiri bahwa pendidikan Islam hendaknya diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya.

Pesan ini tentu tidak hanya ditujukan bagi kader Muhammadiyah, juga bagi kita sebagai umat Islam. Jika umat ini ingin kembali berjaya dalam persaingan global ini, maka langkah pertama, kuasailah ilmu pengetahuan.

Wallohu ‘alam

Redaktur: Abdul Halim

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos