728 x 90

GERAKAN WAKAF NASIONAL DAN AMBIVALENSI REZIM JOKOWI

GERAKAN WAKAF NASIONAL DAN AMBIVALENSI REZIM JOKOWI

Oleh : Harits Abu Ulya Gerakan Wakaf Nasional yang dicanangkan Pemerintahan Jokowi, bagi mayoritas umat Islam Indonesia secara eksplisit terkesan positif, karena kebetulan program ini kongkruen dengan norma atau ketentuan Syariat Islam. Jauh hari, hakikatnya program ini sudah dicanangkan oleh Baginda Rasulullah SAW untuk semua umatnya sejak 1500 tahun lalu. Menurut saya, program ini khawatirnya

Oleh :

Harits Abu Ulya

Gerakan Wakaf Nasional yang dicanangkan Pemerintahan Jokowi, bagi mayoritas umat Islam Indonesia secara eksplisit terkesan positif, karena kebetulan program ini kongkruen dengan norma atau ketentuan Syariat Islam. Jauh hari, hakikatnya program ini sudah dicanangkan oleh Baginda Rasulullah SAW untuk semua umatnya sejak 1500 tahun lalu.

Menurut saya, program ini khawatirnya di respon skeptis oleh sebagian besar umat Islam. Kenapa ? Paling tidak ada beberapa hal penting antara lain :

Pertama, karena tata kelola Pemerintahan saat ini dianggap acak kadul, kejahatan Ekstra Ordinary Crime seperti korupsi masih merajalela, sebab faktor produk kebijakan yang membuka peluang untuk kesana.

Perampokan uang negara dan uang rakyat, semisal korupsi dana Bansos dimasa pandemi wabah penyakit Covid-19, menjadi bukti empirik betapa bermasalahnya tata kelola keuangan oleh Pemerintah.

Ini melahirkan ketidak-percayaan akut dilevel akar rumput kepada Pemerintah. Bisakah Pemerintah amanah dalam mengelola aset harta kekayaan rakyat dan negara ini ? Apalagi kalau aset tersebut adalah hutang.

Misalnya dana Asuransi Jiwasraya, Asabri, BPJS dan lain lain, yang konon cukup ketat aturan dan sanksinya saja dirampok dan digarong. Apalagi kedepannya, dana Wakaf yang nota benenya adalah ibarat menu “makan gratis” dari umat Islam. Entah apa jadinya kalau bicara mengenai akuntanbilitasnya.

Kedua, dari aspek konsepsi pengelolaan dana Wakaf, yang konon orentasinya adalah dikembalikan untuk pemberdayaan ekonomi umat. Kemudian untuk pembiayaan proyek-proyek infrastruktur, semua itu terkesan seperti gula-gula manis yang dijanjikan.

Namun pertanyaanya, apakah Pemerintah saat ini cukup kredibel dan amanah untuk mengelola dana umat yg sangat besar ini ? Kalau tidak, maka itu semua dimaknai sekedar “lipstik” untuk menarik respon umat Islam.

Umat Islam bisa skeptis, sebab sadar dan menyadari program ini muncul ditengah sikon Pemerintah dengan keuangan yang tekor bahkan bangkrut, gali lubang tutup lubang. Seperti orang kalap, asal melihat peluang disana ada dana besar maka apa boleh buat siap diembat dengan dibuat program dan kebijakan baru.

Tapi anehnya, seolah tidak pernah berbenah diri dan intropeksi diri, ada problem serius di kredibilitas para penguasa dan akuntanbilitas tata kelola keuangannya selama ini.

Kenapa tidak muncul gagasan gerakan sita aset aset koruptor, ide nasionalisasi perusahan-perusahan tambang dan energi, dan ide-ide menyangkut nilai strategis lain yang bisa menjadi sumber keuangan bagi negara ? Ngapain kok bernafsu ngejar “menu gratis” dari duitnya umat Islam ?

Ketiga, umat Islam yang melek politik sangatlah heran melihat polah tingkah rezim Jokowi hari ini.

Pada satu sisi sibuk mereproduksi narasi-narasi Islamfobia dan mengumbarnya secara sistemik. Tetapi disisi lain, giliran menyangkut uang dan atau harta umat, kebijakannya sok “ramah” padahal hakikatnya bernafsu sekali sehingga umat hanya di jadikan “sapi perah” untuk kepentingan dan ambisi mereka. Inilah ambivalensi dimasa rezim Jokowi.

Saya berani memprediksi, Umat Islam banyak skeptisnya melihat program atau kebijakan model seperti ini dan umat tidak sebodoh yang dikira rezim Jokowi.

Perlu diingat oleh umat Islam, tanpa program Wakaf nasionalpun, kita berharap umat Islam tetap semangat dan menggalakkan altruisme sosial, dimana ini adalah bagian integral dari ibadah umat Islam. Tetapi jangan lupa, salurkan kepada pihak-pihak yang amanah dan berani tanggungjawab Dunia Akhirat.

Secara prinsipil, normatifnya tidak ada kewajiban Wakaf terpusat harus melalui Negara atau Pemerintah.

Jangan lupa, waspadalah kepada gerombolan genk “maling duduk perutnya buncit” alias Koruptor yang berkerumun atau numpang atau bercokol di pusat-pusat kekuasaan dan kebijakan, mereka sangatlah berbahaya !

Penulis :

Harits Abu Ulya (Pengasuh|Khodim PPTQ Al Bayan, Bojonegoro, Jawa Timur)

Redaktur: Abdul Halim

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos