728 x 90

AKANKAH MUNARMAN MENJADI TARGET DEAD OR ALIVE….?

AKANKAH MUNARMAN MENJADI TARGET DEAD OR ALIVE….?

Oleh : Narsum (Pengamat Sosial) Kriminalisasi, penangkapan hingga penahanan terhadap Habib Rizieq Shihab (HRS) yang sangat dipaksakan rezim, bukanlah ujung dari segala permasalahan. Meskipun proses hukum terhadap Habib Rizieq masih terus bergulir. Pasca ditolaknya Pra Peradilan Habib Rizieq yang pertama, kini Tim Kuasa Hukum HRS pun mengajukan Pra Peradilan kembali. Sebagaimana diketahui, telah didaftarkan ke

Oleh :

Narsum

(Pengamat Sosial)

Kriminalisasi, penangkapan hingga penahanan terhadap Habib Rizieq Shihab (HRS) yang sangat dipaksakan rezim, bukanlah ujung dari segala permasalahan. Meskipun proses hukum terhadap Habib Rizieq masih terus bergulir.

Pasca ditolaknya Pra Peradilan Habib Rizieq yang pertama, kini Tim Kuasa Hukum HRS pun mengajukan Pra Peradilan kembali. Sebagaimana diketahui, telah didaftarkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 3 Februari lalu.

Setelah rencana operasi pembunuhan terhadap Habib Rizieq sekeluarga di jalan Tol gagal, namun berhasil mengakibatkan 6 orang pengawalnya tewas. Permasalahan semakin panjang, dengan pembubaran ormas FPI (Front Pembela Islam).

Sungguh diluar dugaan. Pembunuhan 6 Laskar FPI, penahanan HRS dan pembubaran FPI, tidaklah membuat semangat para ex pengurus dan anggota serta simpatisannya mengendur. Justru perlawanan terhadap kekejian oleh aparat yang menewaskan 6 Laskar FPI dengan mengatasnamakan Negara semakin kencang. Upaya dilevel Nasional yang sengaja dijegal oleh rezim Jokowi pun tidak membuatnya berhenti.

Bahkan kini permasalahan tersebut dibawa ke Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Sebelumnya, Munarman juga telah menyampaikan pernyataan dengan gamblang di berbagai media, bahwa tidak dengan diksi tembak menembak. Adapun yang ada adalah pembantaian terhadap 6 Laskar FPI.

Rakyat Indonesia sangat cerdas dalam menilai kasus tersebut yang menjadi tontonan. Padahal rakyat butuh tuntunan dalam proses penegakan hukum di negeri ini.

Namun rakyat akhirnya bisa melakukan penilaian sendiri, berdasarkan pengamatan yang cerdas sambil menangkap statement para pemangku jabatan. Baik melalui statement yang kerab berubah-ubah serta petinggi Komnas HAM yang ujungnya memudarkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Komnas HAM.

Sehingga sangat wajar, jika Munarman selaku mantan Sekretaris Umum FPI yang dipercayakan untuk menangani FPI di bidang Hukum, mengambil langkah strategis dengan membawa kasus penembakan 6 laskar FPI ke level dunia internasional yakni Mahkamah Internasional.

Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa Munarman sebagai salah satu mantan pengurus FPI yang menangani bidang Hukum, maka menjadi target setelahnya. Sejak kejadian KM 50, teror terhadap dirinya semakin kencang. Bahkan dari kawan dekat yang mempunyai kedudukan dikalangan rezim telah mewanti-wanti, agar sebaiknya Munarman dan mantan pengurus FPI tiarap saja, percuma melawan rezim yang mengatasnamakan Negara. Kabarnya, Munarman khususnya telah ditarget Dead or Alive. Walaupun yg mendapatkan terror bukan khusus Munarman, tetapi banyak pengurus FPI yang terus dikuntit dan diintimidasi pribadi hingga keluarganya.

Sedangkan info terakhir, desakan Pejaten ke Kepolisian agar segera mencari pasal untuk menjerat Munarman, tampaknya sedang dimainkan. Munculnya seseorang terduga teroris di Makassar yang mengatasnamakan ex-FPI, merupakan signal bahwa ada sinetron baru yg sedang dimainkan. Jelasnya, skenario ini memang mempunyai target.

Pertama, menstigmakan FPI sebagai organisasi teroris.

Kedua, terduga teroris itu menyebut nama Munarman dalam kesaksiannya atas Baiat ke ISIS pada tahun 2014 lalu.

Setiap sinetron pasti punya tujuan bagi pemirsanya, entah membuat senang, sedih atau perasaran lainnya. Dalam sinetron ini, dapat diduga bahwa ada upaya menjegal kasus pembantaian Km 50 dengan menstigmakan FPI sebagai organisasi teroris.

Ketiga, upaya kriminalisasi terhadap Munarman yang dianggap ikut melakukan pembaiatan pada ISIS 2014 silam, sehingga kasus pembantaian Km 50 jadi terbengkalai dan terlupakan.

Sedangkan kehadiran Munarman saat itu adalah diundang sebagai narasumber dalam acara Diskusi Umum terkait Perpolitikan Dunia secara Global. Jadi bukan dalam rrangka pembaitan ISIS sebagaimana opini fitnah keji disebarkan melalui media massa. Bahkan sejak tahun 2014, HRS sendiri berulangkali telah menyatakan kesesatan ISIS dan menolak pembaitan semacam itu.

Jadi dapat disimpulkan bahwa, ada yang panik atas dibawanya kasus pembantaian KM 50 ke Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Maka perlu diputus jalurnya yaitu dengan mengkriminalisasi Munarman dan menstigmakan FPI sebagai organisasi teroris.

Mari masyarakat berfikir cerdas, agar tidak ikut dalam rangkaian kedzoliman yang semakin besar dan suatu saat akan menimpa diri sendiri.

Ini merupakan skenario dari pihak yg sudah diketahui siapa otak dan command responsibility-nya.

Ini operasi sistematis yang terus berlanjut terhadap FPI dan mantan pengurusnya. Itulah, maka sejak awal FPI menyatakan bahwa pembunuhan terhadap 6 penduduk sipil yg mengawal HRS adalah operasi yang sistematis dan merupakan bentuk pelanggaran HAM Berat. Karena jelas sekali para pemain orkestranya sahut sahutan dan dengan menggunakan instrumen kekuasaan yang sedang dipegang.

Hanya orang yang ditutupi selimut kepentingan Dunia, yang tidak bisa melihat adanya operasi yang sistematis, terencana, meluas dan brutal serta bengis terhadap mantan FPI dan para aktivisnya.

Contoh kongkrit, selain pembunuhan berencana oleh pemegang Command Responsibility ini adalah berbagai operasi lanjutan seperti pemblokiran rekening, operasi media untuk cipta kondisi mencari legitimasi dan operasi Survaillance (penguntitan) yang terus berlanjut terhadap para mantan aktivis FPI. Bahkan issue domestik rumah tangga juga akan dieksploitasi menjadi gosip masyarakat layaknya Dunia hiburan entertaiment.

Sedangkan rumah beberapa mantan aktivis FPI dan pengurusnya, saat ini sedang dimonitor 24 jam. Bahkan Satpam perumahan direkrut dengan dibawah tekanan untuk melaporkan aktivitas mantan pengurus FPI yang dijadikan target tersebut.

Rakyat ternyata sudah tahu, siapa saja komplotan para pembunuh sadis tersebut. Saat ini mereka sedang menggunakan issue terorisme kepada FPI untuk mengesahkan tindakan pembunuhan berikutnya terhadap para mantan aktivis FPI, paling tidak memenjarakan dengan issue terorisme yang dibangun dengan memanfaatkan berbagai cerita anak wayang.

Waspadalah, komplotan pembunuh terus bergentayangan mencari mangsa !

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos