728 x 90

HRS, Khomeini dan Aquino

HRS, Khomeini dan Aquino

Oleh: Abdul Halim (Jurnalis Muslim) Pernyataan Menko Polhukam, Mahfud MD yang akan menyikat para pendukung dan simpatisan yang menyambut kedatangan Imam Besar Habib Rizieq Syihab (IB HRS) di Bandara Soetta pada Selasa (10/11) besok, sungguh mengejutkan. Betapa tidak, pernyataan itu seharuanya tidak pantas keluar dari mulut seorang pejabat tinggi negara yang bergelar Profesor Doktor Hukum

Oleh:

Abdul Halim

(Jurnalis Muslim)

Pernyataan Menko Polhukam, Mahfud MD yang akan menyikat para pendukung dan simpatisan yang menyambut kedatangan Imam Besar Habib Rizieq Syihab (IB HRS) di Bandara Soetta pada Selasa (10/11) besok, sungguh mengejutkan. Betapa tidak, pernyataan itu seharuanya tidak pantas keluar dari mulut seorang pejabat tinggi negara yang bergelar Profesor Doktor Hukum Tata Negara, tetapi lebih pantas keluar dari mulut seorang yg berpendidikan rendah.

Adapun yg lebih berbahaya lagi adalah, statemen Mahfud MD itu seolah memberi jalan bagi para provokator bayaran untuk mengacaukan situasi dengan membuat kerusuhan saat kedatangan HRS setelah 3,5 tahun hijrah dan bermukim di kota suci Makkah al Mukarromah, Arab Saudi.

Jika sampai terjadi kerusuhan dan pembakaran, maka rezim punya alasan untuk menindak tegas para pendukung bahkan terhadap HRS sendiri. Padahal selama ini sudah terbukti, para pendukung setia HRS selalu santun dan tidak pernah bertindak anarkis selama demo besar besaran yg diikuti jutaan massa seperti pada 1410, 411 dan 212 tahun 2016 lalu, yg kesemuanya dibawah komando langsung HRS.

Pertanyaannya adalah, apakah rezim yg condong ke kiri ini memang menginginkan terjadinya kerusuhan massal, sehingga memiliki alasan untuk menumpas para pendukung dan simpatisan HRS serta menangkap dan memenjarakan kembali HRS, karena dianggap sebagai tokoh oposisi yg paling ditakuti karena akan mengerakkan revolusi meski hanya revolusi akhlak, bukan revolusi sosial atau revolusi rakyat.

Tentu saja kekhawatiran itu tidaklah beralasan, sebab HRS bukanlah Beniqno Aquino apalagi Khomeini, dimana keduanya kembali ke negaranya untuk memimpin revolusi rakyat, menghadapi seorang diktator dan tirani yg kejam dengan dukungan AS dan masa kekuasaannya tak terbatas, seperti Presiden Ferdinand Marcos (Filipina) dan Syah Mohammad Reza Pahlevi (Iran).

Sedangkan yg dihadapi HRS adalah Jokowi, seorang Presiden yg bukan pengurus Parpol tetapi hanya Petugas Partai dan dipilih untuk masa jabatan periode kedua yg akan lengser pada tahun 2024 mendatang. Apalagi Wakilnya juga seorang ulama besar dan masih menjabat Ketua MUI, KH Ma’ruf Amin. Namun itu tidak menjamin kalau Jokowi lebih demokratis dan menghormati HAM daripada Marcos dan Syah Iran. Memang, kalau Syah Iran dan Ferdinand Marcos mendapat dukungan kuat dari AS, maka Jokowi juga mendapat dukungan sangat kuat dari sahabatnya Presiden Republik Rakyat China Komunis, Xie Jin Ping.

Khomeini dan Aquino

Setelah dipaksa oleh Syah Reza Pahlevi untuk hijrah dalam suatu pemberontakan rakyat yg gagal di Iran (1964), Khomeini berpindah pindah tempat selama hijrahnya 15 tahun (1964-1979) dari Turki, Iraq dan terakhir ke Paris, Perancis. Akhirnya dari Perancis, Khomeini sukses memimpin revolusi rakyat untuk menggulingkan Syah Iran dan mendirikan Republik Islam Iran yg berfaham Syiah hingga sekarang. Setelah 41 tahun Revolusi, Iran dengan penduduk hampir 100 juta orang, menjadi negara paling kuat militernya di Timur Tengah dan paling diperhitungkan oleh Washington.

Mengapa Khomeini nekat kembali ke negaranya, sementara waktu itu secara de jure dan de facto Syah Iran masih berkuasa ? Memang Syah Iran masih berkuasa dan didukung militer Iran yg kuat, namun pada 15 Januari 1979, Syah Iran beserta keluarga besarnya kabur menuju AS, sementara Khomeini kembali ke Iran pada 1 Februari 1979 dan berhasil berkuasa di Iran pada 11 Februari 1979. Jadi hanya dlm waktu 11 hari, Khomeini berhasil melengserkan Syah Iran dari singgasananya untuk selamanya sekaligus mengakhiri Sistim Monarki Iran yg sudah berumur selama 2500 tahun. Salah satu kunci keberhasilan Revolusi yg dipimpin Khomeini adalah adanya pembelotan dari personel Angkatan Udara Iran yg membuka gudang senjatanya dan diberikan kepada kaum revolusioner yg akhirnya berhasil menguasai Teheran dari militer pro Syah Iran.

Selain itu, sebagai seorang ulama, Khomeini haqqul yaqin pasti nasrullah akan datang, setelah selama puluhan tahun berjuang melawan Syah Iran yg dinilainya pro Barat, memusuhi para ulama serta menjadi pendukung kuat negara zionis Israel.

Berbeda dengan Khomeini, meski sama sama berjuang untuk mengakhiri kekuasaan diktator Ferdinand Marcos sejak 1966, namun takdir berkata lain. Setelah mengasingkan diri selama bertahun-tahun di AS, akhirnya Beniqno Aquino sebagai tokoh oposisi, nekat pulang ke Filipina pada 21 Agustus 1983. Namun ketika pesawatnya mendarat di Bandara Manila, begitu keluar dari pintu pesawat, Aquino langsung ditembak mati oleh orang tak dikenal yg diduga atas perintah rezim Marcos.

Namun pasca kematian Aquino, Filipina tak pernah berhenti dari pergolakan politik, sehingga Marcos lengser dan melarikan diri ke AS (1986), sementara penggantinya istri Beniqno, Cory Aquino. Revolusi di Filipina berhasil setelah militer turun tangan membantu rakyat untuk menggulingkan Marcos.

Memang ada kemiripan antara kembalinya HRS ke negaranya dengan Khomeini dan Aquino ke negaranya. Sebab ketiga tokoh ini berjuang untuk tegaknya demokrasi dan keadilan sosial dari negara lain. Namun perbedaannya adalah Khomeini dan Aquino kembali untuk menumbangkan rezim yg sedang berkuasa melalui revolusi sosial dan revolusi rakyat, sedangkan HRS kembali untuk menegakkan revolusi akhlak.

HRS ingin merubah mental sebagian pejabat dari hobby korupsi menjadi jujur dan adil, penuh kecurangan menjadi amanah, memusuhi ulama menjadi bersahabat dengan ulama, hobby maksiyat menjadi suka beribadah dan sebagainya. Sesungguhnya itu merupakan Amar Makruf Nahi Mungkar, seperti selama ini yg menjadi medan perjuangan dari Front Pembela Islam (FPI).

Kita doakan, semoga HRS dan keluarganya selamat kembali ke tanah airnya dan tak terjadi sesuatu apapun, sehingga revolusi akhlak yg dipimpinnya berhasil dengan baik, aamiin. Hasbunallah wa nikmal wakiil, nikmal maula wa nikman nashiir.

(Tangerang, Ahad, 8 November 2020)

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos