728 x 90

PERINGATAN KERAS BAGI DALANG DAN PEMBUNUH ENAM LASKAR FPI

PERINGATAN KERAS BAGI DALANG DAN PEMBUNUH ENAM LASKAR FPI

Oleh : Kolonel TNI (Purn) Sugeng Waras Perintah atasan, tidak selamanya perintah Negara ! Tidak ada perbuatan dosa besar yg gratis. Bersiap-siaplah, cepat atau lambat, bagi siapa saja yang berbuat salah, akan menebus kesalahan dan dosa dosanya. Bahkan harus siap lahir batin, untuk berhenti dan jatuh terpuruk prestasi dan ambisinya, kejenjang yang lebih tinggi. Percaya

Oleh :

Kolonel TNI (Purn) Sugeng Waras

Perintah atasan, tidak selamanya perintah Negara ! Tidak ada perbuatan dosa besar yg gratis.

Bersiap-siaplah, cepat atau lambat, bagi siapa saja yang berbuat salah, akan menebus kesalahan dan dosa dosanya.

Bahkan harus siap lahir batin, untuk berhenti dan jatuh terpuruk prestasi dan ambisinya, kejenjang yang lebih tinggi.

Percaya tidak percaya, nyawa atau ruh dari orang yang dibunuh akan terus mengejar kemanapun kalian bersembunyi, yang membuat kalian resah gelisah, tak ada kenyamanan hidup dan kebahagiaan diri.

Perintah, jelas lancar dan landai dari atasan kebawahan, tapi saatnya dimintai pertanggung jawaban, banyak atasan yang lempar batu sembunyi tangan.

Prediksi terburuk ini, harus dipahami dan disadari bagi para penembak atau pembunuh 6 orang laskar pengawal HRS, walaupun telah dan akan disiapkan argumen terbaiknya.

Sebagai manusia biasa, kita tidak akan mampu menghindar dari nasib baik atau buruk yang diberikan dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dalam kehidupan militer atau polisi, tidak ada sistim demokrasi atau tawar menawar. Perintah adalah perintah, laksanakan tugas adalah laksanakan tugas.

Justru disinilah terkandung, kecerdasan, kecepatan dan ketepatan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan atau kebijaksanaan berupa perintah kepada bawahanya.

Dalam skala besar dan luas, ada tugas pokok, tugas terkandung, tugas tambahan, tugas yang disimpulkan dan tugas tugas lain, yang semuanya melalui doktrin, prosedur, protap, yang terencana dan terukur. Dengan kata lain, tidak ada perintah liar atau lepas kendali.

Oleh karenanya, peristiwa meninggalnya 6 orang laskar FPI pengawal IB HRS di km 50 Tol Japek, merupakan buah simalakama bagi Polri. Maju kena, mundurpun kena.

Apalagi diawali dengan cara cara pemberitaan dan pernyataan yang simpang siur, bernarasi pembenaran, perlawanan atau pembelaan dengan narasi dan alat bukti yang berubah ubah, yang membuat pihak lain bertanya tanya bahkan meragukan kebenaranyanya. Hal itu mengindikasikan ketidaksiapan Polri menghadapi akibat peristiwa besar ini.

Lebih merugi lagi ketika polisi semakin bersemangat membabi buta yang mengarah kepada hal hal yang dapat dikemas menjadi rangkaian kesalahan HRS terhadap Pemerintah bahkan Negara. Artinya polisi meninggalkan atau mengabaikan sebab sebab HRS berniat, berucap dan bertindak sedemikian rupa.

Disini saya melihat analisis yang tidak utuh dari tinjauan sebab akibat. Bukan berati tidak tahu, karena polisi telah banyak makan asam garam diprofesinya yang telah berumur 75 tahun, tetapi nampaknya polisi lebih mengutamakan pencapaian tugas pokok dari Sang Atasan.

Siapa atasan itu ?

Bisa saja Kapolri bahkan Presiden, karena institusi Polri dibawah kendali langsung Presiden.

Dikaitkan dengan tugas terhadap masalah HRS, sulit dihindari kesalahan prosedur dalam tugas ini. Katanya tindakan yang terencana dan terukur, pada tolok ukur yang seperti apa ?

Jika benar pada tahap penyidikan atau penyelidikan, sejauh mana terukurnya penyelesaian target itu ?

Belum lagi tentang standar kebenaran target, yang dalam hal ini mungkin diperhatikan, diasumsi, diprediksi, diantisipasi, dicurigai, diamat amati, diduga, disangka sebagai orang buron, kerumunan, terorisme, bandar narkoba dan lain lain, sehingga berakhir dengan bukan tetangkap atau terbunuhnya HRS, namun hanya sekedar para pengawalnya saja yg dibunuh.

Bisa jadi akibat kekecewaan ini, dilampiaskan dengan penyiksaan yang keji brutal dan biadab, hingga mereka tak bernyawa lagi dengan kondisi yg mengerikan.

Tidak ada Kejahatan yang sempurna, apalagi jika dilakukan oleh lebih dari satu orang. Maka sudah bisa diprediksi, bahwa peristiwa ini cepat atau lambat akan berakhir keterpurukan institusi Polri.

Sedangkan pada kelanjutannya, orang akan merunut siapa yang menjadi Top Ordernya. Bahkan orang akan merunut kembali tepat tidaknya institusi Polri/Kapolri dibawah langsung Presiden, atau selayaknya sejajar dengan Panglima TNI.

Namun demikian, saya menghimbau kepada saudara saudara saudari setanah air, untuk tidak apriori atau menyalahkan institusi Polri, karena bagaimanapun ini kesalahan personil yang mengawaki, bukan institusinya.

Sedangkan institusi Polri adalah lembaga yang urgent dan mulia, karena polisi berperan dan berfungsi sebagai pelindung, pengayom, pelayan dan penegak hukum di Indonesia. Selayaknya kita hormati, junjung tinggi, segani, banggakan, cintai dan rindukan keberadaanya.

Bandung, 29 Desember 2020.

Redaktur: Abdul Halim

1 comment
Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

1 Comment

  • Ismail
    December 29, 2020, 1:07 am

    Usut tuntas sampai biang2nya

    REPLY

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos