728 x 90

Perankingan Kampus Memacu Kesombongan

Perankingan Kampus Memacu Kesombongan

Oleh : Daniel Mohammad Rosyid (Guru Besar ITS Surabaya) Globalisasi pada dasarnya adalah _proxy war_ dari _neocortex war_ Barat atas _the rest of the world_ untuk mempertahankan dominasinya. Salah satu amunisinya adalah standardisasi. Satu strategi penggunaan amunisi ini dalam rangka menghancurkan musuh adalah perankingan, terutama kampus. Sayang sekali banyak kampus ternama kita justru bersedia dengan

Oleh :

Daniel Mohammad Rosyid

(Guru Besar ITS Surabaya)

Globalisasi pada dasarnya adalah _proxy war_ dari _neocortex war_ Barat atas _the rest of the world_ untuk mempertahankan dominasinya. Salah satu amunisinya adalah standardisasi. Satu strategi penggunaan amunisi ini dalam rangka menghancurkan musuh adalah perankingan, terutama kampus. Sayang sekali banyak kampus ternama kita justru bersedia dengan sukacita menjadi korbannya.

Baru-baru ini tersiar luas 10 kampus terbaik di AS yang sekaligus menjadi tujuan para pesohor. Dari Harvard sampai Princeton. Dari Stanford sampai MIT. _Ivy league_. Terbukti lagi bahwa kampus, juga sekolah-sekolah favorit, adalah tempat terbaik untuk menyombongkan diri. Padahal banyak kampus seperti itu bukan tempat terbaik untuk belajar.

Memang rasa percaya diri terbukti unsur sukses yang penting. Kesombongan mungkin elemen penting dalam rasa percaya diri itu. Tapi sombong adalah karakter yang buruk. Perankingan adalah instrumen untuk memacu kesombongan, namun sekaligus kerendahdirian. Sayang sekali yang terakhir lebih banyak menjangkiti kampus-kampus kita. Kapan ITB bisa mendekati MIT ? UI mendekati Harvard ?

Berita terakhir soal ikatan alumni ITB yang menyesalkan mengapa ranking internasional ITB turun terus padahal masih menjadi kampus terbaik di negeri ini. Hemat saya, ini bukan soal kesejahteraan dosen dan anggaran penelitian yang terbatas, tapi lebih soal disorientasi pendidikan nasional kita : terlalu terobsesi dengan mutu (standard internasional) lalu menelantarkan relevansi. Untuk mandiri, pendidikan harus lebih mementingkan relevansi agar bermakna bagi peserta didik dan mahasiswa sehingga menghasilkan warga negara yang bertanggungjawab, sehat dan produktif.

Pertanyaannya bukan berapa rankingmu, tapi apa yang terbaik yang sudah kau lakukan bagi bangsamu sendiri ?

(Rosyid College of Arts, Gunung Anyar, Surabaya, 13/2/2021)

Redaktur: Abdul Halim

Penulis
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos