728 x 90

ANTARA TAKDIR DAN COVID-19

ANTARA TAKDIR DAN COVID-19

By : Zulkarnain El Madury (Dai PP Muhammadiyah) Masalah takdir apakah itu takdir baik ataupun itu takdir buruk tidak bisa dilepaskan dari kehendak Allah subhanahu wa ta’ala. Jika Allah berkehendak atas takdirnya, maka tidak ada seorangpun yang bisa menolaknya. Sebagaimana hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang diberitakan dari Jibril alaihissalam: . (وَتُؤْمِنَ بِالقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.

By :

Zulkarnain El Madury

(Dai PP Muhammadiyah)

Masalah takdir apakah itu takdir baik ataupun itu takdir buruk tidak bisa dilepaskan dari kehendak Allah subhanahu wa ta’ala. Jika Allah berkehendak atas takdirnya, maka tidak ada seorangpun yang bisa menolaknya. Sebagaimana hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang diberitakan dari Jibril alaihissalam:

. (وَتُؤْمِنَ بِالقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. (الحديث رواه مسلم

Dan engkau beriman kepada takdir baik ataupun buruk. (Hadits riwayat Muslim)

Hadits riwayat Muslim ini masuk dalam tataran hadis mutawatir sebagai prinsip-prinsip iman dalam Islam dan menjadi Ushuluddin para ulama usul di dalam menetapkan kaidah-kaidah keimanan.

Disebutkan bahwasanya takdir baik ataupun buruk semuanya datang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Di dalam prinsip Tarjih Muhammadiyah terdapat pengertian takdir baik dan takdir buruk sebagaimana berikut ini:

( يَجِبُ عَلَيْنَا أَنْ نُؤْمِنَ بِأَنَّ اللهَ خَلَقَ كُلَّ شَيئٍ (16

Kita wajib beriman kepada Allah bahwasanya Allah menciptakan segala sesuatu.

Syarah: Segala yang diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala berupa alam semesta ini ini adalah tanda bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Pencipta. Mengingkari Allah subhanahu wa ta’ala sebagai pencipta sama saja dengan melepaskan Syahadatnya kepada-Nya.

ذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوْهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلٌ (الانعام: (102

(61) “Itulah dia Allah kamu sekalian, tidak ada tuhan berhak disembah selain Allah, yang menciptakan segala sesuatu.”(An’am:102).

Allah pencipta segalanya, tidak ada satupun yang setara dengan Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak ada pencipta kecuali Allah yang menciptakan segala ciptaan.

وَأَمَرَ وَنَهَى (62)

Allah juga yang memerintahkan dan mengeluarkan larangan

Syarah : Sebagai pencipta Allah subhanahu wa ta’ala, juga menciptakan perintah dan larangan buat hamba-nya. Agar mereka tidak melanggar perintah Allah dengan larangannya dan dan tidak melaksanakan larangannya dengan perintahnya.

Sebagaimana firman-nya:

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ (النحل: (90

(62) “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebaikan dan memberi kepada sanak kerabat, serta melarang kekejian, kemunkaran dan kedurhakan. Allah menasehatkan kepadamu, agar kamu selalu ingat”. (Nahl:90).

( وَكَانَ أَمْرُاللهِ قَدَرًا مَقْدُوْرًا (63

Dan perintah Allah adalah kepastian yang telah ditentukan Syarah: urusan dan perintah Allah subhanahu wa ta’ala diciptakan untuk seluruh makhlukNya baik mereka yang beriman kepada Allah ataupun mereka yang ingkar atau kafir kepada Allah. Tidak seorangpun dari mereka melainkan harus yakin bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta-nya. Yang melengkapi manusia dan makhluk lainnya dengan takdir baik dan takdir buruk. Sebagaimana firman-nya:

مَا كَانَ عَلَى النَّبِيِّ مِنْ حَرَجٍ فِيْمَا فَرَضَ اللهُ لَهُ سُنَّةَ اللهِ فِي الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَكَانَ أَمْرُ اللهِ قَدَرًا مَقْدُوْرًا (الاحزاب: (38

(63) “Sama sekali tiada rasa sempit bagi Nabi terhadap apa yang ditentukan oleh Allah, demikianlah sunnah Allah (hukum qudrat iradat Allah) terhadap orang-orang sebelumnya. Dan hukum Allah itu adalah ketentuan yang pasti.”(Ahzab:38)

وَأَنَّ اللهَ قَدَّرَ كُلَّ شَيئٍ قَبْلَ خَلْقِ الْخَلْقِ يُصَرِّفُ الكَائِنَاتِ عَلَى مُقْتَضَى عِلْمِهِ وَاخْتِيَارِهِ وَحِكْمَتِهِ وَإِرَادَتِهِ (64)

Dan bahwasanya Allah telah menentukan segala sesuatu sebelum Dia menciptakan segala kejadian dan mengatur segala yang ada dengan pengetahuan, ketentuan, kebijaksanaan dan kehendak-Nya.

Syarah: Allah menetapkan takdir makhluknya sebelum Allah menciptakan segalanya dan tidak ada dari makhlukNya yang tidak ditakdirkan sebelum diciptakan melainkan mereka ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala setelah ditetapkan keberadaan mereka itu.

Mulai dari kehidupan alam semesta sampai kepada yang bernama Manusia tak bisa dilepaskan dari takdir Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana firman-nya:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيْرٌ (الحديد: (22

(64) “Tidaklah ada musibah yang menimpa di bumi dan tidak ada musibah yang menimpa dirimu, kecuali tertulis di dalam kitab, sebelum Aku menciptakan. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah”. (Hadid:22).

اِنَّا كُلَّ شَيئٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ (القمر:(49

“Sungguh segala sesuatu itu Aku jadikan dengan ketentuan (ukuran)”. (Qamar:49).

Selain Hadist Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, riwayat Muslim yang juga menetapkan massa alam semesta dan batas-batas kehidupan yang berlangsung di dalamnya, sebagaimana sabdanya sallallahu alaihi wasallam:

كتب الله مقادير الخلائق قبل ان يخلق السماوات والارض بخمسين الف سنه

Allah telah menetapkan takdir makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum alam semesta diciptakan.

(وَالاَفْعَالُ الصَّادِرَةُ عَنِ الْعِبَادِ كُلُّهَا بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدرِهِ (65

Adapun segala yang dilakukan manusia itu semuanya atas Qadla’dan Qadar-Nya.

Jadi 50.000 tahun yang lalu sebelum alam semesta diciptakan takdir takdir itu sudah ada apakah itu takdir yang baik ataupun takdir yang buruk sudah menjadi pintu-pintu kehidupan manusia ataupun mahluk-Nya. Jangankan seluruh perbuatan manusia apakah itu perbuatan baik ataupun perbuatan buruk, daun yang jatuh saja tidak lepas dari takdir Allah subhanahu wa ta’ala.

. وَلَيْسَ لِلعِبَادِ اِلاَّ الإِخْتِيَارِ

Sedangkan manusia hanya berikhtiar.

Syarah : Menghadapi takdir Allah subhanahu wa ta’ala, apa yang bisa dilakukan oleh manusia hanyalah ikhtiar atau usaha,sambil menanti pertolongan Allah untuk bisa lepas dari takdir yang tidak baik ataukah kita menyongsong takdir yang tidak baik itu selama hidup kita. Yang jelas manusia tidak bisa berkutik dari takbir-takbir yang jelek ataupun baik karena memang semuanya itu adalah kehendak Allah subhanahu wa ta’ala,tinggal bagaimana manusia merubahnya mampukah atau tidak Itu ketergantungan yang juga tidak terlepas dari takdir Allah subhanahu wa ta’ala.

فَالتَّقْدِيْرُ مِنَ اللهِ وَالكَسْبُ مِنَ الْعِبَادِ فَحَرَكَةُ الْعَبْدِ بِاعْتِبَارِ نِسْبَتِهَا إِلَى قُدْرَتِهِ تُسَمَّى كَسْبًا لَهُ ((66

Dengan demikian, maka segala ketentuan adalah dari Allah dan usaha adalah bagian manusia. Perbuatan manusia ditilik dari segi kuasanya dinamakan hasil usaha sendiri.

Syarah : Segala ketentuan yang berlaku kepada manusia di atas hukum-hukumnya adalah takdir Allah subhanahu wa ta’ala,manusia tidak bisa berbuat apa-apa melainkan berusaha terus-menerus untuk bisa terlepas dari kesalahan atau takdir jeleknya,dan tetap istiqomah dijalan Allah subhanahu wa ta’ala atau yang disebut takdir baiknya. Dipandang dari syariat perilaku manusia ini disebut usaha manusia. Sedangkan ketentuannya tergantung kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

( وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ (الصَّافَّات: 96

(65) “Allah yang telah menjadikan kamu dan apa yang telah kamu kerjakan.” (Shaffat: 96).

Keinginan dan pekerjaan manusia pun adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala. Bahwa manusia itu dengan segala tindakannya datang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika seseorang berbuat baik itu adalah kecenderungan Allah agar manusia tetap berbuat baik dan ketika manusia berbuat salah itu kecenderungan manusia yang dibiarkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, itu juga adalah takdir Allah subhanahu wa ta’ala.

وَ بِاعْتِبَارِ نِسْبَتِهَا قُدْرَةِ اللهِ خَلْقًا ((67

Tetapi ditilik dari segi kekuasaan Allah, perbuatan manusia itu adalah ciptaan Allah.

Syarah: Segala perilaku manusia apakah itu baik ataupun buruk, tidak bisa dilepaskan dari takdir Allah subhanahu wa ta’ala.

(وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ (الصَّافَّات: 96

(65) “Allah yang telah menjadikan kamu dan apa yang telah kamu kerjakan”.(Shaffat: 96).

(وَالْعِبَادُ يَتَصَرَّفُ نَصِيْبَهُ مِمَّا اَنْعَمَ اللهُ بِهِ عَلَيْهِ مِنَ الرِّزْقِ وَغَيْرِهِ (68

Manusia hanya dapat mengolah bagian yang Allah karuniakan padanya berupa rizki dan lain-lain.

(66) وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ (البلد: 10)

(66) “Dan kami telah menunjukkan manusia dengan dua jalan.”(Balad: 10).

فَأَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوَاهَا (الشمس: 8)

“Lalu mengilhamkan kepadanya kejahatannya dan kebaikannya”. (Syams:8).

Allah memberikan 2 jalan menuju neraka dan surga, menuju kebahagiaan dan kesulitan. Menuju senang dan susah. Tinggal Manusia memohon petunjuk kepada Allah agar bisa selamat dari dunia tetapi manusia tidak punya wewenang dan merampas hak Allah dengan usahanya karena Allah sendiri yang akan menetapkan usahanya itu apakah sesuai dengan kehendaknya atau tidak.

(68) يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّبًا وَلاَ تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ (البقرة: 168)

(68) “Hai semua manusia, makanlah apa yang ada di bump ini, yang halal lagi yang baik; dan jangan kamu mengikuti langkah Syetan. Sesungguhnya syetan itu musuhmu yang paling nyata”. (Baqarah:168)

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَارَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ (البقرة:172)

“Hai orang-orang yang beriman makanlah kamu dari rizki yang baik yang telah kuberikan kepadamu dan bersyukurlah kamu kepada Allah, bila benar-benar kamu berbakti kepada-Nya”. (Baqarah:172).

فَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ حَلاَ لاً طَيِّبًا وَاشْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ (النّحل: 114)

“Maka makanlah kamu apa yang telah diberikan oleh Allah, yang halal lagi baik dan bersyukurlah atas segala ni’mat Allah, bila kamu benar-benar hanya berbakti kepadanya.”(Nahl:114).

Sekarang tinggal wewenang kita sebagai manusia dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala menjadi hamba yang sangat miskin dan papa yang senantiasa berharap pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala.

Pandangan Umum:

Artinya, segala musibah yang terjadi di alam semesta ini tidak bisa dilepaskan dari Allah dan harus dikembalikan kepada Allah cara penyelesaiannya dengan menghambakan diri pada Allah subhanahu wa ta’ala semurni-murninya. Tidak membohongi dan mendustakan Allah subhanahu wa ta’ala. Jika kita sebagai hamba Allah ingin lepas dari berbagai wabah yang melanda manusia. Sampai Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan.

واذا مرضت فهو يشفين

Jika aku sakit dialah Allah yang menyembuhkan. Allah yang punya penyakit dan Allah pula yang punya obatnya dan tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan di dunia ini melainkan datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Menghadapi wabah atau pandemi virus Covid-19 yang melanda alam semesta sekarang ini tidak ada jalan lain melainkan hanya jalan Allah subhanahu wa ta’ala guna membasmi seluruh wabah atau gangguan apapun yang melanda dunia manusia.

Inilah analisis dan tafsir Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah berkaitan dengan takdir baik dan buruk yang menimpa manusia hari ini.

Redaktur: Abdul Halim

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos