728 x 90

POLITIK DAN STRATEGI

POLITIK DAN STRATEGI

Oleh: Sugeng Waras Kolonel TNI (Purn) Banyak masyarakat di tingkat RT dan RW yang menolak perbincangan politik, yang dinilai sebagai sumber perpecahan persatuan dan kebersamaan warga, namun mereka lupa bahwa bangsa Indonesia bisa merdeka, disamping perjuangan bersenjata juga berkat perjuangan politik. Untuk menjadi bangsa yang besar, kita harus berpikir besar dan berkarya besar, walaupun mungkin

Oleh:

Sugeng Waras

Kolonel TNI (Purn)

Banyak masyarakat di tingkat RT dan RW yang menolak perbincangan politik, yang dinilai sebagai sumber perpecahan persatuan dan kebersamaan warga, namun mereka lupa bahwa bangsa Indonesia bisa merdeka, disamping perjuangan bersenjata juga berkat perjuangan politik.

Untuk menjadi bangsa yang besar, kita harus berpikir besar dan berkarya besar, walaupun mungkin beresiko besar.

Berpikir besar dan berkarya besar untuk agama, bangsa dan negara dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, sesuai cita cita bangsa, aspirasi dan rumusan luhur bangsa, yang menjiwai dan memberi gairah hidup bangsa, memedomani arah abadi bangsa dan menjadi sumber kekuatan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam mencapai itu, digunakanlah suatu Strategi yang merupakan gabungan Ilmu dan seni.

Ilmu Ipoleksosbudaghukmil, Geografi dan Demografi dipadukan dengan seni guna menciptakan dan menghasilkan tujuan, yang dilandasi dengan kejujuran, kebenaran dan keadilan sebagai roh dari persatuan dan kesatuan bangsa.

Bahwa segala sesuatu yang besar, pasti melalui proses yang panjang, berliku liku, penuh dinamika, berencana, bertahap, bertingkat, berlanjut dan berkesinambungan, yang dilakukan secara konsisten dan konsekuen.

Maka, kurang tepat jika kesinambungan dan keintegrasian itu dipotong potong apalagi dipisah pisahkan satu sama lain.

Perang tidak bisa sepenuhnya dipisahkan dengan damai, agama tidak harus dipisahkan dengan politik, ideologi, ekonomi, sosial, budaya, hukum dan militer. Kadang untuk damai perlu perang, tapi perang itu sendiri untuk tujuan damai

Bagaimana situasi dan kondisi Indonesia saat ini ? Apakah situasi kita kini, dalam keadaan perang atau damai ? Atau damai yang mencekam perang ? Sangat tergantung dari niat, pikiran dan sikap kita merasakan dan memandang.

Persengketaan Kampret dengan Cebong, berlanjut perhelatan Umat Islam dengan Rezim, tidak bisa untuk digeneralisir, karena ada indikasi anggapan ada Tuhan dan tidak ada Tuhan, sama punya Tuhan tapi lain Agama, sama Agama tetapi beda Nabi/panutan, sama Nabi tapi beda aliran, sama aliran tapi beda partai/ormas, sama Ormas tapi beda pendapat/pilihan.

Disisi lain, pandangan terhadap orang pribumi dan orang asing, dimana orang pribumi atau asing ada yang berjiwa ulama, pedagang, petani, tenaga kesehatan dll, namun ada pengkianat, pecundang, pencoleng dan perusak.

Namun tetap harus menjadi perhatian sungguh sungguh, bahkan harus diwaspadai terhadap orang asing golongan Aseng, sang pengeruk kekayaan alam, bahkan ikut campur berkiprah dipusaran kekuasaan.

Lain ladang lain belalang, lain kolam lain ikannya, lain negara lain karakternya.

Bangsa Cina berkarakter ulet, tekun, gigih, cerdas, cerdik, pandai, licik, perhitungan dan berprinsip kuat dan teguh untuk mempertahankan tanah wilayah kepemilikannya untuk dimiliki bangsa lain, biar sejengkal tanah pun.

Berkemauan keras untuk tidak kembali ke negaranya, jika sudah berada dan bertempat tinggal dinegara lain.

Bahkan, dengan kemampuanya, bangsa Cina berani mencampuri dan mempengaruhi kekuasaan Pemerintahan untuk menguasai negara lain dalam jangka panjang, dengan berbagai cara yang lembut, menarik sampai dengan cara cara brutal, termasuk yang dilakukan di Indonesia.

Lebih hebatnya, ini hanya diketahui oleh warga yang tidak sedang menjabat, namun tidak disadari meskipun dirasakan nikmatnya oleh bangsa kita yang sedang menjabat.

Lebih konyol lagi bagi bangsa kita sendiri yang sedang berkuasa, yang suka lengah, terbius, yang bergaya hidup enak dan santai dengan hasil dari menelan gelontoran korban rakyatnya sendiri.

Penyalahgunaan jabatan, kekuasaan dan wewenang dalam memperalat dan memanfaatkan kekuatan jajarannya, nyaris tak terkendali dan membabi buta, dengan kedok hukum yang dipolitikkan atau kedok politik yang dihukumkan.

Tak kunjung jera, malu dan sadar apa yang dilakukan, bahkan secara kelompok dan massif. Ujung ujungnya, rakyat yang senantiasa menjadi korban.

Maka, peristiwa dan kejadian kejadian tragis seperti pembuatan RUU atau UU baik berbau pengkhianatan, penyelewengan perselingkuhan, perskongkelan, tidak tertangkapnya dan belum terungkapnya buron Harun Masiku dan Joko Chandra, serta terciduknya Edhy Prabowo disatu sisi.

Juga terus dimasalahkanya HRS dan Anis Bawesdan, namun diabaikannya pelanggar pelanggar hukum lain, baik yang menyangkut masalah Prokes atau kasus pidana.

Silahkan para ahlinya, melihat tentang kebenaran dan keadilan terhadap para pelaku yang gamblang bisa dipilah dan dipilih dari sumber kelompok mana mereka berasal. Silahkan dinilai dan dikembangkan sendiri Namun ada yang perlu kita ingat !

Tidak ada kejahatan yang sempurna, apa yang nampak belum tentu seperti itu, dan apa yang tidak nampak belum tentu tidak ada. Fata Morgana memperlihatkan adagium itu.

Semoga kita dapat mengungkap, maling teriak maling, pemecah persatuan, berteriak lantang orang lain pemecah persatuan !

Wait and see !

Jakarta, Kamis, 26 November 2020

Redaktur: Abdul Halim

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos