728 x 90

Mbok De Risma, Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono

Mbok De Risma, Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono

Oleh: Tony Rosyid (Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa) Bikin gaduh aja! Begitulah kesan publik terhadap mbok de Risma. Jabatannya Mensos, tapi uplak uplek di Jakarta cari gelandangan. Setelah menemui gelandangan di Jalan Thamrin, kini Risma kasih rekomendasi gelandangan jadi pegawai di BUMN. Apakah langkah Risma ini akan menyelesaikan persoalan? Tidak! Yang ada justru muncul persoalan

Oleh:

Tony Rosyid

(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

Bikin gaduh aja! Begitulah kesan publik terhadap mbok de Risma. Jabatannya Mensos, tapi uplak uplek di Jakarta cari gelandangan.

Setelah menemui gelandangan di Jalan Thamrin, kini Risma kasih rekomendasi gelandangan jadi pegawai di BUMN. Apakah langkah Risma ini akan menyelesaikan persoalan? Tidak! Yang ada justru muncul persoalan baru.

Pertama, berapa banyak gelandangan yang bisa ditampung di BUMN? Kalau jumlah gelandangan di kota-kota besar jumlahnya jutaan, termasuk di Surabaya, apa akan bisa ditampung di BUMN? Gak mungkin! Di bawah jalan tol Waru-Tanjung Perak Surabaya saja ada 175 gelandangan. Itu baru satu tempat. Di Surabaya, juga kota-kota lain, ada banyak kolong yang jadi tempat tinggal bagi gelandangan. Mau ditampung semuanya di BUMN? Ngayal!

Justru, upaya mbok de Risma memberi kerjaan hanya untuk segelintir gelandangan, akan dianggap publik sebagai pencitraan belaka.

Kenapa Risma tidak memperbanyak tempat-tempat penampungan di berbagai kota besar. Di tempat-tempat ini, para gelandangan dikumpulkan, dan dilatih skillnya agar bisa bekerja atau usaha. Ini jauh lebih efektif sebagai solusi.

Tapi, tak mudah mengumpulkan mereka dalam satu tempat. Mereka terpencar di berbagai lokasi. Banyak yang tak mau dilokasir. Ini problem klasik yang dihadapi setiap Pemda terkait gelandangan. Risma pasti tahu soal ini. Karena itu, tak boleh ada dusta diantara kita.

Kedua, soal skill. Banyak yang punya skill, berpendidikan lagi, tapi susah cari kerja, tak diterima di banyak perusahaan. Karena memang, lapangan kerja makin sempit. Ini gelandangan, sekolahnya entah apa, dan bagaimana juga skillnya, masuk di BUMN. Ingat, bekerja di BUMN itu seksi. Gajinya aduhai.

Tapi keren, Risma bisa memberi rekomendasi ke Kementerian BUMN. Apakah Erick Tohir sebagai Menteri BUMN bisa mengakomodir pola Risma yang spontan dan instan ini ?

Terakhir, Risma mau bikinin KTP buat para pengemis dan gelandangan. Lagi-lagi, urusan KTP itu urusan Dukcapil, dibawah Mendagri Tito Karnavian.

Soal E-KTP, ada prosedurnya, harus jelas asal usul orangnya. Ada teknis mengurusnya. Di RT-RW semua data akan diverifikasi.

Warga mana, sudah punya KTP atau belum, bagaimana dengan KK-nya. Kalau dari Desa, mesti ada surat pindah domisili. Prosedur ini dibuat untuk menghindari KTP ganda. Aturan ini ada di Kemendagri.

Apalagi, tahun 2018 adalah akhir Kemendagri tuntaskan urusan KTP. Kalau sekarang Risma mau bikinin KTP buat para gelandangan, ini jadi tamparan buat Mendagri. Seolah urusan KTP ini tak pernah beres.

Akan jauh lebih bijak Risma mendata lebih dahulu para gelandangan di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Verifikasi secara detail identitas mereka. Gali lebih mendalam apa masalahnya. Setelah data-data itu terverifikasi, cari solusi, termasuk menjalin kerjasama lintas Kementerian dan Pemda.

Semangat boleh, gebrakan juga oke oke aja, kerja cepat itu bagus, tapi tak bisa spontan dan instan. Semua perlu dikerjakan secara sistemik. Ada data dan perencanaan.

Risma itu Mensos, bukan Presiden. Kalau Presiden, bisa perintahkan Menteri-Menteri lain. Juga sudah ada mekanisme koordinasi yang lazim dengan daerah. Risma mestinya tidak bertindak sebagai Presiden. Ingat, tak ada visi Menteri, yang ada visi Presiden.

Kecuali jika tujuannya untuk persiapan Pilgub DKI 2022. Kalau itu targetnya, Risma sungguh tak cerdas. Sebab, langkahnya membuat publik, termasuk warga DKI, malah tak simpati.

Buktinya, Forum RT-RW se-DKI malah menuduh Risma bikin gaduh. Artinya, sepak terjang Risma direspon negatif oleh warga DKI, juga oleh rakyat Indonesia. Mbok de Risma, ngono yo ngono ning ojo ngono !

Jakarta, Senin, 18 Januari 2021

Redaktur: Abdul Halim

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos