728 x 90

MENANAMKAN NILAI-NILAI TASAWUF DI TENGAH PANDEMI COVID-19

MENANAMKAN NILAI-NILAI TASAWUF DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Ngeshare Bersama Prof. Dr. Sri Mulyati Oleh : Fahmi Salim (Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah) “Jika Rumi hidup di zaman sekarang, ketika dia ada di ruang pubik, saya yakin ia akan memakai masker.” Begitulah perkataan Omar Safi, seorang Profesor dari Duke University, Amerika Serikat merefleksikan ajaran Jalaluddin Rumi menghadapi Pandemi Covid-19. Seorang Sufi

Ngeshare Bersama Prof. Dr. Sri Mulyati

Oleh :

Fahmi Salim

(Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

“Jika Rumi hidup di zaman sekarang, ketika dia ada di ruang pubik, saya yakin ia akan memakai masker.”

Begitulah perkataan Omar Safi, seorang Profesor dari Duke University, Amerika Serikat merefleksikan ajaran Jalaluddin Rumi menghadapi Pandemi Covid-19. Seorang Sufi bukanlah orang yang hidup menyepi tidak peduli dengan penderitaan orang lain. Bahkan, ia melakukan aksi nyata untuk menyelamatkan dirinya dan lingkungannya.

“Jika anda mengklaim mencintai Tuhan, maka cintailah seluruh ciptaan-Nya. Jika anda berada di jalan ini (cinta radikal), anda tidak bisa mengklaim diri sudah berada di jalan jika anda acuh tak acuh terhadap penderitaan makhluk Tuhan,” ungkap Omar Safi dalam wawancaranya dengan Sigal Samuel dari VOX.

Inilah salah satu kutipan yang disampaikan Prof. Dr. Sri Mulyati dalam pidato pengukuhan Guru Besar Tasawuf di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulloh (UIN) Jakarta, pada 23 Desember 2020 lalu. Pidato dengan judul “Tasawuf di Masa Pandemi: Refleksi di Barat dan Timur”, merupakan wujud kepedulian seorang ahli Tasawuf melihat bencana wabah yang telah melanda dunia ini.

Renungan Prof. Dr. Sri juga diungkapkannya dalam dialog di Program Ngeshare (Ngaji Syar’ie), “Ngaji dulu, Alim Kemudian.” Selengkapnya bisa disaksikan di link ini: https://youtu.be/aSXHiQ5cEHA

Dalam pidatonya, Prof. Sri memaparkan data terkini wabah Covid-19 yang melanda berbagai negara. Berdasarkan data 20 Desember 2020 lalu, Amerika Serikat masih menjadi negara dengan paparan tertinggi, disusul India dan Argentina. Sedangkan Indonesia berada di urutan ke-20. Banyak kalangan menilai tahun 2020 adalah tahun terburuk, karena wabah Covid-19 menimbulkan banyak dampak negatif, terutama dalam bidang ekonomi dan kesehatan. Namun, Prof. Sri mengajak kita untuk melakukan refleksi diri, benarkah Pandemi ini telah menebar keburukan di muka bumi ini?

Tak semua makhluk Alloh di bumi ini menderita akibat wabah Covid. Secara global memang ekonomi terpuruk dan banyak bisnis yang ambruk, namun ada beberapa bidang usaha yang justru meraup untung besar di masa pendemi, misalnya bisnis ekspedisi, bisnis herbal dan vitamin, pembuatan masker dan alat kesehatan lainnya.

Contoh lainnya, udara makin bersih karena polusi menurun drastis. Bumi untuk sementara beristirahat dari polusi kendaraan bermotor. Karena, untuk menghindari wabah, banyak orang yang terpaksa bekerja di rumah. Jalanan menjadi sepi dari lalu lalang kendaraan. Tak ada kesibukan dan kemacetan seperti biasanya. Masih ingat, pada masa awal pandemi, ada warga Jakarta yang mengunggah foto penampakan Gunung Salak di media sosial yang jarang sekali terlihat karena polusi udara.

Virus adalah ciptaan Alloh, sebagaimana makhluk-makhluk lainya. Mereka tunduk pada ketentuan Tuhan Pemilik alam semesta ini. Karena, Alloh Ta’ala yang menciptakannya, maka menurut Prof. Sri, terserah Alloh saja yang memberi perintah kepada ciptaan-Nya. “Sayangnya, banyak diantara kita yang lebih takut kepada virus daripada yang menciptakannya”, ungkapnya. Tak ada yang mengetahui pasti kapan wabah ini berakhir, tapi karena wabah merupakan kehendak Alloh, tak ada jalan lain kecuali kita kembali dan memasrahkan semuanya kepada Alloh.

Dalam refleksinya, Prof. Sri mengutip seorang tokoh sufi barat dari Tarekat Naqshabandiyah Nazimiyah, Syaikh Hisham Kabbani yang domisili di Michigan, Amerika Serikat. Menurutnya, virus Corona ini juga makhluk Allah seperti semut yang disebutkan di dalam Al-Qur‟an Surat An-Naml: 8. Allah Subhanahu wa ta’ala telah mendisiplinkan dan mengangkatnya pada derajat yang tinggi di dunia karena ia diperintah untuk bersembunyi dan mengagungkan nama Allah.

Karena itu, Syaikh Hisyam mengajak para ilmuwan untuk mengambil pelajaran dari semut. Virus akan lenyap jikta kita bertasbih kepada-Nya. Pernyataan tokoh sufi ini juga bisa kita temukan dalam firman Alloh yang menyatakan segala sesuatu yang berada di langit dan bumi ini, bertasbih kepada-Nya. Namun, kita tidak mengetahui cara mereka bertasbih (QS. Al-Isro: 44).

Bagi orang beriman, wabah Covid 19 sebagaimana musibah lainnya bisa difahami dengan beragam pemaknaan. Wabah bisa dianggap sebagai siksaan atau teguran bagi orang-orang yang selama ini mendustakan ayat-ayat Alloh. Namun, wabah juga bisa dianggap sebagai ujian dan rahmat bagi orang-orang beriman. Bahkan, menurut sabda Rasululloh shallallahu alaihi wa sallam, orang yang mati karena wabah thoun dianggap sebagai mati syahid (HR. Bukhori Muslim).

Pandemi Covid 19 bisa disamakan dengan wabah thoun yang terjadi pada masa Rasululloh dan para sahabat nabi. Rasululloh telah memberi banyak panduan yang saat ini kita kenal dengan istilah protokol kesehatan. Ajaran dari nabi ini, menurut Prof. Sri. diakui pula oleh seorang peneliti, Craig Considine dari Rice Univesity Houston, Texas AS sebagai orang yang pertama kali menyarankan karantina kesehatan dan kebersihan diri untuk menghadapi pandemi.

Misalnya, nabi melarang kita memasuki sebuah negeri yang terkena wabah, sebaliknya jika kita berada di negeri yang terkena wabah, dilarang untuk keluar dari negeri itu (HR. Bukhari). Larangan ini bisa difahami karena akan mempercepat penularan penyakit kepada orang lain. Salah satu prinsip dalam Islam, “Laa Dhororo wa Laa Dhiroro”, jangan membahayakan diri sendiri dan orang lain (HR Ibnu Majah dan Ahmad). Dalam hadist lain, nabi juga melarang kita mencampurkan orang yang sakit dengan orang yang sehat.

Berbagai petunjuk Nabi Muhammad dalam mengatasi dan memutus mata rantai penularan wabah itu disimpulkan oleh ‘Allamah Ibnul Qoyyim al-Jauziyah (691-751 H), dalam karyanya berjudul *Zaad al-Ma’ad fi Hadyi Khairi al-‘Ibad*, cet. Darul Fikr Beirut, vol.4, hlm.33-34: isolasi diri (tajannub al-asbab al-mu’dziyah), jaga kesehatan (al-akhdzu bil ‘afiyah), pakai masker (alla yastansyiqul hawa’ al-‘afan al-fasid), jaga jarak (alla yujawiru al-mardha), dan berpikir positif (hamiyatu nufus min al-thiyarah). Ia melanjutkan, “Hadis Nabi soal wabah mengandung 2 macam larangan. 1) Larangan memasuki daerah yang terjangkiti virus adalah perintah untuk kehati-hatian dan pencegahan sekaligus larangan untuk memaparkan diri kepada faktor-faktor yang membinasakan. 2) Larangan keluar dari daerah terjangkit (zona merah) adalah perintah bertawakkal, sikap pasrah dan menyerahkan segalanya kepada Allah. Larangan pertama berfungsi edukasi dan larangan kedua berfungsi kepasrahan.” (hlm.34)

Inilah yang saat ini kita kenal dengan istilah social distancing, yakni suatu pembatasan untuk memutus rantai penyebaran wabah. Jauhi kerumunan, jaga jarak dan lebih baik di rumah saja. Bahkan, untuk shalat berjamaah di masjid pun lebih baik dilakukan di rumah. Menurut Prof. Sri, persoalan ini sudah banyak diulas oleh para ulama. Masyarakat yang berada di zona merah, tidak perlu memaksakan diri untuk shalat berjamaah. Untuk shalat jumat pun bisa diganti dengan shalat dhuhur di rumah. “Kita tak perlu merasa pahalanya akan berkurang, karena ada uzur syar’ie dibolehkan dalam ajaran Islam,” jelasnya.

Ajaran Nabi shallallahu alaihi wa sallam dipraktekan ketika terjadi wabah Thaoun pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Khalifah bersama rombongannya akhirnya tak jadi berkunjung ke negeri Syam yang saat itu tengah dilanda wabah, saat mendengar hadis Nabi dari Abdurahman bin Auf. Kisah ini ditulis dalam banyak kitab sejarah.

Ibnu Hajar al-Asqolani (1272-1390) juga mengulas wabah thoun dalam karyanya berjudul *Badzlul Ma’un fi Fadhl al-Tha’un*. Saat itu wabah tengah melanda Mesir, dan saat menyelesaikan karya ini, ketiga putri Ibnu Hajar meninggal akibat wabah, bahkan putri sulungnya, Zayn Khatun wafat dalam keadaaan hamil. Angka kematian akibat wabah terus meningkat. Ketika pemerintah saat itu menyerukan untuk berkumpul di lapangan dan berdoa bersama, Ibnu Hajar justru memilih diam di rumah, tidak mengikuti kumpulan massa. Inilah sikap rasional seorang ulama, yang juga berlandaskan pada ajaran nabi.

Dalam perjalanan sejarah dunia, wabah terus terjadi dalam rentang waktu tertentu. Tentu ada rahasia dan hikmah Alloh dengan menurunkan wabah di muka bumi ini. Sayyid Hossen Nasr, seorang profesor studi Islam dari George Town University, AS yang juga seorang praktisi sufisme seperti dikutip Prof. Sri meyakini bahwa tragedi wabah Covid 19 akan segera berakhir. “Meskipun jumlah kematian yang besar, akan menjadi kesempatan untuk kebangkitan spiritual setidaknya bagi mereka yang cukup cerdas untuk memahami bahwa kebanyakan klaim yang dibuat oleh sains dan teknologi modern sebenarnya tidak benar”, tulis Nasr.

Terbukti, selama pandemi Covid 19, banyak orang akhirnya mencari makna melalui jalan agama. Seperti survey yang dilakukan Jeanet Bentzen dari University of Copenhagen terhadap 95 egara dengan menggunakan data harian pencarian kata “doa” di Google search. Di akhir Maret 2020, menunjukkan angka tertinggi bahwa lebih dari separuh penduduk bumi telah melakukan doa agar wabah Covid-19 segera mereda.

Wabah menjadi momen untuk berefleksi lebih mendalam sehingga menemukan pemaknaan-pemaknaan baru. Di saat situasi lockdown, kita diajak untuk menyendiri (look down) dan melakukan pencerahan spiritual. Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam kitabnya di atas, menulis 4 manfaat spiritual dari merebaknya wabah: memendekkan angan-angan, memperbaiki amal, mengingatkan jiwa yang lalai, dan mencari bekal untuk kematian (Badzl al-Ma’un, hlm. 378). Karen Armstrong misalnya seperti dikutip Prof. Sri, memaknainya harus menjadi aksi nyata bagi kaum beragama untuk melihat penderitaan dunia, penderitaan alam dan penderitaan kemanusiaan. Al-Quran telah menjelaskan dalam berbagai ayat begitu banyak kerusakan di muka bumi ini karena ulah manusia. Saatnya, manusia untuk bertobat dan kembali mengharmonikan alam sekitarnya.

Karena itulah, menurut Prof. Sri, wabah Covid ini dapat dimaknai sebagai upaya mentransformasi rasa takut dan berubah menjadi energi positif untuk membangun seluruh kesadaran baru kembali menjadi manusia yang menjalankan fungsi luhur sebagai khalifah di muka bumi. Manusia kembali menjadi taat kepada Alloh di tengah ketakutan terkena wabah. Sekaligus menjadi pasrah, karena tak ada seorang pun terjangkiti covid, kecuali atas kehendak-Nya. “Perbedaan antara Allah dan manusia adalah bahwa ketika Anda takut kepada manusia, Anda menjauh darinya. Tapi ketika kita takut kepada Allah, kita mendekatkan diri menuju-Nya,” kata Prof. Sri mengutip pernyataan Imam Al Ghazali.

Selain mengutip pandangan tokoh agama dan spiritual dari Barat dan Di Timur, untuk merespon situasi Pandemi Covid 19, Prof. Sri juga menyajikan khazanah spiritual dari Indonesia dengan merefleksikan konsep Inabah-nya Abah Anom (KH. A Shahibul Wafa Tajul Arifin, pemimpin Pondok Pesantren Suryalaya). Ajaran dan praktik nilai-nilai tasawuf Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah seperti ditulis Abah Anom dalam Kitab Miftahush-shudur bisa menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan berbagai penyakit, baik penyakit hati maupun panyakit dhahir (fisik). Ajaran tasawuf Abah Anom juga telah berhasil dijadikan metode untuk membina korban penyalahgunaan Narkotika dan kenakalan remaja. Bahkan, Pondok Inabah di Singapura mampu berperan sebagai pusat pencegahan dan penanggulangan terorisme.

Pengukuhan Prof. Dr. Sri Mulyati sebagai guru besar tasawuf mendapat apresiasi dari Wakil Presiden RI KH. Ma’ruf Amin. Menurutnya, sosok Sri Mulyati memiliki semangat tinggi sebagai seorang akademisi yang mendalami pemikiran dan pengamalan tasawuf Syekh Nawawi Al-Bantani. “Semoga pencapaian guru besar ini makin mengokohkan keilmuan yang didapat terus menguatkan diri dan lingkungan akademisi yang berkarakter kokoh, inovatif dan istiqomah pada nilai ajaran ahlussunnah wal Jamaah,” ungkap Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini.

Tak hanya sebagai akademisi, Prof. Sri adalah seorang aktvis sejak muda. Ketika mahasiswa, beliau aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat Nahdhatul Ulama (1989-2000). Saat ini, beliau menjabat Ketua I Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama. Tak banyak aktivis perempuan, yang juga berkhidmat di dunia ilmu. Sejak 1984, Prof. Sri mencurahkan aktivitasnya sebagai dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang juga almamaternya. Setelah menamatkan studinya di jurusan Perbandingan Agama, beliau melanjutkan program magister dan doktornya di Universitas Mc Gill Kanada. Lalu, menyelesaikan post doktoralnya di Universitas Leiden, Belanda pada tahun 2004.

Diakui Prof. Sri, kesuksesan karirnya sebagai akademisi tak lepas dari peran kedua orangtuanya dalam mendidik anak-anaknya sejak kecil. “Saya masih ingat ayah saya selalu bercerita sebelum tidur untuk 9 anak-anaknya,” kenangnya. Kenangan indah yang membekas dan menjadi kebahagiaan yang tak bisa tergantikan dengan apa pun. Sang ayah wafat ketika Prof. Sri baru lulus dari sekolah guru agama (PGA). Namun, tak menyurutnya untuk terus mengejar ilmu hingga melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Hidup dalam keluarga besar telah mengajarkannya sikap toleransi dan sikap peduli dengan orang lain. Bagi Prof. Sri, seorang perempuan harus memiliki cita-cita yang tinggi sebagaimana kaum laki-laki. Namun, mereka harus dibekali lebih dulu pendidikan akhlak yang baik. “Jumlah perempuan itu besar, kalau mereka tidak dididik dengan baik, akan menjadi beban,” ungkapnya.

Menurut Prof. Sri, peran penting sebagai perempuan adalah menjadi seorang ibu. Karena, kemajuan sebuah bangsa tergantung dari sosok ibu. Banyak tokoh besar yang terlahir dari ibu yang biasa-biasa saja. Mereka membimbing anak-anaknya dengan penuh keikhlasan. Karena itu, seorang perempuan harus bermanfaat bagi agama dan bangsanya. Kehadiran sosok ayah tak kalah pentingnya dalam mendidik anak perempuan. Mereka bisa belajar ketegasan, ketangguhan, rasionalitas dan jiwa kepemimpinan dari sang ayah, sehingga bisa membentuk pribadi yang mandiri dan bertanggungjawab.

Inilah kisah teladan seorang aktivis perempuan yang juga berdedikasi di dunia akademik. Kita membutuhkan kehadiran sosok ulama perempuan yang ikut merawat dan menjaga khazanah ilmu-ilmu agama sebagai warisan abadi untuk generasi mendatang.

Wallohu ‘alam.

Redaktur: Abdul Halim

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos