728 x 90

DAKWAH ‘RADIKAL’ USTADZ MILENIAL FELIX SIAUW

DAKWAH ‘RADIKAL’ USTADZ MILENIAL FELIX SIAUW

Ngeshare Bersama Ustadz Felix Siauw Oleh : Fahmi Salim (Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Dosen Fakultas Agama Islam UHAMKA) Siauw Chen Kwok, nama ini tentu asing di telinga kita. Tapi, jika pemilik nama itu disebut dengan Felix Siauw mungkin kita mengenalnya. Nama itu begitu populer. Julukannya tak main-main, “Ustadz Radikal”. Bahkan, riset

Ngeshare Bersama Ustadz Felix Siauw

Oleh :

Fahmi Salim

(Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Dosen Fakultas Agama Islam UHAMKA)

Siauw Chen Kwok, nama ini tentu asing di telinga kita. Tapi, jika pemilik nama itu disebut dengan Felix Siauw mungkin kita mengenalnya. Nama itu begitu populer. Julukannya tak main-main, “Ustadz Radikal”. Bahkan, riset yang dirilis Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah pada tahun 2017, Felix Siauw ditempatkan di posisi kedua sebagai tokoh radikal setelah Habib Rizieq Shihab, bahkan di atas Ustadz Abu Bakar Baa’syir yang menempati posisi ketiga. Pengertian radikal dan parameter yang digunakan riset ini tentu layak dipertanyakan. Namun, Felix Siauw sudah terlanjur dicap radikal yang bernuansa negatif oleh sebagian kalangan, meskipun penggemar ustadz milenial ini bisa jadi lebih banyak.

Felix Siauw tetap dituduh radikal walaupun telah berkali-kali mengklarifikasinya. Misalnya, serial animasi Nussa Rara yang berhenti tayang gara-gara terdampak Covid-19, tiba-tiba difitnah berkonten radikal, gara-gara Felix Siauw ikut menyampaikan kabar tersebut lewat akun Instagramnya. “Kita yakin Allah pasti akan kasih jalan, walau bukan saat ini. Di Indonesia, nggak semua yang baik, apalagi islami bisa diapresiasi. Berkali-kali juga saya harus bilang sabar, karena Nussa terus difitnah sebagai konten radikal dan intoleran katanya,” tulis Felix Siauw, menjawab berbagai tuduhan itu. Tak sedkit warganet ikut mendukung dan membelanya.

Sebelumnya, kontroversi juga kerap membelit Felix Siauw. Pengajian ustadz muda ini kerap dilarang di beberapa tempat. Bahkan, Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mestinya menjadi tempat kaum intelektual beradu gagasan dan argumentasi sempat membatalkan pengajiannya. Alasannya, khawatir menimbulkan pro dan kontra. Pada tahun 2019, ceramah Felix Siauw di Masjid Fatahillah, Balai Kota DKI Jakarta juga sempat ditolak oleh Banser (Barisan Ansor Serbaguna). Tuduhannya karena Felix merupakan pentolan organisasi terlarang, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dianggapnya anti Pancasila. Benarkah Felix Siauw anti NKRI dan Pancasila?

Sebagai seorang muslim seharusnya kita melakukan tabayun, sebagaimana diajarkan dalam Al-Quran (QS Al Hujurot: 6). Ustadz Felix selalu siap berdialog terkait konsep khilafah dan tuduhan anti Pancasila yang dialamatkan kepadanya. Karena itulah, kehadiran Felix Siauw yang menjadi narasumber di program Ngaji Syar’ie (Ngeshare), “Ngaji Dalu, Alim Kemudian”, kami manfaatkan untuk menggali pemikirian tokoh muda ini, sekaligus menjelaskan berbagai tuduhan radikal itu. Simak dialog selengkapnya di link berikut ini: https://youtu.be/5hrRtyHinzE

Felix Siauw, saya senang memanggilnya dengan Koh Felix, cukup dikenal sebagai pendakwah, terutama di kalangan milenial. Ia bukanlah lulusan pesantren, tapi ia sangat serius mendalami Islam, agama yang dipeluknya sejak tahun 2002. Lahir dari keluarga Tionghoa dengan keyakinan Katolik ini, awalnya merasa galau dengan kebenaran agama yang diyakini keluarga dan leluhurnya. Pada saat SMP, ia selalu menganggap agama itu hanya konspirasi dari sebagian kecil orang untuk mengatur masyarakat banyak. Namun, sejak belajar filsafat dan sains, keyakinan sebagai atheis berubah, ia mulai mempercayai Tuhan, tapi tetap tidak begitu mempercayai agama (agnostic).

Ketika melanjutkan pendidikan tingginya ke Institut Pertanian Bogor (IPB), Felix Siauw mulai bergaul dan berinteraksi dengan mahasiswa Islam. Di sanalah, ia menemukan komunitas untuk berdialog tentang kebenaran agama. Dalam pencarian kebenaran itu, ia selalu mempertanyakan, dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup dan kemana kita setelah kematian. Setelah bertemu dengan Ustadz Fatih Karim, akhirnya ia mendapat jawaban yang memuaskan, sehingga memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Semua jawaban itu sudah tertuang dalam Al-Quran. Karena, kitab suci ini tak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS Al Baqarah: 2). Ayat ini begitu mempesona Felix Siauw, sehingga hatinya mulai berkata, “Mungkin inilah kebenaran yang selama ini saya cari!” Namun, ia masih penasaran, kenapa agama yang hebat itu justru terpuruk dan mengalami kemunduran. “Islam tidak sama dengan Muslim. Islam sempurna, mulia dan tinggi, tidak ada satupun yang tidak bisa dijelaskan dan dijawab dalam Islam. Muslim akan mulia, tinggi juga hebat. Dengan satu syarat, mereka mengambil Islam secara kaffah (sempurna) dalam kehidupan mereka”, inilah penjelasan Ustadz Fatih Karim yang selalu diingatnya.

Islam telah mengajarinya untuk memiliki tujuan hidup mulia. “Setelah menemukan Islam, saya menemukan ketenangan sekaligus perjuangan. Ketenangan pada hati dan pikiran karena kebenaran Islam,” tulis Felix dalam situs pribadinya. Kemudian, ia tergerak untuk menyebarkan kebenaran yang diyakininya. Karena, sebagaimana yang dijanjikan Alloh dalam surat Annur ayat 55, “Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa….”.

Janji Alloh ini sudah dibuktikan oleh generasi umat Islam terbaik pada masa para sahabat dan generasi setelahnya. Umat Islam terdahulu itu telah mencapai puncak kejayayaannya. Salah satu tokoh yang menginpirasi Koh Felix adalah Muhammad Al Fatih sebagaimana dikisahkan oleh guru ngajinya. Seorang pemuda berusia 23 tahun, yang berhasil menaklukkan ibukota dunia saat itu Konstantinopel, kota kebanggaan Imperium Romawi Timur kala itu. Pemuda yang berhasil mewujudkan nubuwat dari Rasulululloh shallallahu alaihi wa sallam bahwa kota itu akan ditaklukan oleh sebaik-baiknya pemimpin dan sebaik-baiknya pasukan. Karena itulah, nama Muhammad Al Fatih disematkan sebagai nama barunya ketika menjadi mualaf.

Tak cukup keyakinan ini dinikmati untuk dirinya sendiri, Felix Siauw ingin mentransformasikan dirinya sebagai pendakwah, salah satunya dituangkan dalam buku. Beberapa karya yang telah ditulisnya, antara lain, Muhammad Al-Fatih 1453, Udah Putusin Aja, Yuk Berhijab, The Chronicles of Ghazi: Rise Of The Ottomans dan Khilafah. Dalam berdakwah, Ustadz Felix juga menggunakan media sosial, mulai dari facebook, youtube, twitter hingga instagram sebagai sarana untuk berbagi kebaikan, pemikiran dan pesan-pesan agama.

Baginya, Islam bukan sebatas ritual, tetapi juga menjadi pedoman dan inspirasi kehidupan. Awalnya, kedua orangtuanya shock dan marah. Namun, mereka akhirnya menerimanya setelah melihat perubahan sikap dan nilai-nilai kehidupannya menjadi lebih baik. Silaturahmi dengan kedua orangnya tetap terjaga, meskipun berbeda keyakinan, bahkan mereka pun akhirnya mendukung aktivitas dakwahnya. Pada hari natal, Felix Siauw kerap memposting kebersamaan bersama kedua orangtuanya, misalnya makan bersama dalam sebuah meja makan. Teladan toleransi yang telah ditunjukan oleh ustadz yang dituduh radikal dan intoleran ini.

Meski demikian, tuduhan negatif terhadap Ustadz Felix Siauw tak pernah surut. Sering dilabeli sebagai ustadz malpraktek atau ustadz yang tidak punya guru ngaji (ilmunya tidak bersanad). Menanggapi berbagai tuduhan itu, ia selalu membuka diri untuk berdialog. Bahkan, ia pernah menemui beberapa tokoh NU untuk meminta nasehat, seperti Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan KH. Abdul Qoyyum Mansur, ulama kharismatik dan pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Lasem, Rembang, Jawa Tengah yang biasa disapa Gus Qoyyum. Bahkan, ia pernah menemui Gus Baha, ulama muda NU yang juga menjadi rujukannya dalam mendalami ilmu agama. “Rasanya tidak adil, saya menikmati ceramahnya tapi tidak pernah datang dan mengucapkan terima kasih,” ungkapnya. “Bersilaturahmi dengan ulama itu, tak sekedar untuk mendapatkan ilmu, juga mendapat keberkahannya,” ungkapnya lagi.

Dalam program Ngeshare, Ustadz Felix sudah membuktikan dirinya mampu membaca Al-Quran dengan tartil dari ayat 9-12 Surat Al Kahfi. Mengaji tentu tak sekedar membaca ayat suci Al-Quran, juga mendalami dan mentadabburinya. Karena itulah, ia membentuk sebuah komunitas melalui media sosial namanya ‘Yuk Ngaji’.

Ustad Felix kerap mengangkat tema-tema sejarah, untuk mengingatkan umat Islam pernah meraih kejayaannya pada masa lalu. Karena, menurutnya, sebuah bangsa yang tidak faham dengan sejarah bangsanya, tidak akan menghasilkan kemajuan apa apun.

Sejarah sebagaimana asal katanya berasal dari bahasa arab, “syajaroh”, yang artinya pohon. Pohon itu ditentukan seberapa kuat akarnya, jika akarnya tak menancap kuat, maka pohon itu akan mudah tumbang. Akar pula yang memasok nutrisi untuk pohon itu sehingga tumbuh subur dan menghasilkan buah yang ranum. Alloh Ta’ala telah membuat sebuah permisahan dalam surat Ibrahim ayat 24-25 bahwa perkataan yang baik itu ibarat pohon yang baik, akarnya menghujam ke bumi, dan cabangnya menjulang ke langit, pohon itu memberikan buahnya setiap waktu dengan seijin Tuhannya. Sejarah mengandung banyak hikmah dan pelajaran, sebagaimana juga kisah-kisah yang banyak termuat dalam Alquran. Karena itulah, pelajarilah sejarah bangsa ini. Sebagaimana Muhammad Al Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel tak lepas dari pendidikan orangtuanya dan guru-gurunya yang selalu mengingatkan sejarah kebesaran Islam. Al Fatih juga terinspirasi dari leluhurnya, pendiri Kekhalifahan Ustmani, Osman Gazi. Di makamnya, ada sebuah bendera yang bertuliskan kata-kata suci basmalah dan shalawat, kemudian ditambah cuplikan ayat dalam surat Al Fath, “Inna fatahna fathan mubiina”, lalu diakhiri dalam penggalan ayat, “wajaahiduu fi sabilillah” (berjihadlah di jalan Alloh). “Kalau melihat bendera itu, saya selalu merinding,” ungkap Ustadz Felix.

Bendera itu menjadi mantra penyemangat bangsa Turki untuk mengembalikan jejak kebesarannya. Begitu juga dengan Indonesia. Umat Islam di Indonesia harus bangga dengan kebesaran Islam yang terbentang luas di negeri zamrud khatulistiwa ini, dengan berdirinya berbagai kerajaan Islam. Merekalah yang mengobarkan semangat juang untuk mengusir para penjajah yang ingin merampas dan menguasai kekayaan bumi nusantara.

Meskipun, kita sudah merdeka dari penjajahan dan menjadi satu bangsa, Indonesia, kita sering tak sadar bahwa penjajahan dengan model baru sesungguhnya belum berakhir. Penjajahan dalam bidang ekonomi misalnya masih berlangsung. Kemudian, penjajahan bisa berwujud dalam bentuk upaya untuk memecah belah bangsa Indonesia. Sebagaimana dulu colonial Belanda memecah belah bangsa untuk menguasainya. Divide et impera, _farriq tasud!_ Keragaman suku, budaya dan agama yang sejatinya menjadi kekayaan bangsa ini sengaja dibenturkan. Bahkan, umat Islam diprovokasi untuk saling menghina dan mencaci dengan sesamanya. Mereka menjadi lupa dengan pesan Al-Quran dalam surat Al Hujurot ayat 11, yang melarang untuk saling mengolok-ngolok, mencela satu sama lain dan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Karena, orang yang diolok-olok itu bisa jadi lebih baik di mata Alloh daripada yang mengolok-ngolok.

Ustadz Felix salah satu anak muda yang sering jadi korban bullying dan persekusi, dengan tuduhan anti Pancasila dan ingin mengubah Indonesia menjadi negara Islam. Baginya, Indonesia adalah tetap tanah airnya, dengan Pancasila sebagai perekat keberagaman. Urutan Pancasila dalam lima silanya, menurut Ustadz Felix, merujuk pada pesan-pesan Al Quran. Tujuan bernegara untuk menciptakan keadilan seperti disebut dalam sila terakhir Pancasila, tak mungkin terwujud jika tak diwujudkan lebih dulu tentang kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan. Begitu pula, sila sebelumnya yang menjadi dasar dalam pembentukan sebuah negara yaitu sebuah persatuan. Lalu, kemanusian yang beradab baru bisa ditegakan di Indonesia jika ada pengakuan terhadap Ketuhanan yang menjadi ruh semua sila dalam Pancasila. “Inilah nilai-nilai luhur yang sudah dirumuskan oleh para tokoh pendiri bangsa ini,” jelasnya.

Sayangnya, menurut Ustadz Felix, narasi yang dikembangkan di negeri ini bukan nilai-nilai kemanusiaan yang dipandu oleh agama. Narasi perpecahan, seperti Cebong dan Kampret sengaja disebarluaskan karena Iblis beserta pasukannya tak akan diam, berusaha mengobarkan api permusuhan, sehingga bangsa Indonesia tak lagi bisa bersatu. Diakui oleh Ustadz Felix sebagaimana manusia biasa ia bisa salah dan khilaf. Untuk meluruskan, mestinya ia diajak berdialog bukan dibawa dalam kubangan kebencian.

Namun, menurut Ustadz Felix, generasi milenial makin sadar dengan jebakan disinformasi dan hoaks. Mereka termasuk generasi native digital, yang memiliki banyak informasi alternatif. Mereka tidak suka dengan fanatisme, apalagi untuk menjatuhkan orang lain. Kebanyakan mereka muak dengan politik praktis karena sudah terbongkar borok-borok kebohongan dan ketidakjujurannya. Mereka tidak merasa dirinya paling hebat, tapi lebih senang untuk berkolaborasi. “Sebenarnya ini menjadi modal utama untuk membangun ukhuwah,” jelasnya.

Inilah generasi yang selama ini menjadi penggemar Koh Felix. Mereka pun rajin berguru kepada para ustadz lainnya, walaupun melalui media sosial. Mereka membaca karya-karyanya sekaligus mengapresiasi perjuangannya. Tentu, untuk memahami Islam secara utuh belumlah cukup. Namun, setidaknya mereka telah disatukan dalam satu gairah akidah yang sama, sebagaimana para pemuda Ashabul Kahfi, yang disebutkan dalam Al Quran. “Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan Pencipta langit dan bumi. Kami tidak menyeru tuhan selain Alloh. Sungguh, kalau kami menyeru tuhan selain Alloh, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.” (QS Al Kahfi: 14).

Orang yang merasa disatukan dengan iman tak seharusnya melakukan upaya untuk memecahbelah dan menjauh dari saudaranya. Karena, persatuan umat menjadi modal awal untuk kembali meraih kejayaan Islam.

Wallohu ‘alam

Redaktur: Abdul Halima

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos