Risiko menikahi laki-laki – Dewasa ini, banyak perempuan yang sudah memiliki penghasilan sendiri. Kondisi tersebut, menjadi salah satu alasan perempuan bersedia menikah dengan laki-laki yang tidak bekerja, meskipun jumlahnya tentu tidak mayoritas.
Namun demikian, ada sejumlah risiko menikahi laki-laki yang tidak bekerja. Meskipun, sudah ada pembagian peran antara suami dan istri dalam rumah tangga.
Lantas, apa saja risiko menikahi laki-laki yang tidak bekerja? Simak pandangan dari para psikolog berikut ini.
Risiko menikahi laki-laki yang tidak bekerja
1. Beban tidak seimbang
Risiko pertama adalah beban yang tidak seimbang antara suami dan istri dalam rumah tangga. Ironisnya, faktor ini merupakan akar dari semua permasalahan dalam biduk rumah tangga.
Psikolog Dr. Pingkan C. B. Rumondor, M.Psi mengatakan, peran gender di Indonesia masih cenderung tradisional. Dalam arti. lanjutnya, tegas suami adalah mencari nafkah, sedangkan istri adalah ibu rumah tangga.
Maka, jika dalam rumah tangga hanya istri yang bekerja, seringkali istri akan memiliki beban ganda. Selain mencari nafkah, seorang istri masih harus menanggung kewajibannya sebagai ibu rumah tangga, sesuai dengan peran gendeer yang masih cenderung tradisional.
“Jadi, istri mencari nafkah dan tetap di harapkan melakukan tugas rumah tangga,” ujarnya saat kami konfirmasi.
Di hubungi terpisah, Psikolog Klinis Forensik, Dra.A. Kasandra Putranto, menyampaikan pendapat serupa. Kasandra mengatakan, beban kerja tidak seimbang menjadi salah satu risiko utama menikahi laki-laki yang tidak bekerja.
Terlebih, jika suami juga enggan bertanggung jawab terhadap pekerjaan rumah tangga.
“Jika seorang perempuan bekerja mencari nafkah, dan tetap harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga tanpa bantuan suaminya, ini dapat menyebabkan beban kerja yang berlebihan bagi perempuan tersebut,” tuturnya kepada tim kami.
2. Memicu konflik
Menikah laki-laki yang tidak bekerja, juga bisa memicu konflik, menurut pandangan dua psikolog tersebut. Mulai dari konflik finansial hingga konflik dengan keluarga besar.
Pingkan menuturkan, meskipun tidak bekerja beberapa laki-laki tetap merasa dominan di rumah tangga, termasuk dalam pengambilan keputusan pembelian barang. Sementara di satu sisi, istri merasa bahwa suami tidak berkontribusi secara finansial.
“Kondisi ini dapat memicu konflik, karena istri merasa suami tidak berkontribusi secara finansial, istri dapat saja mengabaikan pendapat suami, sehingga terjadi konflik di antara mereka,” tutur Pingkan.
Konflik juga bisa terjadi dengan keluarga besar. Misalnya, keluarga besar dari pihak istri yang menginginkan menantunya bekerja.
Baca juga: Menurunkan Berat Badan dengan Metode 2-2-2, Apakah Efektif?
3. Ketegangan dalam hubungan
Selain konflik, ketidakmampuan suami dalam memberikan kontribusi finansial, juga dapat menyebabkan ketegangan hubungan pasangan.
“Hal ini dapat mempengaruhi kepercayaan, harga diri, dan martabat perempuan, serta mengganggu keseimbangan kekuasaan dalam rumah tangga,” tutur Kasandra.
4. Masalah finansial
Risiko yang tidak terelakkan selanjutnya dalam masalah finansial. Kasandra mengatakan, suami yang tidak bekerja dapat menyebabkan ketidakseimbangan keuangan dalam rumah tangga. Rumah tangga tersebut sangat bergantung pada sumber pendapatan perempuan.
“Perempuan mungkin harus menangggung semua biaya hidup dan kebutuhan keluarga, yang dapat menimbulkan tekanan finansial,” tuturnya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, juga bisa menyebabkan perempuan merasa terbebbani secara finansial dan mengurangi fleksibilitas keuangan dalam rumah tangga.
5. KDRT dan selingkuh
Secara naluri, Pingkan menuturkan, laki-laki tetap mempertahankan sisi maskulinitas di hadapan perempuan, dalam keadaan apapun. Naluri tersebut, di tambah dengan tekanan psikologis, membuat suami rentan bertindak kasar terhadap istri, hingga melakukan kekerasan baik verbal maupun fisik.
Adapula suami yang melampiaskannya dengan mencari perempuan lain alias berselingkuh.
“Beberapa laki-laki yang tidak bekerja dan bergantung secara finansial pada istri berusaha mempertahankan maskulinitas mereka dengan melakukan kekerasan verbal, fisik, ataupun berselingkuh,” ujar Pingkan
6. Perceraian
Puncak dari semua permasalahan tersebut adalah meningkatkan risiko perceraian, menurut Kasandra. Karenana, pasangan yang berada dalam posisi tersebut harus segera mencari solusi agar tidak timbul beragam permasalahan.
“Beban kerja yang tidak seimbang, ketegangan dalam hubungan, dan ketidakseimbangan keuangan dapat meningkatkan risiko perceraian dalam rumah tangga,” jelas Kasandra.