728 x 90

BERAMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR KEPADA PARA PEMIMPIN BANGSA

BERAMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR KEPADA PARA PEMIMPIN BANGSA

Oleh: Prof. Dr. Muhammad Chirzin (Guru Besar UIN SUKA Yogyakarta) Dalam kehidupan, sesuai fitrah manusia, yang baik (makruf) selalu dipuji, sedangkan keburukan atau kejahatan (mungkar) selalu dicela. Amar makruf nahi mungkar merupakan upaya memelihara fitrah manusia agar selalu pada jalan kebaikan untuk menciptakan masyarakat ideal. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, _Kamu adalah umat terbaik dilahirkan

Oleh:

Prof. Dr. Muhammad Chirzin

(Guru Besar UIN SUKA Yogyakarta)

Dalam kehidupan, sesuai fitrah manusia, yang baik (makruf) selalu dipuji, sedangkan keburukan atau kejahatan (mungkar) selalu dicela. Amar makruf nahi mungkar merupakan upaya memelihara fitrah manusia agar selalu pada jalan kebaikan untuk menciptakan masyarakat ideal.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, _Kamu adalah umat terbaik dilahirkan untuk segenap manusia, menyuruh orang berbuat makruf dan melarang perbuatan mungkar serta beriman kepada Allah_. (QS Ali Imran/3:110).

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman, _Sungguh, Allah tidak akan mengubah keadaan kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada mereka sendiri. Jika Allah hendak menjatuhkan hukuman kepada suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, juga tak ada yang dapat melindungi selain Dia._ (QS Ar-Ra’du/13:11).

Allah SWT tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, umat, bangsa, menjadi lebih baik, selama mereka tidak mengubah sikap mental dan pikiran yang menyebabkan kemunduran mereka.

Ciri umat yang terbaik ialah beramar makruf, nahi mungkar, dan beriman kepada Allah SWT. Amar makruf nahi mungkar ialah perintah untuk mengerjakan perbuatan yang baik dan larangan mengerjakan perbuatan yang keji.

Makruf ialah sesuatu yang telah dikenal, diketahui, diterima dan disepakati oleh orang banyak. Jiwa manusia merasa tenang dan tidak menolaknya. Makruf mencakup segala bentuk ketaatan kepada Allah, upaya mendekatkan diri kepada Allah, kebaikan dan semua yang dianjurkan agama dan akal sehat.

Makruf erat dengan kebaikan dalam Al-Quran: al-birr, al-khair, al-hasan. Amar makruf bermakna mengajak kepada kebaikan dan membuka jalan-jalan menuju kepadanya, hingga kebaikan itu menjadi kuat dan bermanfaat.

Mungkar ialah sesuatu yang tidak dikenal orang dan ditolak. Makna dasarnya sesuatu yang masuk ke dalam hati tanpa diduga sehingga hati menolaknya. Mungkar adalah setiap perbuatan yang dinilai jelek/buruk menurut akal, atau dipandang buruk oleh agama saat akal tak bisa memutuskannya. Segala sesuatu yang dibenci dan diharamkan oleh agama, baik berupa perkataan maupun perbuatan adalah mungkar.

_Allah memerintahkan berbuat adil, mengerjakan amal kebaikan, bermurah hati kepada kerabat, dan Dia melarang melakukan perbuatan keji, mungkar dan kekejaman. Dia mengajarkan kepada kamu supaya menjadi peringatan bagimu._ (QS An-Nahl/16:90).

Rasulullah SAW bersabda, _“Siapa yang melihat kemungkaran, hendaklah mengubahnya dengan tangan; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak sanggup, maka dengan hati, dan itu adalah selemah-lemah iman.”_

Kemungkaran, sekecil apa pun, bila dibiarkan akan meluas dan merepotkan semua orang dalam masyarakat dan perlahan-lahan akan menghancurkan. Dampak kemungkaran dirasakan pelaku dan anggota masyarakat lain.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, _Jagalah dirimu dari bencana fitnah yang tidak hanya akan menimpa mereka yang jahat saja di antara kamu, dan Allah keras sekali dalam menjatuhkan hukuman._ (QS Al-Anfal/8:25).

Rasulullah SAW bersabda, _“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaklah kamu sekalian melakukan amar makruf nahi mungkar, atau Allah akan segera menurunkan siksa, kemudian kalian berdoa kepada-Nya tetapi tidak dikabulkan.”_ (HR Tirmidzi).

Umar bin Khathab RA membentuk lembaga khusus yang bertugas menangani amar makruf nahi mungkar: (1) mengawal kehidupan beragama; (2) mengawal etika kesopanan umum; (3) kesehatan masyarakat di tempat-tempat pelayanan umum; (4) mengawasi pasar agar tidak terjadi penipuan, kecurangan timbangan, dan praktik monopoli; (5) mengawasi tempat-tempat pendidikan dan pengajaran; (6) mengawasi pendirian bangunan dan fasilitas milik umum.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, _Hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh orang berbuat benar dan melarang perbuatan munkar. Mereka itulah orang yang beruntung._ (QS Ali Imran/3:104).

Rasulullah SAW bersabda, _“Sesungguhnya jika masyarakat melihat kezaliman dan tidak mencegah dengan tangannya, maka Allah akan segera menimpakan siksa massal kepada mereka_.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Umat Islam ibarat sebuah kapal yang berlayar di lautan. Setiap penumpang bertanggung jawab atas keselamatan sampai tujuan. Jika ada penumpang yang melubangi dinding kapal, maka itu mengencam keselamatan semua, dan jika dicegah, maka selamatlah semua. (Rasulullah saw HR Bukhari).

Amar makruf bisa dilakukan siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Pendekatan amar makruf nahi mungkar: (1) mengajak manusia meniti jalan kebenaran dengan dakwah sesuai kondisi manusia; (2) mengajak kaum cendekiawan untuk berdialog dengan kata-kata bijak; (3) mengajak kaum awam dengan memberi nasihat yang baik; (4) mengajak pemeluk agama lain berdebat dengan logika dan retorika yang halus. (QS 3:125).

Dampak nahi mungkar empat bentuk: (1) kemungkaran hilang dan digantikan dengan yang makruf; (2) kemungkaran berkurang, walau tidak hilang seluruhnya; (3) kemungkaran itu mendatangkan kemungkaran yang serupa; (4) kemungkaran itu mendatangkan yang lebih buruk lagi. (Ibnul Qayyim).

Hal paling buruk yang menimpa umat adalah ketika suara kebenaran menjadi begitu rendah, sedangkan teriakan-teriakan kebatilan begitu tinggi mengajak kepada kerusakan, memerintahkan kemungkaran, dan mencegah dari kebaikan (Syaikh Yusuf al-Qaradhawi).

Rasulullah SAW bersabda, _“Jihad paling utama adalah menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang zalim._” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Amar makruf harus dilakukan secara makruf dan nahi mungkar dilakukan secara makruf pula. Ketika kemungkaran dilakukan penguasa, para ulama dan cendekiawan wajib mengingatkan melalui lisan atau tulisan, secara terbuka atau tertutup, dan masyarakat luas hendaknya memberikan dukungan moril maupun materiil.

Dalam segala hal, kaum intelegensia tidak dapat bersikap pasif, menyerahkan segala-galanya kepada mereka yang kebetulan menduduki jabatan sebagai pemimpin negara dan masyarakat. Kaum intelegensia adalah bagian dari rakyat, warga negara yang sama-sama mempunyai hak dan kewajiban. Dalam Indonesia yang berdemokrasi, ia ikut serta bertanggung jawab tentang perbaikan nasib bangsa. Demikian kata Bapak Proklamator, Mohammad Hatta.

Dalam kondisi carut-marut negeri begini kita niscaya tetap memiliki optimisme untuk perbaikan. Syaratnya, tidak lelah dan berhenti melakukan introspeksi dan perbaikan diri. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Prof.Dr. Din Syamsuddin menyatakan, bahwa hubungan antara penguasa dan rakyat adalah bersifat kontraktual dan merupakan persoalan relasional yang mengandung arti adanya simbiosis mutualisme, yaitu hubungan yang saling membutuhkan antara dua pihak.

Setiap warga negara, apa pun jabatannya, harus berpegang teguh dan menjunjung tinggi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, supaya tercapai cita-cita kemerdekaan Indonesia, terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, aman, damai, dan sejahtera, serta bahagia.[]

Redaktur: Abdul Halim

1 comment
Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

1 Comment

  • Lina
    November 3, 2020, 3:08 pm

    Amar makruf nahi mungkar adalah semangat yang perlu terus menerus disuarakan

    REPLY

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos